Weekend Birding Perdana di Bandung Bertemu dengan Burung Endemis Jawa

30 Mei, 2026

Mendengar kata Bandung, yang terlintas di benak banyak orang biasanya tidak jauh dari identitas Bumi Pasundan, Persib, atau kisah Dilan dan Milea. Tak terlalu jauh dengan Jakarta sebagai wilayah metropolitan, Bandung menjadi pusat aktivitas warga Jawa Barat sekaligus ruang bertemunya berbagai komunitas dengan minat yang beragam. Di pusat kota, jejak sejarah masih dapat ditemukan melalui bangunan ikonik seperti Gedung Sate hingga Museum Konferensi Asia Afrika yang menjadi saksi peristiwa penting dunia.

Namun, Bandung bukan hanya tentang hiruk pikuk perkotaan, kuliner, atau sejarah. Di balik padatnya aktivitas kota, masih terdapat ruang-ruang hijau yang menjadi tempat hidup berbagai spesies satwa liar, termasuk burung. Keberadaan ruang hijau ini menjadi pengingat bahwa alam dan kota masih dapat berjalan berdampingan.

Salah satu ruang hijau tersebut berada di kawasan Dago, yaitu Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Kawasan ini menjadi tujuan favorit warga Bandung dan sekitarnya untuk berolahraga, berjalan santai, hingga menikmati suasana alam. Jalur-jalur di Tahura membawa pengunjung menuju beberapa curug serta situs bersejarah seperti Goa Belanda dan Goa Jepang yang masih berdiri hingga saat ini.

Di balik fungsi wisatanya, Tahura Ir. H. Djuanda juga menyimpan kekayaan hayati yang menarik perhatian para pengamat burung. Pepohonan tinggi, aliran air, dan vegetasi yang masih cukup rapat menjadikan kawasan ini rumah bagi puluhan spesies burung yang hidup berdampingan dengan berbagai satwa lainnya.

Peserta Weekend Birding di Tahura Bandung (Foto: Burung Indonesia).

Pada Sabtu pagi, 23 Mei 2026, suasana Tahura mulai ramai sejak pukul 07.00 WIB. Peserta Weekend Birding satu per satu berdatangan ke titik kumpul. Kegiatan ini menjadi Weekend Birding pertama yang diselenggarakan oleh Burung Indonesia di Bandung. Pesertanya datang dari berbagai latar belakang dan kelompok usia, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum yang penasaran ingin mengenal burung lebih dekat.

Peserta dibagi dua kelompok, yaitu kelompok pertama dipandu oleh Muhammad Ali dan staff Tahura Dicki Eko Muharoh dan kelompok kedua dipandu oleh Hammas Zia. Binokular sudah tergantung di leher, kamera disiapkan, dan buku panduan lapangan (field guide) digenggam erat oleh peserta. Pagi itu, setiap suara dan gerakan di antara pepohonan memunculkan rasa penasaran akan burung apa yang akan muncul berikutnya.

Tidak jauh dari titik kumpul, peserta langsung disambut oleh kemunculan cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Burung berwarna mencolok ini terlihat bertengger di area tebing yang berdekatan dengan sumber air. Habitat tersebut memang sesuai bagi cekakak jawa yang kerap ditemukan di sekitar sungai, rawa, atau kawasan berhutan dengan akses air yang cukup.

Cekakak jawa merupakan burung endemis Pulau Jawa dan Bali. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), cekakak jawa berstatus Risiko Rendah (Least Concern). Makanannya terdiri dari serangga dan hewan-hewan kecil, meskipun sesekali mereka juga memangsa ikan, udang, atau katak. Pengamatan pagi itu kian menarik ketika peserta menemukan spesies yang sebelumnya belum pernah tercatat di kawasan Tahura Bandung, yaitu cica-daun jawa (Chloropsis cochinchinensis). Burung endemis Jawa tersebut berstatus Genting (Endangered) menurut IUCN. Temuan ini menjadi catatan penting karena menambah daftar spesies burung yang pernah teridentifikasi di Tahura Bandung.

Cica-daun jawa umumnya terlihat berpasangan atau bergabung dalam kelompok campuran bersama spesies lain. Warna hijaunya yang menyatu dengan dedaunan membuat burung ini cukup sulit ditemukan jika tidak memperhatikan gerakan di tajuk pohon dengan saksama. Kehadirannya di Tahura menjadi sinyal bahwa kawasan ini masih memiliki habitat yang mendukung bagi spesies endemis yang rentan terhadap kehilangan habitat.

Srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus) (Foto: Hammas Zia).

Selain dua spesies tersebut, peserta juga menjumpai berbagai spesies burung lain seperti srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus) sepah hutan (Pericrocotus flammeus), cabai bunga-api (Dicaeum trigonostigma), cinenen jawa (Orthotomus sepium), hingga kapinis rumah (Apus nipalensis) yang sesekali melintas cepat di udara. Setiap temuan memunculkan antusiasme baru di antara peserta, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengikuti kegiatan pengamatan burung.

Setelah sesi pengamatan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi santai. Dalam sesi tersebut, peserta saling berbagi pengalaman pengamatan, mendiskusikan spesies yang ditemukan, hingga bertanya mengenai perilaku burung dan pentingnya menjaga habitat alami di kawasan perkotaan. Suasana diskusi berlangsung hangat dan menjadi ruang belajar bersama bagi peserta yang baru mengenal dunia pengamatan burung maupun yang sudah lama menekuninya. 

Melalui kegiatan seperti Weekend Birding, peserta tidak hanya diajak mengenal nama-nama burung, tetapi juga memahami bahwa ruang hijau di tengah kota memiliki peran penting bagi keberlangsungan satwa liar. Di tengah perkembangan kota yang terus berjalan, kawasan seperti Tahura Ir. H. Djuanda menjadi pengingat bahwa Bandung masih menyimpan kehidupan liar yang patut dijaga bersama.

Peserta Weekend Birding di Tahura Birding (Foto: Burung Indonesia).