Mengenal Ragam Spesies Burung Endemis Sumba dan Tokoh di Balik Penamaannya

08 Oktober, 2025

Sumba, salah satu pulau dari banyaknya gugusan pulau di kawasan Wallacea menawarkan keindahan alam yang memesona. Dengan luas wilayah sekitar 11.059 km², Sumba memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sudah terkenal sejak dahulu. Banyak naturalis yang singgah dan meneliti keanekaragaman hayati di Pulau Sumba. Informasi-informasi soal Sumba perlahan mulai menyebar hingga Eropa. Salah satu yang menjadi objek penelitian menarik adalah spesies burung. Hal ini diungkapkan melalui catatan-catatan taksonomi dan penemuan spesies yang dilakukan oleh para ahli zoologi dan naturalis kala melakukan eksplorasi di Wallacea. 

Berkebangsaan Jerman, Herman Schlegel merupakan seorang naturalis dan ornitolog yang berkontribusi besar terhadap penemuan beberapa spesies satwa di Nusantara. Dia bekerja di Museum Leiden, Belanda. Istrinya, Cornelia Schlegel disematkan dalam nama latin spesies burung endemis Sumba, yaitu nuri-bayan sumba (Eclectus cornelia).

Herman Schlegel (Foto: Vysotsky/Wikipedia)

Selain nuri-bayan sumba, dia juga mendeskripsikan punai sumba dari spesimen koleksi Johannes Elias Teijsmann, seorang ahli botani dan kurator Kebun Raya Bogor (1831-1869) asal Belanda yang sangat berjasa dalam memperkaya koleksi flora Nusantara. Schlegel menyematkan nama Teijsmann pada penamaan punai sumba (Treron teysmanni). Status konservasi punai sumba berdasarkan penilaian IUCN tahun 2022 dikategorikan sebagai Mendekati Terancam Punah (Near Threatened). Artinya, luas sebaran terbatas dan adanya indikasi penurunan kualitas hutan yang menjadi daerah persebarannya, serta tergolong dalam populasi berukuran kecil yang rentan jika terdapat gangguan habitat atau penyakit.

Bergeser ke Amerika Serikat, William Doherty merupakan salah satu naturalis dan kolektor yang mencari koleksi spesimen serangga dan hewan. Dia melakukan perjalanan ke Eropa hingga ke Asia, termasuk Indonesia untuk mendeskripsikan lebih banyak spesies baru. Dia melakukan catatan perjalanan dan mengirim spesimen-spesimen burung hasil ekspedisinya ke Museum Tring, Inggris. Ornitolog asal Jerman, Erns Hartert yang kebetulan bekerja di Museum Tring, menerima hasil eksplorasi Doherty. Hartert tertarik dan menulis banyak deskripsi ilmiah serta menamai sejumlah spesies burung baru. Catatan Doherty kemudian disusun oleh Hartert lalu nama Doherty disematkan pada tiga burung yang ada di Sumba, yaitu anis nusa-tenggara (Geokichla dohertyi), walik rawamanu (Ptilinopus dohertyi), dan kepudang-sungu sumba (Edolisoma doherty). 

Walik rawamanu (Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer)

Dari ketiga spesies tersebut hanya walik rawamanu yang termasuk burung endemis Sumba. Burung dari family Columbidae ini mempunyai kebiasaan bertengger pada tajuk pohon tertinggi dari lingkungan sekitarnya. Suaranya menggema menghiasi kanopi hutan. Namun, populasinya menjadi perhatian karena menurut IUCN (2024), mereka masuk dalam kategori Rentan atau Vulnerable (VU) dengan estimasi individu dewasanya hanya sebanyak 5600-6000 ekor.

Hal ini diakibatkan adanya penurunan daya dukung habitat seperti berkurangnya jumlah pohon-pohon tinggi yang berubah fungsi menjadi ladang kebun. Seharusnya pohon-pohon tersebut merupakan tempat ideal bagi walik rawamanu yang mengabiskan sebagian besar waktunya di sana. Penambahan jumlah pohon dan pendalaman kajian aspek ekologi terhadap walik rawamanu menjadi hal yang perlu dilakukan agar menjaga dan meningkatkan jumlah populasi mereka di alam.

