Salah satu penemuan terbesar manusia adalah plastik, zat yang membawa banyak manfaat bagi semua lini. Tanpa sadar, setiap hari manusia menyumbang banyak sampah plastik. Entah untuk sekadar membawa makanan atau hasil dari bungkus saset. Walaupun sangat berguna, plastik ternyata membawa malapetaka bagi keberlangsungan makhluk hidup. Bahannnya yang tahan lama membuat plastik sukar terurai. Hal ini membuat plastik kian menumpuk yang akhirnya menyebabkan polusi plastik, penimbunan produk plastik di lingkungan yang berdampak buruk terhadap satwa liar dan habitatnya, serta manusia.
Polusi plastik dapat mengenai tanah, saluran air, dan lautan. Hal ini secara langsung akan dirugikan oleh organisme yang hidup di sana. Dalam publikasi “Ocean Literary Portal” dari Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Budaya PBB (UNESCO), disebutkan, 80% dari seluruh polusi laut adalah sampah plastik. Jumlahnya pun tak kalah fantasis, sekitar delapan hingga 10 juta metrik ton plastik berakhir di lautan setiap tahunnya.
Bahkan, U.S. Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan pada dasarnya 100% dari semua plastik yang pernah dibuat manusia masih ada. Umumnya, plastik membutuhkan waktu antara 500-1.000 tahun untuk terurai. Karena radiasi matahari, angin, arus, dan faktor alam lainnya, plastik terurai menjadi partikel mikroplastik, ukurannya lebih kecil dari 5 mm dan nanoplastik lebih kecil dari 100 nm. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), mengungkapkan, partikel mikroplastik dilepaskan oleh produk-produk seperti tekstil sintetis dan ban melalui abrasi, sedangkan nanoplastik dapat menembus dinding membran sel dan masuk ke dalam organisme.
Timbunan sampah plastik dan pengelolaan limbah plastik yang tidak ramah lingkungan akan berdampak pada semua keberlangsungan makhluk hidup. Menurut laporan “Marine Debris: Understanding, Preventing and Mitigating the Significant Adverse Impacts on Marine and Coastal Biodiversity (2016)” oleh United Nations Environment Programme (UNEP), menemukan bahwa jumlah spesies yang terdampak oleh sampah laut telah meningkat dari 663 menjadi 817 sejak tahun 2012. Spesies-spesies, seperti ikan, burung laut, mamalia laut, dan reptil terdampak oleh sampah laut. Menurut laporan tersebut, 40 persen cetacea dan 44 persen spesies burung laut terdampak oleh konsumsi sampah laut. Dampak konsumsi sampah laut tidak selalu dipahami, karena banyak yang menelan mikroplastik.
Pada 2009, foto-foto burung albatros jepretan Chris Jordan viral di jagat maya. Peristiwa ini mengundang sejumlah peneliti untuk mengetahui perilaku burung-burung laut yang mengonsumsi plastik, seperti Jose Derraik asal Selandia Baru. Dalam artikel ilmiahnya yang dipublikasikan pada 2002, ia menemukan bukti bahwa sejumlah jenis burung laut memilih bentuk dan warna sampah plastik tertentu karena menganggap itu semua tak berbeda dengan santapannya di lautan. Burung-burung dapat salah mengira sampah plastik yang mengambang di permukaan adalah mangsanya.
Derriak menyebutkan individu burung laut dewasa dapat mengasupkan partikel-partikel plastik kepada anakan mereka saat memberikan makanan. Sekitar 98% anakan albatros laysan (Phoebastria immutabilis) dan petrel-raksasa selatan (Macronectes giganteus) tanpa sadar mengonsumsi berbagai partikel plastik seperti manik-manik, kancing, tali pancing, mainan plastik, kantong plastik, dan bermacam sampah lainnya yang berasal dari asupan makanan yang diberikan oleh induk mereka.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa 40% seluruh spesies burung laut saat ini telah mengonsumsi makanan mengandung plastik. Albatros, petrel, camar, pelikan, dara-laut, dan lainnya tengah menghadapi ancaman yang berbahaya. Unsur plastik yang terkonsumsi oleh burung-burung laut dapat melukai spesies-spesies tersebut, bahkan membunuh mereka.
