Perayaan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa sebagai Momentum Kolaborasi

18 Desember, 2025

Setelah tiga dekade upaya perlindungan intensif, status elang jawa (Nisaetus bartelsi)—spesies endemik yang diakui identik dengan Garuda, Lambang Negara Republik Indonesia—masih berada dalam kategori terancam punah berstatus Genting (Endangered) pada Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Kenyataan ini menjadi titik tolak bagi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Kehutanan bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia untuk melakukan peninjauan status secara komprehensif, menandai berakhirnya periode Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2013-2022.

Berbagai upaya penelitian dan perlindungan selama tiga dekade terakhir telah mengubah elang jawa dari salah satu burung pemangsa yang paling sedikit diketahui, menjadi salah satu yang paling banyak didokumentasikan. Catatan lokasi keberadaannya pun telah bertambah luas. Meskipun demikian, status Genting yang disematkan sejak 1994 tidak bergeser, dengan kriteria populasi individu dewasa yang diperkirakan kurang dari 2.500 dan mengalami penurunan bersinambungan.

Sebagai langkah strategis, Kementerian Kehutanan telah menyelenggarakan rangkaian pertemuan pengumpulan data, kompilasi, dan analisis, yang kini berpuncak pada Lokakarya Final Peninjauan Status Elang Jawa, berlangsung di IPB Convention Center, Kota Bogor, 11-12 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan Laporan Nasional Status Elang Jawa yang akan menjadi dasar utama pengajuan peninjauan status konservasi pada Daftar Merah IUCN.

Pembukaan Perayaan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa (Foto: PILI Green Network).

Dalam lokakarya final, para pihak secara mendalam membahas tiga tema sentral. Pertama, peninjauan dan penyepakatan data terbaru mengenai status populasi, distribusi, dan ancaman yang dihadapi elang jawa. Kedua, peluncuran awal proses penyusunan SRAK Elang Jawa 2026-2035, yang didahului dengan analisis kesenjangan (gap analysis) SRAK sebelumnya serta Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) untuk memprediksi kelangsungan hidup spesies. Ketiga, mempersiapkan pelaksanaan penilaian Daftar Merah Nasional bagi kelompok burung pemangsa di Indonesia, menjadikan elang jawa sebagai salah satu jenis target utamanya.

Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc, menegaskan bahwa keberadaan elang jawa adalah indikator kesehatan ekosistem hutan hujan tropis di Jawa dan Bali. “Laporan nasional ini bukan sekadar dokumen ilmiah, tetapi merupakan mandat negara untuk melindungi simbol identitas kita. Data akurat mengenai populasi adalah kunci untuk merancang strategi 10 tahun ke depan yang lebih tepat sasaran, agar status Genting ini bisa kita ubah,” ujarnya.

Perayaan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa sebagai Momentum Kolaborasi

Rangkaian kegiatan peninjauan status elang jawa ini merupakan bagian integral dari peringatan tiga dekade konservasi elang jawa. Keseluruhan rangkaian acara ini adalah buah kolaborasi antara Ditjen KSDAE dengan Burung Indonesia, Raptor Indonesia, dan dukungan strategis dari PT Djarum.

“Kami mendukung upaya konservasi elang jawa secara sinergisitas dan kolaboratif. Maka inilah saatnya kita mengaktifkan kekuatan “Gotong Royong”, sebagaimana wujud tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Temuan pada laporan yang telah kita susun oleh Kementerian Kehutanan serta Burung Indonesia, harapannya dapat memberikan komprehensif data populasi, sebaran, habitat, dan ancaman Elang Jawa untuk digunakan sebagai basis bagi strategi konservasi yang lebih terarah,” ujar Director of Sustainability PT Djarum, Jemmy Chayadi.

Director of Sustainability PT Djarum, Jemmy Chayadi (Foto: PILI Green Network).

Sebagai bentuk apresiasi dan penguatan komitmen, diselenggarakan juga Pameran Konservasi Spesies Penting Jawa–Bali pada Kamis-Jumat, 11 – 12 Desember 2025, bertempat di Halaman Parkir Botani Square Mall, Kota Bogor. Pemeran ini diikuti oleh 17 unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen KSDAE dan 13 mitra konservasi lainnya.

Melalui pendekatan edukatif dan interaktif, acara ini berupaya memperkenalkan kekayaan spesies penting di seperti owa jawa, badak jawa, banteng jawa, elang jawa, jalak bali, dan lainnya. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati pameran fotografi elang beserta cerita-cerita unik di baliknya dan mengikuti beragam talkshow tentang upaya konservasi keanekaragaman hayati di Jawa dan Bali.

Pasca rangkaian kegiatan ini, penyusunan dokumen SRAK Elang Jawa 2026-2035 akan dilanjutkan dengan tahapan perumusan dan pembahasan mendalam pada semester pertama tahun 2026, memastikan strategi konservasi Sang Garuda tetap menjadi prioritas nasional.