Menyambangi Surga Tersembunyi di Barat Jawa Sejak Zaman Hindia Belanda

02 Desember, 2025

Ujung Kulon pertama kali dijelajahi oleh botanis asal Jerman Franz Wilhelm Junghuhn yang bekerja untuk kerajaan Belanda pada 1846. Kala itu, Ujung Kulon sudah terkenal dengan kekayaan alamnya oleh para peneliti. Namun, tidak banyak catatan yang terdokumentasi hingga tahun 1883, Gunung Krakatau meletus, memporak porandakan semua yang ada di sana. Letusan Krakatau tidak hanya membumihanguskan pemukiman penduduk, tetapi juga satwa liar dan vegetasi yang ada. Baru beberapa tahun kemudian, ekosistem-vegetasi dan satwa liar kembali tumbuh dengan baik dan cepat di sana. Pada tahun 1921, pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan Ujung Kulon termasuk Pulau Panaitan sebagai Suaka Alam. Kemudian pada tahun 1937, istilah Suaka Alam berubah menjadi kawasan Suaka Margasatwa yang ditandai dengan masuknya Pulau Peucang.

Beberapa kali, Ujung Kulon mengalami perubahan nama sampai pada tahun 1992 ditetapkan sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dan UNESCO menetapkannya sebagai Natural World Heritage Site (Situs Warisan Alam Dunia). TNUK meliputi kawasan Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang yang luasnya sekitar 105,694 hektare. 

Burung Indonesia berkesempatan mengajak publik untuk berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon pada 21-23 November 2025. Panitia dan peserta mulai berangkat dari titik kumpul di Cawang, Jakarta Timur pada pukul 21.00 WIB menuju Pelabuhan Sumur, Pandeglang, Banten. Pada pukul 04.00 WIB, peserta sampai di lokasi sembari menunggu kapal bersiap. Sekitar pukul 05.30 WIB, peserta mulai memadati kapal, bersiap berlayar menuju savana Cidaon. Sambil menikmati sarapan, peserta disambut dengan pemandangan langit biru yang menyusung sepanjang mata memandang. 

Para peserta sedang mengamati burung di kapal (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz).

Saat matahari mulai muncul perlahan menampaki wajahnya, burung-burung laut mulai terlihat. Beberapa di antaranya adalah dara-laut jambul (Thalasseus bergii), dara-laut kumis (Chlidonias hybrida), kapinis laut (Apus pacificus), dan masih banyak lagi. Selain burung laut, peserta juga menemukan beberapa burung di daerah pulau-pulau yang dilewati kapal, seperti julang emas (Rhyticeros undulatus), kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris), merak hijau (Pavo muticus), dan elang tiram (Pandion haliaetus). Perjalanan berlayar berlangsung sekitar tiga jam sebelum akhirnya kapal mencapai Savana Cidaon. Tepat sebelum memasuki area savana, para peserta melewati hutan pantai. 

Meskipun jalan yang dilewati berlumpur dan agak sulit diakses, peserta sangat antusias. Benny Aladin dari Burung Indonesia mengatakan jalur di Cidaon merupakan jalur yang terbaik untuk pengamatan burung. “Vegetasinya masih sangat alami dan tutupan hutannya sangat baik seperti hutan primer di kebanyakan tempat,” katanya. 

Setelah berhasil melalui jalan setapak yang berlumpur dan cukup menantang, peserta akhirnya tiba di savana Cidaon, sebuah hamparan padang rumput luas yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar. Kawasan ini dikenal sebagai rumah bagi banteng jawa (Bos javanicus).

Banteng jawa (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz).

Bentangan savana yang lapang memberi keleluasaan bagi peserta untuk menjelajah dan mengamati satwa dari berbagai sudut. Suasana yang semula hening perlahan dipenuhi oleh aktivitas burung. Julang emas terlihat sibuk terbang dari satu pohon ke pohon lain, kepakan sayapnya menghasilkan suara yang khas dan langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Di langit, elang-ular bido (Spilornis cheela) tampak melayang tinggi dengan sayapnya yang lebar dan kokoh. 

