Pagi itu, Pak Nur Jiwoto atau yang kerap disapa Pak Nur, berjalan dalam sunyi di tengah hutan rakyat yang berlokasi di Desa Purwosari. Ia tidak berjalan seorang diri. Beberapa tamu yang datang dari jauh mengikuti langkahnya dengan khidmat. Pemandangan hijau di kanan-kiri mewarnai jalan setapak hutan rakyat. Selain suara dedaunan yang terinjak, sesekali kicauan burung mengindahkan telinga para tamu yang terbiasa mendengar kebisingan klakson kendaraan.
“Hii-tii-hii-tii-witt…”
Bunyi salah satu spesies burung terdengar dari balik pepohonan. Kicauan itu indah, bertempo, membuat Pak Nur terdiam sejenak. Salah seorang tamu memejamkan mata sambil menikmatinya. Suara itu berasal dari cucak delima, spesies terancam punah berstatus Rentan (Vulnerable) yang banyak diburu karena kicauannya. Tak jauh dari kicauan itu, terdengar nyanyian dari empuloh janggut (Alophoixus bres) yang berstatus Genting (Endangered). Di sini, mereka tinggal bebas dan berkicau di alam tanpa takut terjerat jaring manusia.
Hutan rakyat Desa Purwosari menjadi rumah bagi beragam spesies burung. Menurut Pak Nur, hutan rakyat ini sudah ada sejak turun-temurun. Bagi dirinya dan warga lain, merawatnya adalah kewajiban. Berbagai jenis tanaman tumbuh di sana, seperti aren, bambu, mahoni, nangka, hingga kopi. Tanah yang subur membuat tumbuhan berkembang baik, membantu perekonomian warga. Terpenting, pepohonan itu menjadi tempat aman bagi burung untuk hidup.

Empuloh janggut (Alophoixus bres) (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)
Mendengar kicauan dan mengamati burung di Desa Purwosari hari ini merupakan hasil perjalanan panjang sebuah aksi konservasi yang dilakukan sesama warga. Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa tahun sebelumnya. Dahulu, perburuan marak terjadi. Para pemburu datang dari luar desa, bahkan luar kota, untuk menangkap spesies burung yang laku dijual di pasar.
“Dulu, banyak yang memburu karena burung bernilai ekonomis tinggi. Ditambah, di sini keanekaragaman hayati masih banyak, terutama burung-burung endemis. Banyak yang laku di pasaran biasanya karena kompetisi atau kejuaraan gantangan sehingga banyak peminatnya,” kata Nur.
Gantangan, arena lomba burung kicau, ramai pada periode tertentu. Perlombaan yang digemari masyarakat ini mendorong peminat burung semakin tinggi dan permintaan pasar melonjak. Perlahan, penangkapan dan perburuan burung kicau di alam semakin masif terjadi tanpa mempertimbangkan risiko besar yang mengancam kelestariannya.
Karena tergiur imbalan besar, sejumlah warga membantu dan melayani para pemburu. Tanpa disadari, populasi burung di alam menjadi sasaran. Jika terus diambil, jumlahnya berkurang dan lama-kelamaan bisa menghilang. Padahal, peran burung di alam sangat penting sebagai polinator (penyerbuk alami), seperti burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis). Sesuai namanya, burung ini mengonsumsi nektar sebagai makanan utama, meski juga memakan serangga kecil. Dalam ekosistem, burung yang juga disebut sogok ontong (sogon) ini berperan sebagai penyerbuk tanaman. Melalui perannya, ia berkontribusi pada keberlangsungan tumbuhan berbunga yang menjadi sumber makanan dan tempat berlindung bagi organisme lain.
Selain sebagai penyerbuk, burung juga berperan sebagai penyebar benih. Hal ini dirasakan oleh petani perempuan bernama Sarjiayati. Di kebunnya, ia tidak menanam cabai. Namun suatu hari, ia terkejut menemukan tanaman cabai tumbuh subur.
“Ibu juga tahu ternyata burung membantu panen. Dulu kita jarang tanam cabai, tapi ternyata ada cabai di kebun. Oh, ternyata itu dari burung,” ucapnya.
Burung juga memiliki peran sebagai pengendali hama. Burung pemakan serangga seperti caladi tilik (Picoides moluccensis) dan kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris) juga berperan sebagai pengendali hama. Di Desa Purwosari, keberadaan mereka menjadi mitra alami petani. Burung-burung ini membantu menjaga kestabilan hasil panen sekaligus mengurangi biaya operasional untuk pestisida.
Meski memiliki banyak peran penting, kesadaran untuk menjaga burung tidak tumbuh begitu saja. Ancaman nyata seperti perburuan membuat warga harus bekerja sama. Solidaritas dibangun perlahan melalui edukasi. Bicara mungkin mudah, tetapi melakukannya tidak sederhana.

Pak Nur di hutan rakyat (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)
Pak Nur menjelaskan, langkah pertama adalah melakukan pendekatan kepada teman-teman dekat. “Kita perlu mengalihkan fokus mereka sambil memberikan pengertian. Seperti, ini boleh diambil, ini tidak boleh. Kalau diambil semua nanti habis, anak dan cucu kita tidak dapat. Sedikit-sedikit kami lakukan agar mereka perlahan mau mengerti,” ujarnya.
Setelah itu, mereka dilibatkan dalam kegiatan seperti guiding (pemanduan pengamatan burung) dan pemberdayaan agar manfaat ekonomi tetap mengalir ke warga desa.
Upaya ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Selain pendekatan, dilakukan pula monitoring atau patroli, terutama di lokasi-lokasi bersarang. Pak Nur tidak bergerak sendiri. Kegiatan ini dilakukan bersama para wani tani.
Sarjiayati mengatakan edukasi pelestarian burung liar dilakukan secara perlahan, dimulai dari membahas dampaknya. “Boleh diambil, tapi jangan semua. Sisakan untuk berkembang biak. Kalau nanti habis, njenengan tidak bisa ambil lagi. Alangkah baiknya kita pelihara di alam supaya hasilnya berkesinambungan,” katanya.
Sarjiayati menyambut baik kehadiran Burung Indonesia di wilayahnya. Ia merasa kegiatan yang dilakukan memberi kesempatan bagi warga untuk mengenal burung dan lingkungan sekitar dengan cara yang lebih dekat.
“Mudah-mudahan semuanya menyadari bahwa ekosistem harus terjaga untuk keberlangsungan hidup,” ujarnya, berharap kesadaran itu tumbuh dari pengalaman yang dibagikan bersama.
Ke depan, Pak Nur berharap warga desa dan manusia di Bumi lebih mampu menjaga alam dengan penuh tanggung jawab. Sebab alam adalah amanah yang dititipkan untuk generasi mendatang.
“Yang kita perbuat harus kita tanggung jawabkan kepada generasi muda. Kita merawat bukan untuk mendapat warisan, tapi karena ini amanah yang dititipkan kepada kita,” tutupnya.
Selamat Hari Hidupan Liar Sedunia
