Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, di balik kekayaan tersebut, berbagai tekanan seperti alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya, hingga perubahan iklim terus mengancam keberlangsungan ekosistem dan spesies di dalamnya. Sayangnya, isu keanekaragaman hayati masih kerap dipandang sebagai topik yang jauh dari kehidupan sehari-hari dan belum sepenuhnya menjadi perhatian publik. Oleh karena itu, peran media menjadi penting. Sebab, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan yang mampu menghubungkan isu keanekaragaman hayati dengan masyarakat luas.
Upaya tersebut terus didorong melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui “Workshop Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati bagi Media: Kelas Konservasi untuk Jurnalis dan Promosi Praktik Baik Konservasi Berbasis Masyarakat” yang diselenggarakan pada 12 April 2026 dalam acara Pesta Media, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara praktisi konservasi, jurnalis, dan pegiat media untuk membahas bagaimana isu yang selama ini dianggap memiliki relung tersendiri dapat hadir lebih dekat dan relevan bagi masyarakat.
Pada sesi pembuka, Senior Biodiversity Policy Burung Indonesia, Jihad, mengatakan melalui pendekatan berbasis ekosistem, Burung Indonesia tidak hanya bekerja pada perlindungan spesies, tetapi juga mendorong pengelolaan kawasan yang efektif serta peningkatan partisipasi publik. Berdasarkan publikasi Status Burung di Indonesia 2026, Indonesia memiliki 1.834 jenis burung dengan 538 di antaranya merupakan spesies endemis, jumlah tertinggi di dunia. Namun di balik kekayaan tersebut, terdapat 159 spesies yang berada dalam kondisi terancam punah secara global. Hal ini menjadi pengingat akan urgensi upaya konservasi yang lebih luas dan kolaboratif.

Senior Biodiversity Policy Burung Indonesia Jihad ketika memaparkan materi workshop (Foto: Burung Indonesia/Novi Mesrina Cicionta)
Burung mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari penyebaran biji, pengendalian hama, hingga menjadi indikator kualitas lingkungan. “Ketika populasi burung menurun, dampaknya dapat dirasakan secara langsung, seperti meningkatnya hama pertanian akibat hilangnya predator alami. Oleh karena itu, perlindungan burung tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem dan kehidupan manusia itu sendiri,” kata Jihad.
Dalam konteks wilayah, pendekatan konservasi dilakukan melalui identifikasi kawasan prioritas seperti Important Bird and Biodiversity Area (IBA) dan Key Biodiversity Area (KBA). Namun, tantangan muncul ketika lebih dari separuh kawasan penting tersebut berada di luar kawasan konservasi resmi, sehingga belum mendapatkan perlindungan optimal. Kondisi ini menegaskan bahwa konservasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan formal, tetapi perlu melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Pendekatan ini kemudian diperdalam melalui perspektif konservasi berbasis hak yang disampaikan pada sesi berikutnya. Konservasi tidak lagi dipandang semata dari sudut pandang ekologis, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial dan budaya. Setiap wilayah memiliki konteks yang berbeda, termasuk praktik lokal yang telah berlangsung secara turun-temurun. Dalam banyak kasus, praktik tersebut justru mengandung nilai-nilai konservasi yang kuat. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat, termasuk masyarakat adat menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan jangka panjang.
Terrestrial Program Specialist Burung Indonesia, Angga Yoga, mengatakan contoh nyata dapat dilihat di Kepulauan Sangihe, wilayah dengan kekayaan hayati tinggi tapi juga menghadapi berbagai tekanan. Di kawasan ini, pendekatan konservasi dilakukan dengan membuka ruang dialog dan membangun kesepahaman bersama antara masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Hutan tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan ruang hidup masyarakat. Pendekatan berbasis hak ini menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan manusia, tanpa harus saling mengorbankan,” ujar Angga.
Di sisi lain, workshop ini juga menyoroti pentingnya peran media dalam mengarusutamakan isu keanekaragaman hayati. Dalam era digital, mobile journalism (MoJo) menjadi salah satu pendekatan yang semakin relevan. Melalui smartphone, siapa pun dapat merekam, mendokumentasikan, dan menyampaikan cerita dari lapangan. Dokumentasi visual tidak lagi sekadar konten, tetapi menjadi alat advokasi yang mampu mendorong perubahan.

Para pembicara workshop “Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati bagi Media” (Foto: Burung Indonesia/Novi Mesrina Cicionta).
Meski demikian, tantangan tetap ada. Mendokumentasikan burung di alam membutuhkan teknik khusus, mengingat pergerakan yang cepat dan jarak yang sering kali jauh. Namun, keterbatasan alat tidak menjadi penghalang. Dengan perangkat sederhana seperti lensa tambahan, tripod, dan mikrofon, serta teknik pengambilan gambar yang tepat, dokumentasi tetap dapat dilakukan secara efektif dan etis.
Lebih dari sekadar teknis, kekuatan MoJo terletak pada storytelling. “Bangun narasi yang kuat melalui struktur sederhana, seperti pembuka yang menarik, penyampaian masalah, solusi, hingga ajakan bertindak. Pendekatan ini dinilai mampu membuat isu yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan dekat dengan audiens, terutama generasi muda,” ucap jurnalis dan praktisi mobile journalism, Andi Muhyiddin.
Sejalan dengan itu, perspektif dari kalangan jurnalis menegaskan bahwa konsep “arus utama” telah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya media arus utama didominasi oleh televisi dan media cetak, kini media sosial menjadi ruang utama distribusi informasi. Hal ini membuka peluang besar bagi isu konservasi untuk menjangkau audiens yang lebih luas, selama dikemas secara kreatif dan relevan.
“Konten tidak harus selalu berbentuk dokumenter formal, tetapi dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih ringan, seperti cerita di balik layar (behind the scenes), video explainer, maupun kisah personal masyarakat di sekitar kawasan konservasi,” ucap Tri Wahyuni, perwakilan AJI Jakarta.

Pengunjung booth Burung Indonesia di Pesta Media (Foto: Burung Indonesia/Novi Mesrina Cicionta)
Pendekatan-pendekatan ini dinilai lebih mampu membangun kedekatan emosional dengan audiens, sekaligus meningkatkan keterlibatan publik. Isu konservasi yang sebelumnya terasa jauh dan eksklusif dapat dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga lebih mudah dipahami dan mendapat perhatian.
Selain melalui forum diskusi, Burung Indonesia juga turut berpartisipasi dalam Pesta Media pada 11–12 April 2026 dengan membuka booth interaktif di kawasan TIM, Jakarta Pusat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Proyek Symbiotic yang didukung oleh International Climate Initiative (IKI) di bawah naungan Kementerian Federal untuk Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keamanan Nuklir (BMUKN) dari Pemerintah Federal Jerman.
Melalui booth yang digelar, pengunjung dapat mengenal lebih dekat kerja-kerja konservasi yang telah dilakukan, termasuk memahami Status Burung di Indonesia yang dirilis setiap tahun. Kehadiran booth ini menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan isu keanekaragaman hayati kepada publik secara lebih langsung dan interaktif.
