Pernahkah terlintas dalam benak bahwa pohon, ikan, dan burung merupakan tiga komponen yang berkontribusi dalam menjaga keseimbangan alam? Ketiganya saling berkaitan dan memberi kebaikan melalui perannya masing-masing, seperti dalam ekosistem pesisir–ketika air asin, pasir, dan tanah berpadu. Pesisir menjadi rumah bagi beragam spesies, mulai dari pohon mangrove yang kokoh, ikan-ikan, terumbu karang di laur, hingga burung air yang hinggap dan berkeluyuran.
Mangrove, bukan sekadar pohon biasa yang hidup di pesisir. Bagi masyarakat pesisir, mangrove menjadi pelindung mereka dari gelombang besar yang menghadang sekaligus menyerap emisi karbon lebih efektif dibandingkan hutan daratan karena tanahnya berlumpur dan minim oksigen, sehingga karbon dari daun dan akar tidak cepat terurai dan tersimpan sangat lama. Akar mangrove yang rapat juga menangkap sedimen kaya karbon dari laut dan sungai. Selain itu, mangrove tumbuh cepat sehingga menyerap lebih banyak karbon dioksida. Akhirnya, mangrove menjadi penyimpan karbon yang jauh lebih besar dibanding hutan daratan.
Akar mangrove sangat kuat, tumbuh kokoh dan menjulang di atas air. Di antara akarnya yang kekar, hiduplah berbagai macam jenis ikan. Bagi ikan-ikan kecil, akar mangrove yang rapat menjadi tempat persembunyian mereka dari predator. Di tempat ini pun, mereka tumbuh dan berkembang. Semakin sehat mangrove, semakin banyak ikan yang ada. Pada akhirnya, hal ini juga bermanfaat bagi manusia.

Foto: Burung Indonesia
Menurut studi CIFOR-ICRAF di Indonesia, University of Kent di Inggris, dan Charles Darwin University di Australia yang bertajuk “Quantifying the contribution of mangroves to local fish consumption in Indonesia: a cross sectional spatial analysis,” mengungkapkan rumah tangga pesisir Indonesia yang tinggal dekat hutan mangrove dengan kepadatan sedang hingga tinggi mengonsumsi 19-28 persen lebih banyak ikan segar dibandingkan rumah tangga pesisir yang tidak tinggal dekat hutan mangrove.
Akar-akar mangrove juga berfungsi sebagai tempat pembibitan bagi ikan muda sekaligus menyediakan sumber makanan melalui serasah yang jatuh ke perairan. Dengan manfaat ini, mangrove membentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan ikan, sehingga mangrove yang sehat dapat menghasilkan populasi ikan yang lebih melimpah dan berkualitas.
Selain melindungi ikan, mangrove juga bermanfaat bagi burung. Akar, batang, dan dahan menjadi tempat tinggal dan bersarang, sedangkan daun yang lebat menyediakan tempat berteduh. Mangrove juga menjadi sumber pakan karena ada beragam jenis ikan, udang, dan moluska. Burung predator seperti kuntul dan bangau bergantung pada ikan-ikan kecil yang hidup di sekitar akar mangrove, sementara burung laut seperti camar dan dara laut mencari ikan di perairan terbuka. Jumlah dan keragaman burung menjadi indikator kesehatan rantai makanan di wilayah pesisir.
Saat musim migrasi tiba, mangrove menjadi sumber pakan bagi burung migran. Indonesia menjadi salah satu wilayah tempat beristirahat dan mencari pakan burung migran. Oleh karena itu, jika hutan mangrove rusak, burung migran tidak lagi dapat bersinggah. Mereka kehilangan tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan jauhnya.
Lantas, bagaimana dengan korelasi antara burung dan ikan selain predator dan mangsa? Ada hal menarik yang ternyata tanpa disadari bahwa burung juga berperan dalam keberlangsungan ikan melalui perbaikan alami terumbu karang.
Berdasarkan studi berjudul “Seabirds boost coral reef resilience” yang diterbitkan dalam jurnal science.org, menjelaskan bahwa kotoran burung dapat memulihkan terumbu karang. Disebutkan, terumbu karang yang dihuni oleh banyak burung laut dapat mempercepat pemulihan terumbu karang dan meningkatkan laju pertumbuhan terumbu karang dibandingkan yang tidak dihuni burung laut.
Kemampuan ini berasal dari kandungan dalam kotoran burung laut. Menurut penelitian yang berlangsung dari tahun 2018 hingga 2021, kotoran burung laut mempunyai kandungan nitrogen dan fosfor yang sangat dibutuhkan oleh terumbu karang. Kotoran yang jatuh ke laut dan hinggap di terumbu karang akan memberikan nutrisi seperti pupuk. Kedua kandungan ini dapat menyuburkan tanah, air, dan terumbu karang. Oleh karena itu, populasi burung laut sangat penting untuk pelestarian terumbu karang yang menjadi rumah bagi para ikan.

Desa Bungin (Foto: KOMIU)
Sayangnya, ekosistem mangrove dan perikanan nelayan kecil saat ini menghadapi berbagai ancaman. Konversi lahan menjadi tambak atau permukiman, reklamasi pesisir, penebangan mangrove, dan pencemaran dari darat mengurangi luas mangrove. Kasus di Desa Ambelang, Sulawesi Tengah, menunjukkan dampak nyata, yaitu eksploitasi kepiting bakau dan penebangan mangrove membuat nelayan harus menempuh perjalanan lebih jauh dengan biaya lebih besar untuk mencari sumber pangan. Tekanan tambahan datang dari kapal besar, limbah industri, dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, membuat nelayan skala kecil semakin rentan kehilangan mata pencaharian.
Kasus ini menjadi contoh bahwa ekosistem mangrove dan kehidupan nelayan skala kecil saling terhubung erat. Konversi mangrove menjadi tambak, permukiman, dan proyek reklamasi membuat benteng pesisir ini terus menyusut. Pencemaran dan sedimen dari darat semakin memperparah kerusakan. Tanpa mangrove, habitat ikan hilang, sehingga hasil tangkap nelayan kecil menurun.
Di saat yang sama, tekanan lain seperti kapal besar yang masuk ke wilayah tangkap tradisional, limbah industri, hingga cuaca ekstrem akibat perubahan iklim membuat nelayan skala kecil makin rentan. Mereka kehilangan ruang tangkap, kehilangan perlindungan alam, dan kehilangan sumber penghidupan.

Foto: Burung Indonesia
Pada akhirnya, kita tahu bahwa seperti jarum dan benang, keberadaan pohon, ikan, dan burung saling memberikan manfaat bagi alam dan kemaslahatan manusia. Dengan menjaga dan melestarikan ketiganya, kita memastikan keseimbangan ekosistem, baik di daratan, perairan, maupun wilayah pesisir untuk generasi kini dan mendatang.
Selamat Hari Perikanan dan Pohon Sedunia.
