Para Puan Tangguh Garda Terdepan Pelestarian Mangrove di Pesisir Pohuwato

25 Juli, 2025

Di Pesisisr Pohuwato, Gorontalo, terbentang lautan hijau hutan mangrove. Dulu, mangrove di sana belum serimbun sekarang. Namun, berkat upaya-upaya masyarakat setempat, hutan mangrove kini kian bertambah. Sosok di balik pelesatrian hutan mangrove didominasi oleh para perempuan tangguh yang tinggal di desa dampinngan Burung Indonesia. Setiap orang saling membantu dan bekerja sama dengan kompak agar pelestarian mangrove terus berkelanjutan. Yuk, berkenalan dengan mereka:

Anita: menjaga mangrove untuk masa generasi mendatang

Anita (Foto: Burung Indonesia)

Saat mengingat program dari Burung Indonesia untuk pelestarian mangrove, Anita (24 tahun) tertawa dalam kenangannya. Awalnya, dia berpikir bahwa program yang diajarkan dari Burung Indonesia berupa cara berternak burung dan edukasi burung yang memiliki nilai jual tinggi. Tak terbayangkan bagi dia akan berkecimpung dalam pelestarian mangrove. Bahkan, dia tak tahu-menahu hubungan antara mangrove dan burung. 

“Ternyata burung dan mangrove adalah indikator dari alam atau lingkungan yang sehat. Mangrove juga bisa diolah menjadi tepung dan obat-obatan untuk menyembuhkan,” kata perempuan asal Desa Padengo, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. 

Saat melakukan pemantauan mangrove, Anita bukan main kaget melihat kondisi salah satu plot pemantauan penuh dengan penebangan mangrove yang sangat luas. Anita dan anggota tim lainnya, menyayangkan hal itu. Sebab, jika mangrove di tempatnya tidak dapat dilestarikan, generasi selanjutnya tidak akan bisa merasakan nikmatnya kepiting bakau dan beberapa jenis kerang yang dapat diolah menjadi lauk-pauk.

“Jika kita tidak rawat dan jaga dari sekarang maka akan susah untuk kedepannya, karena sekarang saja, mangrove yang ada di lingkungan kita sudah sedikit masih juga ada yang merusak,” lanjutnya.

Untuk memecahkan masalah ini, menurut dia, kesadaran diri akan pentingnya mangrove perlu dibangun. Sebab, hal itu masih sangat kurang terlihat di masyarakat. Di balik kendala ini, Anita menemukan cara ampuh, yakni menjadikan ekosistem mangrove sebagai sumber pendapatan masyarakat. Melalui cara ini, masyarakat akan menjaganya dari gangguan apapun agar pertumbuhannya tetap terjaga. 

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah memasang papan pemberitahuan larangan untuk tidak merusak mangrove dan sanksi yang akan didapat. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang pengajar di sekolah dasar, Anita masih terus belajar lebih giat soal mangrove dan ekosistemnya. 

“Agar banyak orang tahu tentang ekosistem mangrove. Kedepannya, saya bisa punya banyak cara untuk menjaga kelestarian alam yang Insya Allah tidak hanya mangrove dan burung tapi semuanya tentang alam dan makhluk hidup lainnya,” ungkapnya

Merti: bersahabat dengan panas matahari

Merti (Foto: Burung Indonesia)

Bagi Merti, pemantauan mangrove awalnya merupakan pekerjaan yang sulit. Sebab, saat masuk hutan mangrove yang lebat, untuk melangkah saja susah. Di tengah lumpur, Merti berjuang untuk bisa beradaptasi dengan habitat mangrove. Tak jarang, sepatunya sering masuk ke lumpur. Namun, hal itu bukanlah yang terparah yang dia alami. 

“Kami harus bersahabat dengan matahari yang panasnya luar biasa,” kata perempuan berusia 33 tahun ini.

Merti berasal dari Desa Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Berbeda dengan Anita, Merti sudah memiliki pengetahuan tentang mangrove. Dia mengatakan mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi pesisir dari serangan gelombang besar.

Di desanya, Merti bersama anggota tim lainnya melakukan pemantauan di enam titik lokasi. Mereka menemukan sampah yang banyak di semua titik. Oleh karena itu, mereka akan memasang papan pelarangan pembuangan sampah di beberapa area yang telah disepakati.

Selain ancaman sampah, Merti menemukan ancaman lain, seperti penebangan liar. Melihat hal itu, Merti dan anggota kelompok lainnya akan melakukan pertemuan dengan pemerintah desa untuk mengajukan Perdes tentang Pengelolaan Mangrove yang di dalamnya terdapat larangan menebang mangrove beserta sanksinya.

