Pelestarian Alam di Tangan Para Pemuda Desa Sugihmukti

10 September, 2025

Langkah kaki Beben terdengar saat menginjak dedaun di hutan desanya, Sugihmukti yang berlokasi di Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Dalam kegiatan rutinnya, dia bersama kawan seperjuangannya memantau hutan desa. Beben adalah ketua dari Pasukan Jaga Leuweung (PJL) sejak tahun 2024, yang berisi kumpulan anak muda yang peduli melestarikan alam di tengah masifnya dunia digital. Ingar bingar perkotaan dan berisiknya notifikasi media sosial tidak membuat Beben dan kawan-kawan terpengaruh untuk apatis soal kondisi alam sekarang.

Sebelum menjadi ketua PJL, Beben tidak tahu-menahu soal keanekaragaman hayati apa saja yang ada di hutan desanya, kaki Gunung Patuha. Bagi dia, hutan adalah tempat asyik untuk eskapisme. Saat penat mulai menghadangnya, dia biasa berpergian ke hutan. Kebiasaan itu tumbuh dari pengalamannya sejak kecil bersama mendiang ayahnya yang sering ke hutan desa.Dia masih ingat betul saat pertama kali diajak berkelana bersama sang ayah. Genggaman tangan kecil Beben tidak terlepas dari sang ayah saat melewati rerumputan dan tanjakan terjal. Ketika libur sekolah selama dua pekan, Beben malah pergi ke hutan desa–belajar cara bertahan hidup di hutan. Kerap kali, saat malam hari di hutan, Beben ditinggal seorang diri, menunggu sang ayah yang mengejar para pemburu dan penebangan liar. 

“Sebagai penjaga hutan desa, ayah kalau malam-malam nih ada penebangan pohon di tengah hutan, mau jam berapa pun pasti dikejar, saya malah ditinggal, mana gelap di tengah hutan,” katanya. 

Beben kecil hanya bisa patuh atas perintah mendiang ayahnya. Namun, saat beranjak dewasa, dia menjadi mafhum bahwa semua didikan sang ayah merupakan bekal untuk kedisiplinan, keberanian, dan kemandirian. Tak kalah penting, ajaran ayahnya untuk menjaga dan merawat hutan merupakan nilai yang harus Beben tanamkan dalam hidupnya. Hingga akhirnya, dia bergabung dengan PJL dan belajar lebih dalam soal dunia konservasi, khususnya burung. Hal itu bermula saat Burung Indonesia mengedukasi soal burung. Beben kian tertarik karena dia telah terjun langsung melakukan pemantauan burung dan satwa lainnya. 

“Saat baru monitoring dan bekal dari pengetahuan tim Burung Indonesia, saya jadi tahu termyata burung sepenting itu perannya di alam dan semenarik itu. Terus di sini paling banyak yang berburu burung, jadi risih saja melihat pemburu. Ditambah lagi potensi yang bisa dikembangkan dari burung banyak,” ucapnya.

Dari situlah Beben memulai perjalanannya menyelami dunia pengamatan burung. Dia melakukan pendataan layanan alam, termasuk keragaman burung di sekitar wilayah desa pada tahun 2023. Di saat yang sama, dia juga melakukan pendataan, pemantauan dan edukasi/ekowisata di sekitar hutan desa. Kini, Beben dapat menjadi pemandu pengamatan burung atau birdwatching. Salah satunya dalam acara “Harmoni Alam ‘Menjaga Burung Endemik, Menjaga Warisan Alam’” yang digelar pada Sabtu (30/8/2025). Ekspresinya begitu semangat yang dilengkapi dengan mimik wajahnya penuh kebahagiaan. Garis mulutnya tiada henti melengkung. 

Dengan sigap dan antusias, Beben memandu peserta dari perwakilan Karang Taruna se-Kecamatan Pasir Jambu, mulai dari cara menggunakan binokuler hingga menjelaskan burung-burung di hutan desanya. Ini bukan pertama kalinya Beben memandu birdwatching. Catatan panjang telah dia simpan dengan memandu birdwatching di sekitar wilayah desanya hingga ke luar daerah seperti Garut, Cikarang dan Bogor. Akhir bulan Juni 2025, dia pernah memandu pengamatan di Kebun Raya Bogor, khusus untuk burung-burung urban.

Beben saat memandu pengamatan burung. (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Setelah ratusan meter dilewati, pandangan Beben terpaku pada kepakan sayap hitam yang melukis langit mendung di hari itu. Salah satu kebanggan bagi Beben dan kelompoknya adalah dapat melihat sang pemangsa, yaitu elang hitam (Ictinaetus malaiensis). Kepakan sayapnya yang kokoh dan kuat tengah terbang berputar (soaring) mengintai mangsa.

“Burung di hutan tidak terbiasa dengan kehadiran manusia, sehingga kita perlu menyesuaikan dengan mereka agar tidak berisik. Buat mereka tidak takut dengan kehadiran kita,” kata pria berusia 25 tahun ini saat memandu.

