Sebagai negara maritim, Indonesia terkenal dengan kekayaan lautnya. Beragam jenis spesies hewan hidup di lautan Indonesia. Hal ini membuat potensi perikanan di Indonesia sangat besar. Sejak era kolonial, masyarakat Indonesia di pesisir hidup dari hasil tangkapan laut. WRI mengungkapkan Indonesia sebagai negara dengan produksi perikanan tangkap terbesar kedua secara global dan berkontribusi 25 persen terhadap kebutuhan perikanan global.
Kondisi ini terus berkembang hingga sekarang, termasuk mereka para nelayan tradisional yang masih bergantung pada tangkapan laut. Untuk menangkap ikan, mereka melakukan berbagai cara, salah satunya menjadikan burung sebagai mitranya.
Burung laut merupakan penunjuk ikan alami bagi nelayan. Mereka dilengkapi dengan kemampuan alami untuk menemukan ikan. Selain terbang, mereka dapat mencari ikan dari sudut pandang terbaik, dari atas. Mereka juga memilikipenglihatan luar biasa untuk mendeteksi ikan. Oleh karena itu, nelayan memanfaatkan burung laut untuk membantu mereka menemukan ikan. Kawanan burung yang terbang di atas laut menjadi pertanda bahwa di bawahnya ada banyak ikan berkumpul. Para nelayan akan mengamati gerakan burung terlebih dulu untuk menentukan lokasi yang tepat mereka akan harus menebar jala. Di Indonesia, beberapa jenis yang dimaksud adalah burung camar, burung dara-laut, dan cikalang.

Dara-laut cina (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)
Selain itu, burung laut juga menjadi indikator kondisi laut dan cuaca. Burung mempunyai kemampuan untuk merasakan perubahan tekanan barometrik dan infrasonik yang terkait dengan perubahan cuaca dan kondisi laut. Contohnya, burung camar yang kerap terbang ke daratan jika akan ada badai atau terbang berputar-putar dalam lingkaran jika tekanan udara berubah secara drastis. Perilaku mereka dapat memberikan nelayan peringatan dini soal cuaca buruk yang akan datang. Hal ini memungkinkan mereka untuk mencari perlindungan atau menunda pelayaran.
Kesehatan ekosistem laut juga dapat dilihat dari keberadaan dan jumlah populasi burung laut. Jika populasi burung laut menurun drastis, hal ini dapat menjadi tanda bahwa adanya masalah lingkungan, seperti penangkapan ikan berlebih (overfishing) yang mengurangi sumber makanan mereka atau pencemaran laut.
Dalam peran ekologis, burung laut merupakan bagian integral dari rantai makanan di laut. Mereka dapat mengonsumsi ikan-ikan kecil, menjaga keseimbangan populasi, dan kotoran mereka dapat membawa nutrisi penting ke dalam air dan tanah yang pada gilirannya dapat mendukung produktivitas laut. Hubungan antara nelayan tradisional dengan burung laut tidak dapat dipisahkan.
Oleh karena itu, penting untuk menerapkan konsep perikanan berkelanjutan dalam menjaga ekosistem laut yang sehat. Konsep ini menjaga agar populasi ikan tidak menurun akibat praktik penangkapan ikan. Ada beberapa strategi yang dilakukan, seperti penggunaan teknik penangkapan ikan yang ramah lingkungan, menetapkan kuota penangkapan individu, melarang dan memberantas penangkapan ikan yang destruktif dan ilegal, mendirikan kawasan perlindungan, memulihkan kembali ekosistem yang sudah rusak, dan mengembangkan program sertifikasi yang independen. Semua strategi ini tidak dapat bekerja dengan baik tanpa dukungan dari semua pihak.
Dalam memperingati Hari Laut Sedunia, mari dukung perikanan berkelanjutan untuk masa depan ekosistem laut yang sehat! Sebab, laut sehat bukan hanya soal ikan, melainkan keseimbangan ekosistem yang perlu dijaga.