Hampir seluruh polusi yang terjadi di lautan berasal dari aktivitas yang berlangsung di daratan. Sampah dan limbah, khususnya dari kawasan perkotaan mengalir ke laut menyebabkan pencemaran dan eutrofikasi, proses perkembangbiakan tumbuhan air dengan cepat karena memperoleh zat makanan yang berlimpah akibat pemupukan yang berlebihan pada kandungan air laut. Ada lima ekosistem laut besar yang paling terancam karena proses eutrofikasi, yaitu Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, Teluk Benggala, Teluk Meksiko, dan pesisir utara Brazil.
Sama seperti belahan dunia lain, Indonesia juga merupakan salah satu negara terdampak dari polusi sampah plastik di dunia. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang diterbitkan di situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menunjukkan, timbunan sampah di Indonesia pada 2023 sebesar 69,9 juta ton. Terbesarnya adalah sampah sisa makanan (41,60%) dan sampah plastik (18,71%).

Elang tiram membawa kantong plastik © John Haedo
Dari data tersebut, sampah plastik menjadi bahasan kompleks. Manusia menghadapi sampah plastik sebagai masalah dilematis. Satu sisi, plastik merupakan bahan kimia sintetis yang sulit terurai di alam. Hal ini dapat membahayakan manusia, hewan, dan ekosistem. Di sisi lain, sampah plastik juga menjadi masalah antroposentris. Dalam “Dogma Antroposentrisme Pemicu Krisis Lingkungan dalam Pandangan Ekoteologi Seyyed Hossein Nasr” oleh Siti Ulfiani, dkk (2023), disebutkan, pencemaran laut di Indonesia diakibatkan oleh adanya sikap manusia yang antroposentris. Hal ini didukung oleh pengelolaan sampah darat yang tidak efektif.
Plastik yang saat ini mudah diproduksi dikonsumsi secara berlebihan. Pada akhirnya penumpukan sampah plastik di lingkungan menjadi sangat tinggi. Plastik yang tidak terurai menumpuk di tempat pembuangan sampah, lautan, dan ekosistem daratan. Lebih bahayanya lagi, plastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik yang dapat masuk ke tubuh manusia, khususnya melalui makanan laut dan air.
Secara keseluruhan, masalah plastik bukan hanya pada zat atau bahan dari plastik, melainkan manusia yang belum sepenuhnya mengelola dan membuangnya dengan benar. Penggunaan plastik yang berlebihan tanpa sistem daur ulang yang efektif dan perubahan perilaku konsumen untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai adalah salah satu tantangan terbesar dalam mengurangi dampak buruk plastik terhadap lingkungan. Ellen MacArthur Foundation dalam World Economic Forum (2016), memperkirakan, jumlah sampah plastik pada 2050 akan lebih banyak dibandingkan ikan. Dengan semua ancaman ini, apakah masih ada harapan? Tentu masih ada. Ada beberapa cara untuk membantu melestarikan lingkungan.
- Kurangi penggunaan plastik
Karena terlalu banyak penggunaan plastik untuk kegiatan sehari-hari, kita bisa mulai menguranginya, seperti menggunakan tas belanja sendiri, membawa botol isi ulang, tidak menggunakan sedotan plastik, atau mengurangi belanja secara luring.
- Buang sampah pada tempatnya dan membantu membersihkan sampah
Hal sederhana lain yang bisa kita lakukan adalah membuang sampah pada tempatnya. Dengan cara ini, kita dapat membantu pengelolaan sampah yang baik. Selain itu, kita bisa menjadi sukarelawan yang menyingkarkan sampah plastik dari saluran air dan mencegahnya sampai ke laut. Ada banyak organisasi yang bisa kita ikuti dan dapat dilakukan pada akhir pekan.
- Mendukung regulasi yang tepat
Perilaku dan kebiasaan yang kita ubah tidak cukup untuk menghentikan polusi plastik di laut. Penting bagi kita untuk mendukung undang-undang yang bertujuan mengurangi penggunaan dan produksi plastik, meningkatkan fasilitas daur ulang, dan mengelola sampah dengan lebih baik secara umum.
- Mendukung penelitian dan organisasi
Salah satu senjata yang dapat digunakan untuk menghentikan polusi laut adalah penelitian. Dengan memperdalam pengetahuan kita tentang dampak masalah ini, kita dapat mulai menerapkan kebijakan yang lebih baik untuk semua.
Ayo, bersama-sama melakukan perubahan untuk masa depan kita semua. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!