Mespi: menikmati aktivitas di alam

Mespi (Foto: Burung Indonesia)

Pada Tahun 2009, Mespi (31 tahun) yang berasal dari Desa Bumi Bahari, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato pernah mengikuti penanaman mangrove di Desa Torosiaje Jaya. Kala itu, Mespi belum mengetahui apa saja jenis-jenis mangrove. Setelah bergabung ke dalam kelompok pemantau mangrove yang difasilitasi oleh Burung Indonesia, Mespi memiliki pengetahuan lebih soal mangrove.

“Alhamdulillah kegiatan dan proses sudah kami lewati dan berjalan dengan lancar. Mulai dari pemantauan mangrove di lima titik yang ada di desa, pemantauan burung, dan hewan lainnya yang ada di sekitaran mangrove pun sudah kami lakukan. Yang terbaru, pemaparan hasil pemantauan di lapangan (diseminasi) di depan masyarakat dan kelompok” ucapnya.

Mespi mengaku sangat menyukai dirinya saat berada di alam. Hal itu menjadi salah satu alasannya bergabung menjadi anggota kelompok pemantau mangrove. Terlebih, mangrove yang dipantau berada di desa sendiri.

“Wah, perasaan yang luar biasa. Menjadi pemantau mangrove adalah pengalaman pertama bagi saya. Terjun langsung melakukan pemantauan, melewati lumpur dan masih banyak lagi pengalaman lainnya. Sangat asyik dan seru.” katanya dengan gembira.

Novita: memupuk kepedulian terhadap mangrove

Dengan suara kecil, Novita (26 tahun) bercerita. Yang mendorongnya untuk terlibat dalam pemantauan mangrove adalah rasa kepeduliannya terhadap mangrove. Dari apa yang sudah Novita pelajari, mangrove sangat bermanfaat dan berdampak positif bagi kehidupan.

Dengan bergabung dalam kelompok pemantau, dia dapat mengetahui seberapa rusak dan baik ekosistem mangrove yang ada di desanya, yaitu Desa Dudewulo, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. Selama proses pemantauan, dia mengadapai sejumlah tantangan besar, seperti mengetahui beragam jenis mangrove. Awalnya, dia merasa kesulitaan lantaran hampir semua bentuk daun mangrove yang mirip.

“Tadinya saya tidak memiliki pengetahuan tentang mangrove karena sebelum-sebelumnya saya tidak tertarik untuk mengetahuinya. Bahkan saya berpikir mangrove itu hanya sekedar tumbuhan-tumbuhan biasa saja, kata perempuan yang akrab disapa Pita.

Dalam pemantauan, Pita menemukan banyak mangrove yang sudah dirusak, bahkan ada satu lokasi yang memang sudah sangat parah kerusakannya. Kesadaran diri masyarakat untuk menjaga kelestarian mangrove perlu ditingkatkan. Rencana Pita ke depannya adalah mengajak masyarakat untuk sama-sama melakukan pelestarian mangrove.

Noviyanti: mengampanyekan pentingnya ekosistem mangrove

Sebagai alumni Biologi Universitas Negeri Gorontalo, Noviyanti menerapkan apa yang dia pelajari semasa kuliahnya. Setelah lulus, dia kembali ke tempat asalnya di desa Padengo, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. Sejak kuliah, Opi—sapaan akrabnya—telah memiliki pengetahuan tentang mangrove. Mulai dari jenis-jenis, habitat, manfaat, dan biota-biota yang hidup di sekitar mangrove.

Opi tertarik untuk mengetahui kondisi mangrove yang ada di desanya. Hasilnya, secara keseluruhan, kondisi mangrove masih terlihat baik dan keanekaragaman jenis mangrove serta biota yang ada di sekitarnya masih bervariasi.

“Selain melindungi dari adanya erosi, dan gejala-gejala alam lainnya, manfaat konservasi mangrove bagi masyarakat lokal tentu ada pada sisi ekonomi juga, karena hutan mangrove juga menjadi tempat hidup habitat ikan dan sejenisnya,” ujar Opi.

Bagi Opi, kehadiran Burung Indonesia yang berkegiatan di desanya, bisa menjadi peluang terbaik untuk saling membantu mengkampanyekan tentang pentingnya mangrove. Misal, menggelar sosialisasi, melakukan penanaman dan pemeliharaan mangrove di area kawasan mangrove serta pemantauan rutin pada hutan mangrove guna melindungi atau mencegah adanya penebangan secara liar lagi.

