Tangan Tekun Perempuan Penjaga Pangan​ di Sangihe

21 April, 2026

Ketahanan pangan nyatanya tidak selalu lahir dari kebijakan besar atau teknologi mahal. Ketahanan pangan justru dapat lahir dan tumbuh dari kebun-kebun kecil, dari tangan-tangan tekun perempuan yang setiap hari menggemburkan tanah, memilih benih, dan memanen hasil untuk mengasapkan dapur keluarga.

Di tengah keterbatasan sumber daya dan perubahan lingkungan, perempuan di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, tanpa disadari telah memainkan peran dalam senyap sebagai penjaga utama pangan, tradisi, sekaligus masa depan keluarga mereka. Peran-peran ini–walau tak selalu nampak–tapi dampaknya begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tercermin pada para puan di Kampung Menggawa II, Kecamatan Tamako. Dalam senyap, mereka terus bekerja merawat kebun, menjaga sumber pangan keluarga, dan memastikan pengetahuan serta praktik lokal tetap hidup dan diwariskan.

Dalam keseharian, perempuan Menggawa II mengelola kebun sebagai sumber utama pangan dan pendapatan. Mereka terlibat sejak awal persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen dan penyortiran hasil. Tanaman yang mereka usahakan beragam mulai dari umbi-umbian, sayur-mayur, jagung serta buah lokal seperti pepaya, labu, nanas, dan pisang. Tanaman tersebut sebagian besar ditujukan untuk menjadi penyangga pangan keluarga. Namun, jika ada kelebihan dari hasil kebun, maka akan dijual di pasar lokal sebagai sumber pendapatan harian.

Penampakan perempuan Menggawa II (Foto: Burung Indonesia/William Christian Tutuarima).

Dalam praktiknya, perempuan Menggawa II tidak hanya menjadi tenaga kerja di kebun, tetapi juga menjadi pengambil keputusan dalam pengelolaan pangan keluarga. Mereka menentukan tanaman apa yang harus diprioritaskan untuk dikonsumsi dan kapan waktu yang tepat untuk menyimpan hasil panen sebagai cadangan. Keputusan-keputusan ini diambil berdasarkan pengalaman menghadapi perubahan musim, ketersediaan pangan di rumah, serta kebutuhan ekonomi keluarga. 

Pada situasi tertentu, mereka juga memilih menunda penjualan hasil kebun demi memastikan dapur tetap berasap, terutama saat cuaca buruk. Dengan demikian, kebun menjadi ruang di mana perempuan tidak hanya bekerja, tetapi juga merancang strategi bertahan hidup dengan keputusan yang bersifat ekonomi, ekologis, dan sosial.

Perempuan Menggawa II menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat melalui strategi bertani berbasis sumber daya lokal. Keterbatasan modal dan perubahan musim yang tidak menentu menjadi tantangan khususnya akses terhadap pupuk pabrikan dan sarana produksi pertanian modern yang terbatas. Namun, tantangan tersebut mereka mampu antisipasi.

Mereka menanam tanaman yang tidak memerlukan perawatan intensif, seperti gedi, luhu, labu, singkong, dan pepaya. Selain itu, sayuran liar yang tumbuh alami di kebun atau sekitar hutan seperti daun melinjo (sakedeh) dan pakis (sayur paku) juga dimanfaatkan untuk konsumsi dan dijual di pasar. Sayuran ini memiliki permintaan yang stabil, dengan harga berkisar Rp5.000–Rp6.000 per ikat, sementara pepaya dijual seharga Rp10.000–Rp15.000 per buah.

Pendapatan dari hasil kebun digunakan guna memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, membeli ikan, sayur tambahan, atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Luar biasanya, mereka juga mampu menyisihkan sebagian kecil untuk membeli pupuk atau pakan ternak dalam skala eceran. Dengan cara ini, perempuan menjaga agar dapur tetap berasap, meski dalam kondisi serba terbatas.

Merawat Tradisi, Menjaga Alam

Di balik praktik bertani sehari-hari, perempuan juga menjadi penjaga kearifan lokal. Salah satu praktik yang masih dipertahankan adalah bawentah, ritual penyuburan tanah sebelum menanam. Ritual ini dilakukan dengan membakar ranting dan rumput kering, lalu menanam tanaman penanda kesuburan seperti jahe (goraka) dan mayana merah (tetate), serta meletakkan pecahan kendi sebagai simbol kehidupan baru.

Penampakan perempuan Menggawa II (Foto: Burung Indonesia/William Christian Tutuarima).

Sebagian perempuan juga memanfaatkan pupuk alami dari rebusan kulit biji nangka yang ditaburkan di sekitar tanaman. Dalam pengaturan kebun, tanaman singkong dan nanas ditanam sebagai pagar hidup yang melindungi tanaman utama seperti ubi jalar. Waktu tanam pun kadang ditentukan berdasarkan perhitungan posisi bulan (tumatingan bulang su langi), mencerminkan pengetahuan ekologi lokal yang diwariskan turun-temurun.

Praktik mapalus atau gotong royong masih hidup dalam kegiatan pertanian, terutama saat membuka lahan dan panen. Dalam kelompok ini, perempuan saling berbagi tenaga, bibit, dan hasil panen. Sebagian hasil dijual, sebagian lainnya dibagikan sebagai bentuk solidaritas. Pola ini tidak hanya memperkuat jaringan sosial, tetapi juga menjaga ketersediaan dan keberlangsungan benih lokal. Hal menarik lainnya, pada musim panen cengkih dan pala, perempuan juga terlibat aktif memanjat pohon untuk memetik hasil. Meski pekerjaan ini kerap dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, perempuan Menggawa II menunjukkan keberanian untuk menantang batasan sosial demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Ternak, Dagang, dan Uang Kiriman

Selain bertani, perempuan  Menggawa II memelihara ternak seperti ayam dan bebek kampung yang mereka fungsikan sebagai “tabungan hidup”. Ternak ini dapat dijual sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan mendesak, terutama biaya pendidikan anak dan pengobatan. Perdagangan kecil dan usaha rumah tangga juga menjadi strategi penting. Mereka menjual hasil kebun dan ternak, membuat jajanan lokal, hingga mengelola kios kecil di kampung. Aktivitas ini meningkat pada musim panen dan menjelang akhir tahun. Ketika banyak laki-laki bekerja di luar kampung, mereka akan menjadi pengelola utama keuangan rumah tangga, termasuk mengatur uang kiriman untuk pendidikan, konsumsi, perbaikan rumah, dan modal usaha kecil.

Di balik peran besar yang mereka jalani, perempuan Menggawa II masih bergerak di tengah jalan belukar. Mereka menghadapi tantangan nyata: keterbatasan akses teknologi pertanian, dampak perubahan iklim yang tak menentu, hingga beban ganda dalam mengurus rumah tangga sekaligus menjadi tulang punggung pangan.

Meski begitu, tantangan ini tidak menyurutkan langkah mereka. Harapan mereka sederhana namun bermakna, yaitu adanya dukungan untuk memperkuat usaha tani, akses jalan kebun yang lebih baik, serta ruang bagi mereka untuk mendapat dan berbagi pengetahuan. Suara mereka adalah pengingat bahwa memperkuat perempuan berarti memperkuat pondasi untuk kelestarian alam dan ketangguhan generasi mendatang.

Selamat Hari Kartini!

Tulisan: William Christian Tutuarima, Community Facilitator