Tidak hanya di area terbuka, aktivitas satwa juga ditemukan di tepian hutan yang mengelilingi savana. Di antara rimbunan pepohonan, burung-burung dari kelompok kingfisher muncul sesekali, termasuk cekakak sungai (Todiramphus chloris) yang mudah dikenali dari warna biru dan putihnya yang mencolok. Bukan hanya satwa liar yang menarik perhatian, tetapi juga tulang-belulang banteng jawa yang tampak berserakan di sepanjang jalur. Temuan ini menjadi pengingat bahwa dinamika kehidupan di Taman Nasional berlangsung secara alami. Apa pun yang terjadi pada satwa liar di kawasan ini merupakan bagian dari proses alam tanpa campur tangan manusia.

Setelah puas menikmati savana Cidaon, kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan burung di kapal. Beberapa spesies burung ditemukan saat berada di laut, seperti elang-laut perut-putih (Haliaeetus leucogaster) dan pekaka emas (Pelargopsis capensis) yang tengah bertengger santai di ujung bagang.

Elang-laut perut-putih (Foto: Hammas Zia).

Setelah itu, kapal mulai memutari Pulau Peucang. Begitu keluar dari sisi pulau, ombak besar langsung menghadang. Gelombang menghantam badan kapal berulang kali, membuat perjalanan terasa berguncang dan tidak stabil. Kapal beberapa kali terseret arus ombak tinggi, sehingga peserta harus berpegangan agar tidak kehilangan keseimbangan.

Setelah tiba di Pulau Peucang, peserta beristirahat sejenak sebelum memulai kegiatan pengamatan malam. Suasana sekitar penginapan langsung terasa hidup. Monyet-monyet berkeliaran di halaman, sementara rusa bebas berjalan santai di antara penginapan. Sesekali, peserta berinteraksi dengan rusa. Namun, mereka tetap berhati-hati dengan kelompok monyet ekor panjang (macaca fascicularis) yang dikenal usil dan kerap mencuri makanan.

Pengamatan malam mulai berlangsung sekitar pukul 20.00 WIB menyusuri kawasan hutan dekat penginapan. Selama pengamatan, peserta menemukan kangkareng perut-putih berjumlah enam ekor, reptil (percil jawa dan rana sp.). Peserta bersemangat mendengar penjelasan dari Benny soal temuan beberapa satwa liar. Namun, kegiatan tersebut nampaknya terpaksa berhenti lantaran hujan mulai turun. 

Meskipun pengamatan malam hanya berlangsung singkat, seluruh pengalaman itu terbayarkan pada kegiatan keesokan paginya. Saat matahari mulai naik, para peserta bergerak memasuki area hutan untuk memulai penjelajahan. Baru berjalan beberapa langkah dari titik keberangkatan, mereka sudah disuguhi pemandangan yang menarik, yaitu seekor rusa jantan berdiri tenang di antara pepohonan. Tanduknya tampak gagah dan kokoh, memantulkan cahaya pagi. Dia berada sendirian, sibuk menunduk dan mengunyah dedaunan muda tanpa terganggu oleh kehadiran manusia.

Seekor rusa jantan sedang menyantap makanan (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz).

Di dalam hutan, para peserta juga mengunjungi pohon kiara, sejenis beringin yang dikenal memiliki cara hidup unik. Pohon ini tumbuh dengan menjulurkan akar-akar panjang dari cabang-cabang bagian atas, kemudian akar tersebut menjulur ke bawah hingga mencapai tanah dan menguatkan tubuhnya. Diperkirakan, pohon ini telah berusia lebih dari 100 tahun. Usianya yang tua tampak dari ukuran batangnya yang besar, akar yang mengular, serta kanopinya yang rimbun. Pohon megah ini menjulang dengan indah, akar-akar gantungnya melilit hingga ke tanah, menciptakan pemandangan yang memukau bagi pengunjung. 