Dalam pengamatan itu, Beben menjelaskan bahwa elang hitam merupakan salah satu burung dilindungi di Indonesia. Menurut IUCN 2024, elang hitam berstatus Risiko Rendah (Least Concern). Kendati terlihat gagah dan kuat, elang hitam juga memiliki kelemahan. Dia takut dengan jenis burung srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus). Sebab, srigunting kelabu termasuk dalam kelompok burung yang memiliki perilaku teritorial. Ketika ada burung lain masuk ke wilayahnya, mereka akan mengejar dan mengeluarkan burung itu dengan lincah.

“Fakta lain yang unik soal srigunting adalah mereka pandai meniru suara burung lain. Ini membuat kami saat memantau kadang sedikit terkecoh dengan suaranya,” ujarnya.

Beben saat memandu pengamatan burung di hutan Desa Sugihmukti. (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Hasil pengetahuan yang Beben peroleh tidak sekonyong-konyong datang tanpa sosok pendamping yang terus mendukung dan mengawasi PJL. Tak lain adalah Oman Rohman, pria berusia 50 tahun. Untuk mencapai titik ini, Oman bersama Burung Indonesia telah melewati proses panjang. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menyelipkan soal pentingnya menjaga dan melestarikan alam melalui kegiatan-kegiatan yang anak muda gemari, mulai dari nongkrong hingga jalan-jalan ke hutan. 

Secara perlahan, mereka mulai terpapar akan edukasi konservasi yang diselipkan. Misal, soal ketersediaan air. Area hulu merupakan salah satu penyimpanan air. Jika suatu saat ketersediaan air berkurang, nasib para petani ikut terdampak. Pada akhirnya bencana alam seperti erosi saat hujan deras datang tanpa diundang.

“Memang hutan kita ada beberapa persen sudah mulai beralih penggunaannya. Maka dari itu dari setiap kegiatan bersama mereka, yang awalnya hanya untuk senang-senang, menjadi serius dan melibatkan mereka untuk berpikir,” ucap dia.

Selain itu, mereka juga diajak dalam diskusi soal potensi hutan desa yang dapat dimanfaatkan. Dari cara ini lahirlah pemuda-pemuda, seperti Beben yang ikut berkontribusi menjaga alam desa, sebuah pekerjaan yang tidak bisa dijalankan seorang diri. Perlahan tapi pasti, manfaat dari menjaga dan melestarikan hutan mulai dirasakan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah mata air terus berlimpah ruah  yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari hingga menyiram tanaman di kebun dan pengurangan perburuan burung yang berpengaruh terhadap berkurangnya hama pada tanaman kopi. Dengan terjaganya hama, memanen kopi akan lebih efektif sehingga kualitas kopi yang dihasilkan semakin baik.

Pelestarian hutan juga dapat dilihat juga dari sisi ekonomi. Masyarakat mulai membuat konsep wisata, seperti birdwatching hingga homestay bagi para wisatawan yang datang berkunjung. Sementara itu, ibu-ibu PKK dapat menyediakan makanan untuk konsumsi.

Selain yang dirasakan masyarakat, hasil kerja keras PJL untuk pelestarian hutan desanya juga terbukti dari data pemantauan partisipatif burung di Desa Sugihmukti yang dilakukan oleh Burung Indonesia pada dua periode, yaitu data awal (2021) dan data akhir (2023) menggunakan metode transek garis di area hutan desa. Hasilnya, adanya peningkatan kekayaan spesies burung, laju perjumpaan, khususnya pada spesies endemis, serta kelimpahan burung secara umum. 

Kemudahan untuk memantau perburuan pun dirasakan oleh PJL. Dulu, sebelum datangnya Burung Indonesia, PJL mengalami kesulitan menghadapi para pemburu karena area hutan yang begitu luas. Untuk menghadapi masalah ini, Burung Indonesia memperkenalkan platform bernama Burung di Sekitar Kita, sebuah platform yang dikembangkan Burung Indonesia untuk menjaring partisipasi publik di Pulau Jawa dalam membangun pusat database tentang kelimpahan, pergerakan, distribusi, dan migrasi burung. Platform tersebut dijalankan menggunakan aplikasi KoboCollect. Pengguna dapat mengunduh formulir “Amati Sekitar” di situs https://www.amatisekitar.info/ untuk pengamatan umum dan situs https://sites.google.com/view/amatidesa/hasil-pemantauan?authuser=0 untuk pemantauan layanan alam. Cara digitalisasi ini untuk perhimpunan data dan pemantauan memudahkan PJL.

Kontribusi besar PJL tercium hingga Dinas Lingkungan Hidup. Ahmad Hidayat selaku Penelaah Kebijakan Teknis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung sangat mengapresiasi semua yang telah dikerjakan oleh PJL.

