Refleksi Akhir Program Perikanan Skala Kecil Berkelanjutan di Banggai Kepulauan

30 April, 2026

Burung Indonesia menyelenggarakan lokakarya akhir (final workshop) Diseminasi dan Refleksi Capaian Proyek Perikanan Berkelanjutan serta Tata Kelola Kawasan Konservasi Persisir dan Pulau-Pulau Kecil/KKP3K Dalaka di Hotel Santika, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada 23 April 2026. Lokakarya ini menyoroti refleksi keberhasilan dan tantangan yang terjadi serta diseminasi hasil pemantauan partisipatif di KKP3K Dalaka seluas ± 856.649 hektare. Melalui upaya ini, Burung Indonesia memfasilitasi pengawasan tingkat tapak dengan mengintegrasikan peran instansi pemerintah dan kelompok masyarakat melalui skema Pemantauan Layanan Alam (PLA) Pesisir.

Sejak dimulai pada tahun 2022, proyek ini telah mendampingi masyarakat di lima desa strategis yang secara administratif terletak di wilayah pesisir Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, yaitu Desa Tangkop, Okumel, Kinandal, Tomboniki, dan Mamulusan. Pada aspek regulasi, proyek ini juga menghasilkan lima peraturan desa (Perdes) yang diterapkan di masing-masing desa tersebut untuk memperkuat tata kelola perikanan di tingkat lokal, mencakup penguatan kelembagaan nelayan, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengaturan praktik penangkapan ikan yang lebih bertanggung jawab. Secara keseluruhan, capaian utama proyek meliputi perubahan perilaku masyarakat menuju praktik perikanan yang lebih berkelanjutan serta perbaikan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan. 

Foto: Burung Indonesia/Debby Dewanti Sihite

“Program perikanan berkelanjutan di Banggai Kepulauan telah mendorong 97,33% perubahan perilaku positif masyarakat dan meningkatkan praktik ramah lingkungan sebesar 66%. Inisiatif ini juga mewujudkan 60% kemandirian ekonomi perempuan nelayan serta memperkuat tata kelola enam kawasan konservasi. Meski terkendala akses pasar dan internet, capaian ini menjadi basis data penting bagi kebijakan daerah di masa depan,” ujar Wahyu Teguh Prawira,  Marine-Fisheries Specialist Burung Indonesia.

Lokakarya ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari tim PLA desa, kelompok nelayan, pemerintah desa, hingga instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Perikanan Kabupaten Banggai Kepulauan, Polairud Polres Banggai Kepulauan, dan UPTD Dalaka. Rangkaian lokakarya ini juga menghadirkan dua sesi diskusi panel yang menempatkan nelayan, pemerintah desa, serta perwakilan kelompok perempuan dampingan sebagai narasumber utama. Sesi ini menjadi ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman langsung mengenai transformasi, tantangan, serta dinamika sosial-ekonomi yang terjadi di desa masing-masing. Melalui diskusi tersebut, terungkap bahwa intervensi pendampingan dan perbaikan tata kelola telah memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kualitas penghidupan masyarakat.

Berawal dari peran sebagai ibu rumah tangga biasa, Nurfadilah yang merupakan Ketua Kelompok Kindal Molumbang dari Desa Kinandal, saat ini sudah berperan dalam membantu perekonomian keluarga. “Melalui program pemberdayaan perempuan yang difasilitasi Burung Indonesia, saya dan ibu-ibu kelompok lainnya sudah paham bagaimana cara mengolah sambal ikan asin dengan standar yang baik, menghitung untung rugi, hingga strategi pemasaran produk kami,” ujarnya.

Selain Nurfadilah, Aptrisno selaku nelayan dari Desa Mamulusan juga mengungkapkan perubahan setelah proyek ini berlangsung. ”Dulu ikan sangat sedikit dan hanya singgah mencari makan, ibaratnya seperti perantau, padahal itu habitat mereka ya, Namun, setelah kami tahu cara mengelola habitat dengan baik dan cara menangkap yang berkelanjutan akhirnya banyak ikan yang datang dan jarak memancing ikan jauh lebih dekat, sehingga bisa mengurangi biaya operasional kami,” tuturnya.

Foto: Burung Indonesia/Debby Dewanti Sihite

Pada hari yang sama, kegiatan juga dirangkaikan dengan Pameran Produk Perikanan yang menampilkan hasil olahan dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE) perempuan. Produk yang dipamerkan antara lain ikan asin filet, sambal ikan asin, kerupuk ikan, abon ikan, dan bakso ikan. Dalam pameran tersebut, ibu-ibu KUBE menjelaskan proses produksi, asal bahan baku, hingga nilai gizi produknya kepada pengunjung. Selain memperluas akses pasar, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya praktik berkelanjutan dalam rantai produksi perikanan. 

Rangkaian kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi tindak lanjut serta memperkuat komitmen bersama untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi perairan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Banggai Kepulauan dalam jangka panjang.Kegiatan ini menandai akhir pendanaan yang didukung oleh Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, yang diimplementasikan bersama NABU (anggota kemitraan BirdLife International) yang resmi berakhir pada 30 April 2026.

Foto: Burung Indonesia/Debby Dewanti Sihite