Selain menyusun catatan eksplorasi Doherty, Hartert juga diabadikan dalam nama latin burung, yaitu sikatan sumba (Ficedula harterti). Spesies ini dideskripsikan dengan jelas oleh Siebers pada 1928. Namun, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi yang dilakukan oleh Hartert di dunia ornitologi, Siebers menyematkan nama “Harterti” yang merujuk pada Ernst Hartert. Uniknya, Hartert juga mendeksripsikan burung endemis Sumba, yaitu burung-madu sumba yang kemudian menyematkan nama Johann Buttikofer dalam nama ilmiahnya, yaitu Cinnyris buettikoferi pada tahun 1896. Johannes Buttikofer merupakan taksonomis dan ahli zoologi asal Swiss. Dia terkenal karena kontribusi dalam deskripsi spesies burung dan pengabdiannya di Museum Leiden, Belanda. 

Sikatan sumba merupakan salah satu dari tiga spesies sikatan endemis sumba. Berdasarkan IUCN, status konservasi dari sikatan sumba dan burung-madu sumba adalah Risiko Rendah (Least Concern). Sikatan sumba berukuran kecil dengan bulu dominan cokelat pada punggung dan bagian atas tubuh, sementara dada dan perut berwarna lebih terang. Burung ini aktif di siang hari, sering terlihat melompat di cabang pohon atau semak-semak sambil mencari serangga sebagai makanan utamanya. Sikatan sumba hidup di hutan sekunder, tepi hutan, dan area berbatu atau terbuka di dataran rendah hingga perbukitan. Sebagai spesies endemis, keberadaannya sangat bergantung pada kelestarian habitat asli pulau Sumba.

Burung ini aktif mencari makan di siang hari, menghisap nektar dari bunga-bunga dan sesekali memangsa serangga kecil. Habitatnya meliputi hutan sekunder, perbukitan, kebun, dan kawasan dengan vegetasi berbunga. Populasi burung-madu sumba terancam oleh hilangnya habitat akibat deforestasi dan perambahan lahan, sehingga perlindungan terhadap lingkungannya sangat penting.

Burung-madu sumba (Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer)

Bukan seorang ornitolog, tetapi Ratu Wilhelmina tercantum dalam nama latin cabai sumba (Dicaeum wilhelminae). Pada usianya yang masih belia, sekitar 16-17 tahun, dia sudah mendapatkan amanah sebagai penguasa Hindia-Belanda. Penyematan tersebut diberikan oleh Johann Buttikofer sebagai bentuk penghormatan tempat dia bekerja di Belanda. Dia memberikan sampel kepada Belanda, khususnya Ratu Wilhelmina yang dideskripsikan pada tahun 1982. Berdasarkan publikasi “On a collection of Birds from the islands of Flores, Sumba and Rotti” oleh Johann Büttikofer (1892), disebut spesimen burung dari Sumba tersebut dikirim oleh Dr. H. ten Kate, sebagai bagian dari koleksi lapangan dari Flores, Sumba, dan Rote.

Berdasarkan informasi dari BirdLife Datazone dan IUCN pada asesmen 2024, cabai sumba dikategorikan sebagai Risiko Rendah (Least Concern) karena sebaran populasinya merata di hampir seluruh daratan sumba. Sejauh ini tidak ada gangguan signifikan terhadap habitatnya karena cabai sumba menyukai berbagai tipe habitat di Sumba, seperti tebing pesisir pantai, kebun dan ladang urban, hutan dataran rendah, hingga hutan pegunungan seperti di kawasan Manupeu dan Wanggameti.