“Sebagai agent of change, saya sangat salut terhadap apa yang mereka lakukan. Di samping mereka mempunyai kesibukan lain, tapi dalam kesempitan waktunya, mereka bisa mencurahkan hati, perhatian, tenaga, dan pikirannya untuk lingkungan,” tuturnya. 

Dia mengatakan pemerintah wajib mengapresiasi lalu menindaklanjuti kinerja mereka. Keberadaan PJL merupakan sebuah potensi besar bagi Desa Sugihmukti. Sebab, menurut dia, belum tentu daerah lain memiliki semacam PJL, kumpulan anak muda yang masih peduli tentang alam. 

Pemeliharaan pelestarian alam bersama anak muda juga menjadi bagian dari program yang dikerjakan oleh PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha. Oleh karena itu, perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga panas Bumi ini mendukung kolaborasi Burung Indonesia bersama Desa Sugihmukti. Hal ini sejalan dengan kebijakan perusahaan terkait konservasi keanekaragaman hayati. Pada akhirnya, terbentuk kerja sama dengan Burung Indonesia untuk pembinaan PJL.

Laurentia Mutiara selaku Environmental Engineer PT Geo Dipa Energi mengaku sudah beberapa kali mengikuti kegiatan bersama PJL di berbagai stakeholder. Menurut dia, PJL merupakan contoh bahwa anak muda sekarang masih ada yang peduli terhadap alam dan patut ditiru oleh anak muda lainnya. 

Beben dan kawan-kawan PJL tidak ingin perjuangan mereka hanya terhenti di desa mereka. Di tengah krisis ekologi, mereka berharap anak muda lain dapat mengikuti jejaknya. Tentu, hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Menurut Beben, perlu adanya penyadartahuan luas soal lingkungan saat ini. 

Makanya, lanjut dia, media sosial menjadi wadah yang tepat untuk berekspresi dan menyebarkan informasi. Di jagat maya, PJL menyebarkan edukasi dan kegiatan rutin melalui akun media sosial Instagram @pasukanjagaleuweung. Meksipun belum sepenuhnya aktif, tindakan ini diharapkan dapat menyebarkan pesan konservasi untuk masyarakat luas. Selain beraksi melalui ketukan jempol di gawai, mereka pun aktif terlibat dalam kegiatan pelestarian alam di luar kegiatan rutinitas mereka. Ini sejalan dengan tujuan mereka untuk terus melakukan penyadartahuan soal alam. Kehadiran PJL dapat membantu masyarakat urban mengenal kehidupan desa, belajar aktivitas konservasi, dan berinteraksi dengan alam serta masyarakat lokal. 

Selain itu, PJL juga menjadi pemandu bagi wisatawan yang berkunjung ke Sugihmukti. Salah satu agen perjalanan wisata yang sering bekerja sama dengan PJL adalah Walk To Forest. Karena berfokus dalam kegiatan di hutan, PJL mengarahkan wisatawan untuk menanamkan kebaikan, misalnya dengan menanam pohon. 

“Kegiatan penanaman kami bungkus sedemikian rupa lalu ditambah dengan edukasi soal fungsi kawasan hutan, sadar kawasan,” jelasnya. 

Kegiatan pengamatan burung di hutan Desa Sugihmukti. (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Meskipun terbukti membuahkan hasil, kerja kolaboratif ini tetap mengalami tantangan di masa depan. Kesadaran akan pentingnya melestarikan alam belum dipahami secara luas, khususnya untuk anak muda sebagai agent of change. Bencana alam, perubahan iklim, dan masalah lingkungan lain menandakan bahwa saat ini Bumi sedang menghadapi krisis ekologi. Menurut Beben, semua fenomena tersebut bagi anak muda sekarang adalah hal yang biasa padahal itu merupakan sinyal bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja. Bumi membutuhkan pertolongan dari tangan-tangan para pemuda bangsa untuk terus menjaga dan merawatnya. 

“Terlihat sekarang iklim sudah mulai berubah. Jangan sampai dunia sudah terbiasa dengan kondisi ini. Sangat bahaya. Pemuda seharusnya menjadi penggerak. Makanya, kami tidak bosan menyampaikan soal lingkungan, apa yang bisa kita lakukan dengan langkah kecil tapi bermakna. Misal, dengan birdwatching turut menjaga dan melestarikan burung yang mempunyai banyak fungsi untuk hutan,” ujarnya.

Beben dan kawan-kawan, tidak bekerja sendirian. Di balik pasukan anak muda ini, ada pemerintah desa yang mendukung penuh serta pihak-pihak yang terus memberikan dukungan peningkatan kapasitas dan aktif berkolaborasi, seperti Burung Indonesia, Perum Perhutani, PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha, dan masih banyak lagi. Semoga semangat Beben dan kawan-kawan terdengar dan diikuti ke penjuru Indonesia karena konservasi merupakan kerja kolaboratif semua pihak. 

PJL bersama Burung Indonesia dan perwakilan PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha. (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)