Disadari atau tidak, kita sangat bergantung pada keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan, obat-obatan, air dan udara bersih, pengendalian iklim serta budaya. Namun, saat ini keanekaragaman hayati tengah menghadapi ancaman yang serius. Hilangnya habitat, polusi, perubahan iklim, spesies invasif hingga eksploitasi berlebih sedang terjadi. Ancaman ini dari tahun ke tahun kian bertambah sehingga diperlukan pengingat, seperti Hari Keanekaragaman Hayati Internasional.
Bagi Indonesia, ceritanya pun sama. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Indonesia memiliki kawasan hutan yang luas, terumbu karang yang ada di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle, dan memiliki banyak spesies satwa dan tumbuhan endemis.
Untuk burung saja, Indonesia memiliki 1.834 spesies burung, 538 di antaranya endemis, yang hanya ada di Indonesia. Selain itu, ada 81 spesies burung Indonesia yang terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable), 49 berstatus Genting (Endangered) dan 29 berstatus Kritis (Critically Endangered). Oleh karena itu, ada begitu banyak alasan untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional dapat menjadi pijakan untuk memulai kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati.
Tema peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun ini adalah “Acting locally for global impact” atau “Bertindak secara lokal untuk dapat memberikan dampak global.” Ini berarti upaya-upaya konservasi yang dilakukan ada di tingkat lokal, dilakukan oleh individu, komunitas, pemerintah daerah, atau masyarakat adat yang dapat memberikan dampak secara global.

Raja-udang meninting (Alcedo meninting) (Foto: Burung Indonesia/Angga Yoga)
Ada beragam kegiatan sederhana yang dapat dilakukan, seperti pemilahan sampah untuk mengurangi polusi, menghemat pemakaian energi, dan sains warga (citizen science) dengan mendata hewan serta tumbuhan apa yang ada di sekitar rumah. Selain itu, dapat juga dilakukan kegiatan dalam lingkup lebih besar, seperti edukasi untuk masyarakat luas tentang pentingnya keanekaragaman hayati, melakukan restorasi habitat (penghijauan atau penanaman mangrove), atau upaya langsung untuk melindungi spesies penting.
Pada akhirnya, menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, tetapi tanggung jawab bersama. Langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menentukan nasib Bumi di masa depan. Ketika satu spesies hilang atau satu ekosistem rusak, maka keseimbangan kehidupan ikut terganggu. Sebaliknya, ketika masyarakat mulai peduli dan terlibat dalam aksi-aksi sederhana, maka harapan untuk menjaga alam tetap terbuka. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional menjadi pengingat bahwa menjaga keberagaman kehidupan berarti menjaga masa depan manusia itu sendiri.
Hari Keanekaragaman Hayati pertama kali diperingati pada 29 Desember 1993, bertepatan dengan mulai berlakunya Convention on Biological Diversity (CBD), sebuah perjanjian global yang berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, sejak tahun 2000, peringatannya dipindahkan menjadi setiap 22 Mei untuk mengenang diadopsinya teks Konvensi Keanekaragaman Hayati di Nairobi, Kenya, pada 22 Mei 1992. Hingga kini, peringatan tersebut terus menjadi pengingat bagi masyarakat dunia akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, mulai dari tingkat gen, spesies, hingga ekosistem, sekaligus mendorong berbagai upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Naskah oleh Rudyanto
