Perempuan dalam Konservasi: Bersuara Tanpa Takut di Dunia yang Didominasi Laki-laki

14 Mei, 2025

Kerap kali ditemukan bahwa pekerja laki-laki mendominasi dunia konservasi praktis. Padahal peran perempuan dalam bidang konservasi sangat penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati dan upaya menahan laju krisis iklim. Dalam menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan untuk masa depan Bumi, perlu keragaman pengalaman hingga latar belakang.

Oleh karena itu, BirdLife International merayakan deretan para perempuan yang didominasi  oleh BirdLife Partnership atas kepemimpinan, dedikasi, dan semangat mereka untuk melestarikan alam. Berikut kisah mereka dan suara mereka yang tertanam kuat dalam konservasi alam:

1.Knowledge and Program Development Manager, Burung Indonesia, Vincentia Widyasari

Vincentia Widyasari memfasilitasi diskusi dengan nelayan di Pulau Peling

Sejak kecil, Vincentia sudah akrab dengan alam. Dia tumbuh dengan koleksi bukunya tentang alam dan foto-foto perjalanan ayahnya yang bekerja sebagai jurnalis. Melalui itu, Vincentia kecil mulai prihatin dengan kondisi alam yang kritis dan mempertanyakan “Mengapa manusia merusak alam?.” Berangkat dari pertanyaan itu, Vincentia akhirnya terjun ke dalam pekerjaan di ranah konservasi. Namun, deretan tantangan mulai muncul. Di Indonesia, bidang konservasi masih dipandang sebagai pekerjaan laki-laki dan biasanya yg berkecimpung di sana berlatar belakang bidang ilmu pengetahuan alam.

Sebagai perempuan, Vincentia selalu percaya diri. Namun, saat berkarier di bidang konservasi, rasa percaya dirinya perlahan pudar karena dia hanya membawa bekal ilmu psikologi.

“Saya tahu bahwa saya pandai dalam pekerjaan saya, tapi karena tidak memiliki latar belakang ilmu pengetahuan alam, saya kesulitan untuk percaya diri,” katanya.

Namun, berkat dukungan rekan kerja, keraguan itu pudar. Salah satu momen yang paling dia banggakan adalah saat memimpin integrasi ilmu perubahan perilaku (behaviour change). Kini, ilmu yang dia pelajari ternyata menjadi salah satu referensi utama dalam pekerjaan konservasi.

Menurut Vincentia, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk membuat pekerjaan di bidang konservasi menjadi pilihan karier dan tempat aman bagi perempuan di Indonesia. Pertama, tunjukkan contoh-contoh perempuan yang bekerja di bidang konservasi, termasuk bagikan cerita mereka, kegagalan, kekurangan, dan cara mereka mengatasi tantangan. Kedua, ajak mereka untuk bekerja di lapangan hingga berdiskusi.

“Ketiga sediakan kesempatan studi dan bimbingan untuk mengasah ilmu mereka. Terakhir, ciptakan jaringan atau dukungan yang aman bagi para perempuan yang bekerja di bidang konservasi,” tambahnya.

2.Researcher, Malaysian Nature Society, Batrisyia Teepol

Batrisyia Teepol, peneliti dari Malaysian Nature Society.

Bagi Teepol, tinggal di Pulau Kalimantan (wilayah Malaysia) merupakan sebuah nikmat yang tak pernah dia bayangkan. Di pulau ini, Teepol melihat ada beragam jenis keanekaragaman hayati. Hingga saat dewasa, tumbuhlah rasa cinta yang dalam terhadap satwa liar dan alam. Atas dasar inilah, rasa tanggung jawab untuk melindungi satwa liar dan habitatnya menjadi fondasi yang kuat baginya untuk terjun di bidang konservasi alam.

Kendati dunia konservasi kerap dianggap sebagai ranah yang didominasi oleh laki-laki, hal itu tidak menghambat Teepol dalam berkarier. Teepol sangat bersyukur dikelilingi oleh rekan kerja yang selalu mendukungnya, baik laki-laki maupun perempuan.

“Saya puas dengan kemajuan yang saya telah capai dalam karier saya. Saya bersyukur dapat mengejar hasrat saya soal burung pantai yang bermigrasi. Satu hal yang perlu dilakukan, kita harus memastikan bahwa semua orang didengar dan perempuan dipandang setara. Sebab, kita semua bekerja untuk tujuan yang sama, dunia yang lebih baik,” ujar dia.

3.Biologist, Asociación Calidris, Yanira Cifuentes

Yanira Cifuentes, ahli biologi dari Asociación Calidris, Yanira Cifuentes

Lebih dari 25 tahun, Cifuentes telah berkecimpung dalam penelitian burung. Motivasinya adalah keluarga yang selalu mendukungnya dan keunikan alam di sekitarnya. Dalam pekerjaannya, Cifuentes telah mengkoordinasi sejumlah inisiatif program konservasi dan edukasi lingkungan. Salah satu yang membekas adalah “beras ramah burung”, memungkinkan dia dan timnya mengenali, menghargai, dan menunjukkan hasil kerja komunitas petani yang melakukan budidaya dengan cara berkelanjutan.

Di balik itu semua, Cifuentes harus menghadapi beberapa tantangan, khususnya di negara di mana ilmuwan perempuan jarang didengar suaranya. Namun, rintangan-rintangan itu ia lalui dengan baik. Bahkan, dia mendorong pemberdayaan perempuan untuk melakukan penelitian sains. Dia sadar bahwa dirinya harus menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berpartisipasi tanpa ada rasa malu memamerkan pengetahuan mereka. Dari awal dia meniti karier hingga sekarang, dia tidak pernah berhenti belajar.

“Sebagai seorang perempuan yang bekerja di bidang sains, menjadi ilmuwan adalah sesuatu yang memenuhi hati dan jiwa. Jika ada perempuan yang ingin menjadi ilmuwan, saya hanya bisa mengatakan ‘Silakan, Anda akan menemukan banyak hal dan Anda akan memiliki hak istimewa untuk melihat kehidupan dengan cara yang berbeda, hampir ajaib,” ucapnya.