Menyaksikan Burung Tercepat di Dunia

28 Januari, 2026

Pagi itu, Sabtu 24 Januari 2026, hujan mengguyur kota Bogor, Jawa Barat. Kebun Raya Bogor (KRB) yang sudah dibuka sejak pukul 07.00 WIB, terlihat sepi pengunjung. Rerintikan air hujan memandikan kawasan pintu masuk 1. Meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, satu per satu peserta Weekend Birding, perlahan mulai memadati pintu masuk 1 sebagai titik kumpul. Langit masih kelabu, matahari masih bersembunyi dengan syahdu di balik awan. Setelah semua peserta terkumpul, mereka mulai memasuki KRB. Seperti biasa, sebelum kegiatan dimulai, peserta diberitahu terlebih dulu cara menggunakan binokular dan mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kali ini, peserta yang datang sebagian besar dari kelompok usia dewasa muda. Tidak semuanya pernah melakukan pengamatan burung (birdwatching), ada juga yang baru pertama kali mencoba. 

Peserta dipandu oleh fasilitator Octa dan Hammas menyurusi KRB. Masih dengan cuaca yang tidak menentu, pohon-pohon tinggi yang mengitari jalan setapak melindungi peserta dari gerimis. Beberapa waktu di awal, peserta belum menemukan burung lantaran cuaca yang kurang bagus. Namun, mereka sudah mulai mendengarkan beberapa kicauan burung, seperti kicauan cekakak sungai (Todiramphus chloris).

Setelah berjalan sekitar ratusan meter, gerimis mulai berhenti. Suasana ini cocok untuk mulai melihat-lihat beberapa pohon di sekitar. Benar saja, salah seorang peserta melihat ada sejumlah burung sedang bertengger dan bergelantungan di dahan pohon. Mereka adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang sedang asyik membersihkan bulu-bulunya dari air hujan. Momen itu diabadikan langsung oleh peserta yang membawa kamera, sementara yang lain melihatnya melalui binokular. 

Bagi beberapa peserta, seperti Syifa, yang baru pertama kali mengamati burung, mengaku sangat senang dapat melihat burung-burung dari dekat. “Oh my God, mereka ternyata lucu sekali ya, lagi bergelantungan,” ujarnya. 

Raja-udang meninting (Foto: Hammas Zia/Member Burung Indonesia)

Tak jauh dari tempat cucak kutilang, di pohon yang lebih besar ada sekelompok burung lain yang sedang khusyuk bertengger. Salah satu spesiesnya adalah merbah corok-corok (Pycnonotus simplex). Kendati warnanya yang menyatu dengan daun, hal itu tidak membuat semangat para peserta surut. Bagi kalangan peserta fotografer, mereka justru merasa tertantang untuk mendapat pose yang unik, sementara yang lain bersemangat mencari burung-burungnya. Ketika sudah melihat, semua peserta kompak menyebut burungnya sangat menggemaskan dan gemuk. 

Di tengah asyiknya mengamati merbah corok-corok, hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba, di atas langit, alap-alap kawah (Falco peregrinus) melaju dengan cepat seraya memecah konsentrasi peserta. Dia sedang terbang rendah, mengejar mangsanya yang ada di depan, terlihat seperti burung merpati. Gerakannya begitu cepat sampai-sampai semua peserta dibuat terpana dengan melintasnya burung predator tercepat di dunia itu. Kemunculannya sangat tiba-tiba dan jarang sekali alap-alap kawah terlihat sangat dekat di KRB. Sebagian besar peserta menyesali tidak dapat memotret foto tersebut, tapi penyesalan itu tak kunjung lama. Tak jauh dari sana, tepatnya di dekat danau istana, alap-alap kawah tadi terlihat bertengger di pohon besar. Berkat faktor cuaca yang tak menentu, terkadang hujan dan tidak, burung-burung menjadi jarang beraktivitas. Di antara pepohonan yang menjulang tinggi, alap-alap kawah tadi yang melintas sedang beristirahat (resting) di ranting pohon membelakangi peserta. Sesekali, kepalanya melihat ke belakang, yang membuat peserta fotografer sibuk memotret hingga mendapat pose yang ciamik. Bagi yang lain, melihatnya dari dari lensa binokular saja sudah puas.

