Program bulanan Burung Indonesia yang bernama Weekend Birding kembali digelar pada Sabtu (22/8/2025) di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Pada bulan ini, Burung Indonesia berkolaborasi bersama beberapa pihak, seperti Jakarta Birdwatcher’s Society, Asta Conservation, GAIA Indonesia, KSHL Comata UI, KPB Nycticorax UNJ, KPP Tarsius UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KSH Sahul Biologi UNAS, KPAR Leucomystax UNJ, KPB Nectanirina IPB, dan Jagat Satwa Nusantara TMII.
Berbeda dengan Weekend Birding sebelumnya, kali ini pengamatan burung (birdwatching) dilakukan pada pagi dan malam hari untuk pertama kali. Dengan kolaborasi ini, para peserta tidak hanya memahami dan mengenal burung urban, tetapi juga biodiversitas lain di Hutan Kota Srengseng.
Pada pagi hari, para peserta terbagi dalam tiga kelompok. Para fasilitator yang membahas tumbuhan, herpetofauna, dan burung mendampingi setiap kelompok. Setelah berkumpul di area parkir, peserta mulai menjelajahi hutan kota pada sekitar pukul 07.00 WIB. Suasana pagi yang teduh langsung disambut dengan kicauan burung, deretan pepohonan tinggi, serta berbagai hewan kecil yang menampakkan diri.
Di antara temuan pagi itu, peserta menjumpai beberapa jenis burung seperti cipoh kacat, merbah cerukcuk, hingga cucak kutilang yang kerap beterbangan di antara pepohonan. Dari sisi flora, terlihat deretan pohon beringin, flamboyan, ketapang, hingga pohon kupu-kupu yang mewarnai lanskap hutan kota. Peserta juga mendapati anakan pohon saga merah, anakan mahoni, hingga jati putih yang tumbuh di sela vegetasi lebih besar. Beberapa tanaman unik seperti umbi gadung, pohon siwalan, simparan, dan asosiasi mangrove juga tercatat dalam catatan lapangan.

Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz
Tak hanya burung dan tumbuhan, keberadaan hewan lain juga menambah semarak pengamatan. Seekor bajing sempat terlihat melompat di antara cabang pohon, sementara serangga seperti kupu-kupu Melanitis leda, Eurema, hingga Euploea berterbangan. Peserta juga mendapati jejak keberadaan berang-berang cakar kecil, menandakan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting bagi mamalia semi-akuatik tersebut.
Ragam temuan ini memperlihatkan betapa kayanya biodiversitas yang tersimpan di Hutan Kota Srengseng. Dari burung, tumbuhan, mamalia kecil, hingga serangga, semua hidup berdampingan membentuk ekosistem yang penting untuk dijaga.
Tidak berhenti sampai di situ, pada malam harinya peserta kembali berkumpul untuk melanjutkan pengamatan. Kali ini fokus kegiatan lebih banyak diarahkan pada herpetofauna. Sekitar 46 peserta, termasuk dua anak kecil, turut serta dalam jelajah malam di Hutan Kota Srengseng.
Suasana hening hanya dipecah oleh suara alam, salah satunya suara celepuk reban yang terdengar jelas meski tidak sempat terlihat. Peserta juga berkesempatan mengamati ulat-ulat dengan kemampuan bioluminesensi. Dengan bantuan senter UV, ulat tersebut tampak menyala di tengah kegelapan yang membuat pengalaman semakin istimewa.

Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz
Selain itu, ular air juga teramati dalam kegiatan malam tersebut. Fasilitator dari Jakarta Birdwatcher’s Society, Hammas, kembali mengingatkan peserta agar berhati-hati menggunakan cahaya. Khususnya saat bertemu burung, cahaya senter tidak boleh diarahkan terlalu lama karena burung sangat fotosensitif.
Kegiatan malam ini menambah dimensi baru bagi peserta Weekend Birding. Jika pada pagi hari mereka disuguhkan dengan keragaman burung, tumbuhan, dan mamalia kecil, maka di malam hari peserta bisa mengenal lebih jauh kehidupan satwa malam yang jarang terlihat. Hal ini mempertegas bahwa Hutan Kota Srengseng adalah habitat penting bagi beragam spesies yang hidup berdampingan.
Weekend Birding kali ini bukan hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga pengalaman belajar langsung dari alam. Temuan-temuan di Hutan Kota Srengseng memperlihatkan bahwa ruang hijau perkotaan menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa, mulai dari burung, tumbuhan, mamalia kecil, serangga, hingga satwa malam yang unik.
Melalui kegiatan ini, Burung Indonesia bersama para mitra ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga hutan kota berarti menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus kualitas hidup masyarakat. Hutan kota bukan sekadar paru-paru kota, melainkan juga ruang belajar, tempat berinteraksi dengan alam, dan rumah bagi berbagai makhluk hidup.
Semoga pengalaman yang diperoleh peserta dari pagi hingga malam hari dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian yang lebih besar terhadap alam. Sebab, melestarikan biodiversitas bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kita bersama.
