Setiap tahun, cakrawala Bumi dilintasi oleh berbagai macam burung migran dari belahan Bumi utara menuju selatan dan sebaliknya. Mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk bertahan hidup hingga berkembang biak. Perjalanan panjang ini membutuhkan banyak tempat persinggahan, salah satunya mangrove. Ekosistem mangrove bukan hanya penting bagi hewan yang hidup di sekitarnya melainkan burung migran.
Bayangkan, sebuah perbatasan hijau antara daratan dan laut, tempat akar-akar kekar menembus lumpur dan menjulang tinggi. Itulah ekosistem mangrove, sebuah dunia unik yang tumbuh subur di garis pantai tropis dan subtropis. Secara umum, mangrove berfungsi melindungi pesisir dari abrasi, sumber kehidupan masyarakat, dan penyaring polutan alami. Namun, mangrove ternyata juga memiliki banyak manfaat bagi burung. Akar yang menjulang dan batangnya yang kokoh memiliki fungsi ekologis, khususnya bagi burung migran.
Ekosistem mangrove dikenal sebagai pelindung pantai atau lumbung rezeki bagi masyarakat di pesisir. Bahkan ia mahsyur sebagai penyaring alami yang membersihkan air. Namun, bagi ribuan burung yang berkelana melintasi benua, ekosistem ini lebih dari sekadar tempat singgah–sumber kehidupan mereka saat bermigrasi dari satu titik ke titik lain di Bumi. Ekosistem mangrove yang sehat menyediakan makanan yang melimpah dan naungan yang aman untuk berlindung serta beristirahat.

Hutan mangrove (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)
Tak hanya itu, beberapa jenis burung juga memanfaatkan kawasan mangrove untuk berkembang biak. Misal, jenis kuntul dan bangau yang membangun sarangnya di mangrove. Oleh karena itu, ekosistem mangrove bukan hanya penting sebagai tempat istiharat burung migran, melainkan telah menjadi bagian dari siklus hidup jangka panjang bagi berbagai spesies burung.
Menurut data dari Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia, sekitar 3,3 juta hektare. Sebagai lahan basah, hutan mangrove terletak di sepanjang jalur East Asian-Australasian Flyway (EAAF) atau Jalur Terbang Asia Timur-Australasia–salah satu dari sembilan jalur terbang utama dunia yang dilewati lebih dari 50 juta burung dari sekitar 250 spesies setiap tahun. Beberapa kawasan penting di Indonesia yang menjadi lokasi persinggahan utama burung migrasi di antaranya adalah Taman Nasional Sembilang di Sumatra Selatan, Taman Nasional Wasur di Papua, pesisir utara Pulau Jawa, delta Sungai Progo, Kepulauan Sangihe, dan kawasan pesisir di Pulau Seram, Maluku.
Karena hubungan mangrove dan burung sangat krusial, kehilangan satu titik saja menjadi masalah penting, seperti kawasan mangrove yang dirusak atau dikonversi menjadi tambak dam pemukiman. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove yang pada akhirnya mematikan sejumlah hewan yang hidup di sana. Di sepanjang jalur EAAF, ada burung migran yang terancam, seperti paok bidadari (pitta nympha) yang berstatus Vulnerable atau Genting menurut IUCN 2024.

Paok bidadari (Foto: Jason Thompson/Wikipedia)
Melindungi dan merestorasi mangrove adalah bentuk investasi jangka panjang, bukan hanya melindungi pantai dari abrasi dan meningkatkan penyerapan karbon melainkan memastikan kelangsungan hidup burung-burung bermigrasi yang menjadi bagian penting dari jaringan ekologi global.
Dengan menjaga ekosistem ini tetap utuh, kita membantu memastikan bahwa burung-burung ini dapat terus kembali setiap tahun—membawa cerita tentang perjalanan yang luar biasa, dan tentang betapa pentingnya tempat singgah di tengah alam di Bumi yang terus tergerus.
Selamat Hari Mangrove Sedunia, yuk jaga mangrove untuk generasi mendatang.