Alap-alap kawah (Foto: Aditya Nugraha/Peserta Weekend Birding)

Setelah puas mengamati alap-alap kawah, peserta mulai menuju tempat diskusi, menyusuri pinggir danau. Di sepanjang perjalanan, mereka juga menemukan sejumlah burung, di antaranya adalah kepudang kuduk-hitam (Oriolus chinensis), walik kembang (Ptilinopus melanospilu), punai penganten (Treron griseicauda) dan raja-udang meninting (Alcedo meninting). Bahkan, di sini peserta juga bersua dengan alap-alap kawah migran, berbeda yang sedang bertengger di pohon sebelumnya. Dengan gagahnya, alap-alap kawah migran terbang melintasi langit kelabu KRB. Matanya tajam dan bulunya indah terekam dari salah satu kamera peserta. Perbedaan antara alap-alap kawah residen dengan migran terletak pada warna dan pola topengnya. Alap-alap kawah residen memiliki pola yang lebih gelap, sedangkan yang migran lebih terang.

Alap-alap kawah menjadi sorotan dari semua jenis burung yang ditemukan di Weekend Birding kali ini. Selain beruntung dapat melihatnya, burung predator ini memiliki banyak keunikan. Pengamat burung dari Burung Indonesia Rudyanto (Kang Ijo), mengatakan, kecepatan terbang alap-alap kawah bisa mencapai 300 km/jam. Hal ini jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan rata-rata balapan Formula 1 260 km/jam. 

“Kecepatan terbangnya kalau dia sedang menukik, bisa 300 km/jam dan biasanya dia mencari leher burung lain. Dia memangsa burung lain. Kalau di kota-kota besar selain Jakarta, di dunia, alap-alap kawah tinggal di perkotaan. Mereka menunggu burung merpati yang menjadi makanannya,” katanya. 

Alap-alap kawah yang kerap dikenal sebagai peregrine, merupakan burung raptor yang populer karena kecepatan terbangnya. Spesies ini dapat ditemukan hampir di mana pun, kecuali di daerah kutub yang ekstrem (termasuk kutub utara dan kutub selatan). Hal ini membuat dia menjadi burung raptor dengan sebaran terluas di dunia. Menurut IUCN, alap-alap kawah berstatus Risiko Rendah (Least Concern). Selain kecepatan terbangnya tinggi, dia juga memiliki penglihatan yang baik dan tajam. Alap-alap kawah dapat mengidentifikasi dan melacak mangsa dengan akurat dari ketinggian yang cukup tinggi serta melihat objek dari jarak jauh, termasuk pergerakan hewan kecil di permukaan. 

Alap-alap kawah (Foto: Aditya Nugraha/Peserta Weekend Birding)

Selain membahas alap-alap kawah, Kang Ijo juga menjelaskan kondisi KRB sudah mengalami banyak perubahan. Sejak dulu, KRB menjadi tempat yang tepat untuk mengamati burung karena banyak burung di Bogor yang tinggal di sana. Itu berlangsung lancar hingga datangnya kucing, predator utama burung di dunia. 

Sampai datangnya kucing, predator utama burung di dunia adalah kucing yang menyebabkan banyak kepunahan burung terutama di pulau-pulau kecil. Kalo KRB diumpamakan sebagai pulau kecil, kucing sebetulnya adalah salah satu hewan yang perlu dikontrol populasinya. Kalau zaman dulu keragaman jenisnya lebuh banyak dan sekarang banyak burung yang lepas dari kandang, larinya ke sini (KRB) untuk tinggal,” ucapnya. 

Namun, seiring berjalannya waktu, kucing bukanlah menjadi ancaman bagi burung melainkan manusia. Hingga sekarang, manusia menjadi penyebab utama karena burung sangat sensitif terhadap gangguan dan perubahan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga ruang hidup burung, membatasi aktivitas yang merusak habitatnya, serta menghormati keberadaan mereka di alam agar burung tetap dapat hidup, berkembang biak, dan menjalankan perannya dalam keseimbangan ekosistem. 

Peserta Weekend Birding di KRB (Foto: Burung Indonesia)