“Meskipun kita belum memiliki payung hukum untuk para penebang mangrove, kita harus tetap rutin memantau agar kita bisa mengetahui bagaimana kondisi terkini dan bisa mencari solusi untuk menanggulangi ancaman perubahan negatif selanjutnya,” tambahnya.

Rininta: dari dapur ke hutan mangrove

Anggota kelompok pemantau ekosistem mangrove Desa Dudewulo Kecamatan Popayto Barat Kabupaten Pohuwato tidak semuanya anak muda. Ada seorang ibu rumah tangga bernama Rinita (44 tahun). Sebagai ibu rumah tangga, Rinita sebelumnya belum mengetahui soal mangrove karena sibuk dengan urusan rumah tangga. Namun, setelah mengikuti rangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh Burung Indonesia, dia merasa terpanggil untuk aktif melakukan upaya pelestarian mangrove. Dia menangkap ternyata ada masalah lingkungan yang terjadi di tempat tinggalnya, Desa Dudewulo. 

“Jujur saya baru melihat masalah mangrove di sini. Ternyata sudah miris sekali keadaannya. Sudah memprihatinkan, karena demi kepentingan pribadi tanpa kita sadari akibatnya akan berpengaruh pada ekosistem dan lingkungan,” kata perempuan yang akrab disapa Ninta.

Melewati lumpur yang dalam, serta menginjak kulit-kulit kerang yang tajam, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk melakukan pemantauan. Ninta mencatat setiap proses yang dilakukan di lapangan, mulai dari jenis mangrove, tinggi pohon, diameter batang, hingga jumlah krustasea dan burung yang ada di dalam serta sekitar lokasi pemantauan.

Lebih lanjut Ninta menjelaskan perlu untuk mengatur kembali atau menata wilayah pesisir, melarang masyarakat melakukan penebangan liar dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Selagi saya mampu, saya akan melanjutkan aktivitas ini. Rencananya saya secara bertahap akan memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya mangrove dalam kehidupan kita. Saya ingin kita semua mencintai dan menjaga kelestarian mangrove,” ujarnya.

Setri: belajar memahami mangrove

Bagi Setri (25 tahun), masalah yang dihadapinya saat masuk dalam kelompok pemantauan mangrove adalah menentukan jenis-jenis mangrove. Dedaunan mangrove mirip dan sulit untuk dibedakan. Namun, hal itu tidak menghambatnya untuk terus mendalami soal mangrove. Perlahan-lahan Setri terus belajar mengenal mangrove. 

Menurut dia, buku panduan yang dicetak oleh Burung Indonesia menjadi pegangan dia saat ini. Selain bermanfaat bagi dirinya, buku tersebut juga membantu masyarakat mengenal mangrove yang ada di Kabupaten Pohuwato. “Saat ini saya masih proses pembelajaran terus, karena masih salah dalam menentukan jenis mangrove” ujarnya,

Sebagai warga setempat, penting baginya untuk mengenal jenis-jenis mangrove. Rasa ingin tahunya mengenai ekosistem mangrove membuatnya bergabung dalam kelompok pemantau. Setri beranggapan bahwa penting agar masyarakat desa terlibat dalam pemantauan dan menjaga kelestarian hutan mangrove.

Dari pemantauan yang dilakukan, Setri dan anggota kelompok lainnya dapat mengetahui kondisi mangrove yang ada dan bisa menyepakati langkah-langkah untuk menjaga atau memperbaiki kondisinya. Saat melakukan pemantauan, Setri dan anggota kelompok lainnya menemukan ancaman penebangan liar yang ditandai dengan bekas tebasan. Selain itu, sampah juga begitu banyak dijumpai.

“Untuk mengatasi masalah itu, tentu dibutuhkan kesadaran dari masyarakat setempat dan perlu ada aksi nyata seperti penanaman mangrove dan menjaga kesehatan mangrove,”ucapnya. 

Windra: belajar memahami manfaat mangrove

Windra (33 tahun) merupakan salah satu lelaki yang berasal dari Desa Torosiaje Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato yang tergabung dalam grup pemantau mangrove. Dia mengaku baru kali ini mengikuti kegiatan tersebut. Sebab, Windra ingin tahu lebih banyak lagi tentang mangrove karena selama ini yang dia tahu tentang mangrove hanya sebatas tanaman yang bisa dimanfaatkan menjadi obat-obatan dan bahan makanan.

“Ternyata pemantauan itu bukan cuman mangrovenya saja yang dilihat dan diukur, tapi hewan-hewannya juga dilihat dan dihitung, seperti kepiting, kerang, dan burung” ungkap Windra.