Di sela-sela perjalanan menyusuri hutan, peserta beberapa kali mendengar suara burung yang bergema di antara pepohonan. Suara kepakan sayapnya terdengar kuat. Dari semua suara itu, yang paling mudah dikenali adalah kepakan khas julang emas dan kangkareng perut-putih. Kedua burung besar ini terbang dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak suara yang menggetarkan, sehingga sering kali mereka sudah menghilang dari pandangan.

Untuk dapat melihatnya, peserta harus berhenti sejenak, menenangkan diri, dan berdiri diam tanpa banyak bergerak. Burung-burung ini sangat waspada terhadap kehadiran manusia. Sedikit saja ada suara atau gerakan mencolok, mereka akan menjauh atau tetap bersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Para peserta menemukan seekor bangkai kangkareng perut-putih yang diperkirakan telah mati sekitar 2–3 hari sebelumnya. Saat ditemukan, tubuh burung itu tergeletak tak berdaya di atas tanah tanpa tanda-tanda kekerasan. Tidak ada darah, luka terbuka, atau bekas tembakan yang biasanya menjadi petunjuk adanya perburuan. Berdasarkan kondisi fisiknya, diduga burung tersebut mati secara alami, kemungkinan karena sudah dalam kondisi lemah atau sekarat, atau usia burung yang memang sudah tua sehingga nyawanya tidak tertolong.

Para peserta saat pengamatan satwa di hutan sekitar penginapan (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz).

Setelah puas berkeliling hutan peserta kembali ke penginapan dan bersiap pulang. Pengalaman dapat menginjakkan kaki di taman nasional tertua di Jawa merupakan pengalaman yang tak terlupakan, salah satunya bagi fotografer Anya Cahyara. Dia mengaku bahwa pengalamannya kali ini sangat berbeda dari ekspektasi awal.

“Yang aku kira kita bakal fokus untuk nyari satwa burung, ternyata kita bakal mengamati seperti kayak ada kijang jantan, terus ternyata kita nemuin bangkai burung, tapi kita juga nemuin banyak burung yang ada di laut, di hutan.”

Kegiatan ini menjadi eksplorasi menyeluruh, tidak hanya terfokus pada satu jenis satwa. Dia sangat senang karena experience-nya berbeda, apalagi ini adalah pengalaman pertamanya ke Ujung Kulon.

Selama kegiatan, Benny mengatakan peserta sangat antusias sejak sebelum berangkat. Beberapa di antaranya bahkan membawa perlengkapan fotografi atau menyewa lensa dan kamera untuk mendokumentasikan momentum yang mungkin hanya bisa mereka nikmati sekali seumur hidup. 

“Trip akhir pekan ini juga jadi ajang mempertemukan orang-orang yang punya ketertarikan yang sama untuk petualangan, menjelajah alam, mengamati satwa liar, atau bahkan hanya sekedar suka liburan,” ucapnya. 

Perjalanan singkat ke Taman Nasional Ujung Kulon membuktikan bahwa alam selalu menyimpan kejutan bagi siapa pun yang datang dengan rasa ingin tahu. Di antara savana yang sunyi, hutan yang rimbun, dan birunya laut yang membentang, setiap peserta membawa pulang cerita yang berbeda. Dari banteng yang berkeliaran hingga bangkai burung yang ditemukan tanpa jejak kekerasan, semua mengingatkan bahwa ekosistem yang sehat adalah ekosistem yang berjalan secara alami, tanpa intervensi manusia.

Dengan 41 spesies burung yang tercatat dan banyak momen yang tidak terekam kamera, pengalaman ini menjadi saksi betapa kayanya Ujung Kulon, taman nasional tertua di Jawa yang tetap memikat sejak era Hindia Belanda hingga hari ini. 

Para peserta Birding Trip Ujung Kulon (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)