Migrasi Burung: Perjalanan Panjang yang Penuh Tantangan

09 Mei, 2026

Jika kita berbicara tentang migrasi burung, maka kita sedang membahas salah satu fenomena alam yang luar biasa. Miliaran burung setiap tahunnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menempuh jarak hingga ribuan kilometer. Tidak semua burung melakukan perjalanan sejauh ini, tetapi perpindahan jarak jauh inilah yang paling sering menjadi sorotan. Burung-burung dari belahan Bumi utara meninggalkan wilayah berkembang biaknya (breeding ground) untuk menuju wilayah yang lebih hangat di belahan Bumi selatan sebagai tempat bermusim dingin (wintering ground), sebelum akhirnya kembali lagi ke utara untuk berkembang biak.

Jika dilihat berdasarkan waktunya, migrasi burung berlangsung dalam beberapa tahapan yang membentuk satu siklus tahunan. Pertama, ada migrasi musim gugur yang berlangsung antara Agustus hingga November. Pada periode ini, burung-burung dari belahan Bumi utara mulai bergerak ke selatan untuk mencari wilayah yang lebih hangat, termasuk Indonesia dan Australia. 

Burung-burung pantai (shorebird) biasanya menjadi rombongan pertama yang berangkat pada Agustus hingga September. Sementara itu, Oktober hingga November merupakan puncak pergerakan burung pemangsa (raptor), seperti elang-alap cina dan elang-alap nippon, yang turut bermigrasi ke Selatan.

Setelah perjalanan panjang tersebut, burung-burung migran memasuki fase menetap pada Desember hingga Februari. Di periode ini, mereka tinggal sementara di wilayah tropis. Burung-burung pantai, misalnya, memanfaatkan lahan basah untuk mengumpulkan energi sebagai bekal menghadapi perjalanan kembali ke utara, tempat mereka akan berkembang biak.

Memasuki Maret hingga Mei, migrasi musim semi dimulai. Ini merupakan waktu bagi burung-burung migran untuk kembali ke belahan bumi utara. Puncak pergerakan terjadi pada Maret hingga April, sementara pada Mei sebagian besar burung telah tiba di wilayah breeding ground dan mulai mencari pasangan.

Trinil pantai (Actitis hypoleucos) (Foto: Burung Indonesia/Jihad)

Selanjutnya, pada Juni hingga Juli, berlangsung musim berkembang biak. Aktivitas ini umumnya terjadi di wilayah tundra dan Artik, tempat burung-burung tersebut berkembang biak sebelum siklus migrasi kembali berulang.

Siklus ini terus terjadi dari tahun ke tahun, menjadikannya salah satu fenomena alam paling menakjubkan di dunia. Namun, di balik keindahannya, migrasi burung juga penuh dengan tantangan.

Cuaca ekstrem dapat menyebabkan kelelahan bahkan kematian di tengah perjalanan. Perburuan oleh manusia juga masih menjadi ancaman nyata. Selain itu, hilangnya habitat persinggahan menjadi masalah serius. Banyak lokasi penting seperti delta dan rataan lumpur di muara sungai yang hilang akibat reklamasi, sehingga burung kehilangan tempat untuk beristirahat dan mengisi energi.

Burung migran tidak hanya terdiri dari burung pantai dan raptor. Banyak burung hutan juga melakukan perjalanan panjang ke belahan bumi selatan, seperti cikrak kutub, sikatan mugimaki, kerak-basi besar, dan anis siberia. Burung-burung ini menghadapi ancaman serupa. Hutan yang menjadi tempat mereka bermusim dingin banyak yang beralih fungsi atau bahkan hilang. Selain itu, perburuan juga menjadi tekanan tersendiri, terutama karena burung hutan kerap ditangkap untuk dipelihara.

Baik di hutan maupun di pesisir, ancaman yang dihadapi burung migran pada dasarnya serupa, yaitu kehilangan habitat dan tekanan dari aktivitas manusia. Ketika hutan ditebang atau lahan basah direklamasi, burung kehilangan tempat untuk bertahan hidup. Di sisi lain, praktik perburuan, baik untuk dipelihara maupun dikonsumsi, semakin memperberat perjalanan panjang yang seharusnya menjadi bagian alami dari siklus hidup mereka.

Migrasi burung bukan sekadar perpindahan musiman, tetapi juga cerminan keseimbangan alam yang rapuh. Menjaga habitat dan menghentikan ancaman terhadap burung migran menjadi kunci agar fenomena luar biasa ini tetap berlangsung di masa depan.

Naskah oleh Rudyanto.