Dalam pemantauan, Windra melihat ada beberapa pohon mangrove yang rusak, bekas penebangan. Ditambah lagi menurutnya kesadaran masyarakat desa Torosiaje belum sepenuhnya bisa diandalkan. Hal itu dikarenakan Windra belum melihat ada evaluasi konkret terhadap masyarakat terkait pengetahuan tentang mangrove yang sudah ada selama ini.

Windra berharap kelompok pemantau bisa terus ada dan berjalan untuk melanjutkan aktivitas pemantauan. “Siapa tahu kalau kita rajin memantau, itu bisa meningkatkan hasil mangrove kedepannya,” ujarnya.

Yelvi: dari dusun untuk masyarakat

Yelvi (37 tahun) merupakan kepala dusun di Desa Bumi Bahari Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato. Sejak awal, Yelvi telah bekerja sama dengan Burung Indonesia dan bergabung dalam kelompok pemantau ekosistem mangrove.

Selama satu tahun, Yelvi merasa senang bisa berkumpul dan berjuang bersama anggota kelompok. Dia dapat membedakan jenis-jenis mangrove yang ada di desanya. Sambil memperbaiki kacamatanya Yelvi bercerita, “Sudah banyak kegiatan, dulu itu ada pemantauan burung, pernah juga kita membahas kesepakatan tentang masalah di desa dan solusinya,” katanya.

Kesepakatan yang dimaksud Yelvi adalah Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD) yang mana merupakan salah satu strategi konservasi yang dilakukan Burung Indonesia dalam bekerja. Kondisi mangrove di desa Bumi Bahari bisa dikatakan masih dalam kondisi baik. Namun, baginya, hal itu harus tetap diimbangi dengan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mangrove dan bagaimana cara melestarikannya.

“Harapan pribadi saya, saya ingin masyarakat desa terlibat aktif dalam upaya pelestarian mangrove dan instansi terkait tetap diadakannya pengawasan mangrove, khususnya di desa saya,” tutup Yelvi.

Yola: kontribusi untuk menjaga mangrove

Saat bergabung dalam kelompok ekosistem mangrove yang difasilitasi oleh Burung Indonesia melalui mitranya Japesda, Yola (26 tahun) sangat antusias. Bagi Yola, itu adalah salah satu bentuk kontribusinya dalam menjaga mangrove di desanya, Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato.

Hampir setiap hari Yola dan masyarakat mengumpulkan kerang hijau yang dalam bahasa lokal disebut kerang bia di sekitar area mangrove untuk dikonsumsi menjadi lauk. Beberapa orang ada juga yang menjualnya.

Bergabung dalam kelompok pemantau dan melakukan pemantauan langsung lokasi-lokasi mangrove yang sudah ditentukan membuat Yola sangat senang. “Pengalaman yang cukup baik dan senang karena bisa melihat dan mengetahui secara langsung berbagai jenis mangrove” katanya.

Selama proses pemantaun, cuaca yang panas membuat Yola sedikit mengeluh. Namun, Yola tetap ingin mengajak masyarakat desa untuk meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga mangrove. Yola sangat peduli terhadap persoalan sampah yang ditemukan hampir di semua lokasi pemantauan. Menurutnya, langkah konkret yang bisa dilakukan adalah memasang papan imbauan dan mengumpul sampah itu secara langsung.

Sebelumnya, Burung Indonesia juga memberikan pelatihan pengelolaan limbah plastik untuk masyarakat yang berada di desa dampingan proyek mangrove. Sampah-sampah plastik seperti botol minuman, botol sabun dan sebagainya bisa dijualkan kepada Burung Indonesia yang telah bekerja sama dengan DLH Kabupaten Pohuwato.

Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Mangrove

Kabupaten Pohuwato yang terletak di Provinsi Gorontalo memiliki area mangrove luas, kurang lebih 7.700 hektare yang menutupi hampir 70% garis pantainya. Namun, dalam kurun waktu 25 tahun sejak 1994 hingga 2018, hutan mangrove di wilayah ini sudah menghilang hingga 60%. Penyebab utamanya adalah konversi hutan mangrove menjadi budidaya tambak

Kegiatan monitoring menjadi sarana bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan menggali lebih dalam potensi mangrove dengan cara yang lebih berkelanjutan. Penting untuk mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai lingkungan bahwa masyarakat bertanggung jawab atas perlindungan dan rehabilitasi lingkungan fisik. Semoga cerita para puan dari Pohuwato ini juga bisa menginspirasi perempuan-perempuan lainnya untuk terlibat dalam upaya pelestarian alam dan lingkungan secara berkelanjutan.