Sungai yang Mengalir di Hutan Harapan, Sumber Kehidupan bagi Warga Jambi dan Sumatera Selatan

29 September, 2025

Kawasan Hutan Harapan merupakan hutan dataran rendah di Sumatera yang membentang di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Hamparan hijau yang luas ini dilintasi oleh sejumlah sungai besar, yang tidak hanya menjadi jalur air, tetapi juga rumah bagi berbagai flora dan fauna. Empat sungai utama yang mengalir di kawasan ini adalah Sungai Lalan, Sungai Kandang, Sungai Batang Kapas, dan Sungai Meranti.

Hutan Harapan merupakan kawasan hutan produksi pertama di Indonesia yang dikelola dengan tujuan restorasi ekosistem (RE). Bagi masyarakat setempat, hutan ini berperan sebagai sumber kehidupan sekaligus areal resapan air (water catchment area), yang menjaga ketersediaan air bersih dan keseimbangan lingkungan. Selain itu, setiap sungai memiliki peran khusus sesuai kondisi dan pemanfaatannya oleh warga.

Anakan Sungai Kandang, misalnya, dimanfaatkan masyarakat setempat untuk memancing dan menangkap ikan secara tradisional. Sementara Sungai Batang Kapas digunakan sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Ada sekitar 15 kepala keluarga tinggal di dekat sungai ini dan pergi ke hilir menggunakan sampan atau getek untuk mencari makanan atau melakukan aktivitas ekonomi lainnya.

Getek dan sampan juga kami gunakan untuk patroli dan monitoring hutan. Selain itu, sungai menjadi kawasan menarik untuk wisata alam,” kata Kepala Departemen Riset dan Konservasi, Rohmat Eko Santoso.

Sungai tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga bagi satwa. Air sungai menjadi sumber minum sekaligus habitat bagi berbagai biota air, sementara alirannya menjadi jalur pergerakan dan tempat berkembang biak bagi banyak spesies. Beberapa spesies burung air dan mamalia juga memanfaatkan sungai sebagai sumber pangan dan area hidup, sehingga menjaga sungai sama artinya dengan menjaga keseimbangan ekosistem Hutan Harapan.

Sungai di areal Hutan Harapan (Foto: Hutan Harapan)

Namun, keberadaan sungai-sungai ini tengah menghadapi sejumlah ancaman. Bagian kanan dan kiri Sungai Kandang dan Lalan kini mayoritas ditumbuhi perkebunan sawit. Menurut Eko, erosi dan longsor akibat hujan di lahan sawit dapat terbawa ke sungai, mengganggu kualitas air, dan merusak habitat biota air. Di Sungai Batang Kapas dan Meranti, ancaman berbeda muncul dari aktivitas pembalakan liar. Para pembalak menebang pohon dan menumpuk kayu di pinggir sungai saat musim kemarau. Ketika musim hujan tiba, kayu-kayu tersebut terbawa arus sungai, mengganggu aliran dan ekosistem perairan.

Untuk menghadapi ancaman tersebut, masyarakat lokal dilibatkan dalam upaya konservasi sungai. Program ini melibatkan Suku Anak Dalam Bathin IX dan masyarakat Melayu setempat. Edukasi konservasi rutin digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk pengelola kebun sawit, tentang pentingnya menjaga kualitas dan kuantitas air. 

“Kami menekankan bahwa perkebunan sawit dapat mengurangi fungsi sungai karena tingkat serapan air yang tinggi. Edukasi ini diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Eko.

Selain edukasi, Hutan Harapan membangun persemaian sementara dekat sungai agar warga dapat memanfaatkan aliran sungai untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Inisiatif ini sekaligus membantu masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Hasil pengelolaan dan konservasi ini membuahkan hasil positif. Uji ilmiah terkait kualitas air sungai menunjukkan nilai yang masih di bawah baku mutu, menandakan fungsi hidrologis Hutan Harapan tetap terjaga. Dengan kolaborasi antara masyarakat dan pengelola hutan, sungai-sungai di Hutan Harapan terus berperan sebagai sumber kehidupan, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem kawasan.

Sungai di areal Hutan Harapan (Foto: Hutan Harapan)