Selain itu, ada Alfred Hart Everett, naturalis dan kolektor spesimen asal Inggris yang namanya diabadikan dalam nama latin burung endemis Sumba, seperti gemak sumba (Turnix everetti) dan julang sumba (Rhyticeros everetti). Alfred Hart Everett (11 Oktober 1848-18 Juni 1898), merupakan seorang naturalis berkebangsaan Inggris. Dia mulai bekerja mengumpulkan spesimen sejak 1869 di Sarawak (Baram), kemudian masuk pelayanan Kerajaan Sarawak (White Rajahs) sebagai resident di distrik Baram. Dia juga melakukan pengumpulan di Filipina, Kepulauan Sulu, dan kepulauan dekatnya serta bagian lain Nusantara. Everett menjual, menukar, atau mengirim  banyak koleksi, seperti burung, mamalia, reptil, amfibi, moluska ke museum-museum Eropa, terutama koleksi spesimen burung yang masuk ke British Museum (Natural History) dan kolektor swasta kaya seperti Rothschild. 

Walter Rothschild memiliki museum pribadi di Tring (Museum Zoologicum Tringense), yang kemudian menjadi salah satu koleksi ornitologi terbesar di dunia. Dia tidak selalu mengumpulkan sendiri. Sebaliknya, ia membeli atau menerima koleksi dari naturalis lapangan, misalnya Everett, Alfred Russel Wallace, dan banyak kolektor lain. Rothschild bersama asistennya, Ernst Hartert dan Karl Jordan kemudian mendeskripsikan spesies baru berdasarkan spesimen yang dikirimkan.

Berdasarkan catatan AMNH (American Museum of Natural History), Everett mengunjungi Waingapu pada tahun 1896 dan melakukan eskplorasi keragaman hayati. Pada tahun 1898, spesimen yang dia koleksi dari Sumba adalah gemak sumba (Turnix everetti) yang dideskripsikan oleh Hartert, 1898. Gemak sumba merupakan spesies burung yang sangat menyukai lahan semak belukar, alang-alang, dan padang rumput yang tinggi. Populasinya masih banyak selama padang rumput masih tersedia. Asesmen IUCN pada tahun 2024 menyebutkan kondisi populasi yang stabil dan dikategorikan sebagai Risiko Rendah (Least Concern). 

Karena jasanya dalam mengumpulkan spesimen di wilayah Asia Selatan hingga Asia Tenggara, beberapa naturalis lain menghormatinya dan menyematkan namanya di beberapa spesies, seperti julang sumba (Rhyticeros everetti). Julang sumba dideskripsikan oleh Rothschild tahun 1898 berdasarkan spesimen yang berasal dari koleksi Everett dari Sumba.

Julang sumba (Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer)

Menurut IUCN 2024, julang sumba termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Ketergantungan akan pohon untuk bersarang, pakannya yang semakin berkurang, dan berkurangnya pohon besar yang ada membuat julang sumba bersaing dengan burung lain burung lain dalam menguasai lubang sarang untuk melangsungkan regenerasi. Saat ini aksi konservasi yang dilakukan adalah melibatkan masyarakat lokal yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) melakukan monitoring pohon sarang dan pohon tidur. Aksi konservasi ini bertujuan agar masyarakat juga memiliki tanggung jawab atas kelestarian di alam yang sangat bersinggungan lansgung pada kegiatan sehari-harinya.

Erwin Stresemann (Foto: Wikipedia)

Nama spesies burung lain yang muncul datang dari sikatan-rimba sumba (Eumyias stresemanni) yang diambil dari Erwin Stresemann dan myzomela sumba (Myzomela dammermani) dari Karel Willem Dammerman. Sikatan-rimba sumba dan myzomela sumba merupakan burung endemis sumba yang statusnya Risiko Rendah (Least Concern). Myzomela sumba sangat menyukai bunga kaliandra dan bungai kersem yang sangat banyak tersebar dari kawasan hutan hingga di pekarangan-pekarangan rumah, sedangkan sikatan-rimba sumba menyukai tajuk pepohonan 4-6 m dari tanah, berayun di antara rimbunnya kanopi hutan. Mereka sering ditemukan bergabung bersama sikatan sumba dan sikatan-coklat sumba. Populasinya masih banyak ditemukan di tajuk pepohonan, baik dalam kawasan hutan maupun kawasan non-hutan, seperti kebun masyarakat atau pekarangan rumah.

Naskah oleh: Ditho Muhammad Thomas Huer, Junior Ecologist Sumba