Ketika Gundukan Sampah Menjadi Sumber Pangan bagi Burung Air

26 Februari, 2026

Sebagai ibu kota, Jakarta menjadi kota terpadat di Indonesia. Setiap hari, Jakarta tidak pernah absen dari kesibukan dunia, tempat banyak orang mengais rezeki. Seperti penduduk setempat, perjuangan tak kenal lelah menghampiri siapa pun yang hidup di Jakarta, termasuk burung air. Ekosistem yang menjadi tempat burung air mencari makan adalah lahan basah. Mencari lahan basah di Jakarta bukanlah hal yang sulit. Ada berbagai jenis lahan basah di Jakarta, mulai dari sawah, mangrove, hingga wilayah pesisir. Jakarta memiliki satu dari delapan Ramsar Site (kawasan lahan basah bernilai ekologis tinggi yang penting bagi habitat burung air dan burung migran) yang ada di Indonesia—sebuah keunikan tersendiri mengingat Jakarta merupakan kota metropolitan. Suaka Margasatwa Pulau Rambut yang terletak di Kepulauan Seribu, menjadi tempat yang “aman” bagi burung air mencari makan. 

Lantas bagaimana dengan lahan basah lain? Tak jauh dari Pulau Rambut, masih di ujung Jakarta, terdapat gundukan sampah yang terbawa aliran sungai dan tergenang di pesisir laut sekitar Teluk Jakrta, Angke, Jakarta). Gundukan sampah hasil dari buangan manusia berkumpul hingga mencapai pesisir dan membentuk suatu pulau yang hanya bisa dilihat jika air laut surut. Meskipun masih termasuk dalam wilayah Angke, titik koordinat lokasi gundukan-gundukan sampah itu tidak bisa ditemukan secara pasti. 

Dari gundukan itu, sebuah tempat bagi burung air lahir. Seiring berjalannya waktu, gundukan-gundukan sampah itu menjadi tempat persinggahan sekaligus sumber makanan bagi burung air dan burung migran. Cerek kernyut (Pluvialis fulva), cerek-pasir tibet (Charadrius atrifrons), trinil semak (Tringa glareola), dan blekok sawah (Ardeola speciosa) merupakan segelintir burung yang ditemui di sana. Meskipun mereka tergolong spesies umum, habitat gundukan-gundukan sampah ini merupakan dampak ketika lahan perkotaan tidak lagi bisa menyediakan lahan basah yang baik bagi burung air dan burung migran.

Blekok sawah (Ardeola speciosa) (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz)

Ada sejumlah alasan mengapa gundukan-gundukan sampah itu menarik perhatian bagi burung air dan burung migran. Sumber makanan yang hadir di sana cukup melimpah, termasuk sisa makanan manusia, serangga dan organisme lain yang muncul. Sayangnya, selalu ada risiko yang diambil di setiap tindakan. Di balik melimpahnya sumber makanan, burung air yang bertengger dan singgah di sana tidak terlepas dari ancaman. Gundukan-gundukan sampah tersebut dapat berdampak bagi keberlangsungan burung. Hal itu diungkapkan melalui beberapa studi, salah satunya dilakukan oleh Sahar Seif, dkk (2017) melalui kasus burung camar.

Mereka meneliti isi perut 41 burung dari tiga spesies camar yang ditangkap di tempat pembuangan sampah di Newfoundland, Kanada dan menemukan hampir 80% burung camar memiliki puing-puing sampah di perut mereka. Ada 284 potongan sampah yang teridentifikasi dan 59% di antaranya adalah plastik.

Sebuah studi oleh Stasiun Biologi Doñana dari Dewan Sains Spanyol (CSIC) bekerja sama dengan British Trust for Ornithology (BTO) menemukan bahwa burung camar yang mencari makan di tempat pembuangan sampah menelan sejumlah besar plastik dan puing-puing lainnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa 86% gumpalan yang dimuntahkan oleh burung camar mengandung plastik, dan 94% mengandung puing-puing lain seperti kaca dan tekstil.  (aku tambahkan di bagian mas ridha di bawah)

Selain kasus burung camar, dalam studi lain yang berjudul “Bird correlations with waste in Muara Gembong” oleh Winarni, dkk (2021), keberadaan sampah ternyata juga memengaruhi kelimpahan burung. Berdasarkan temuan ini, sampah anorganik di Muara Gembong dapat secara signifikan mengurangi kelimpahan burung dalam jangka panjang karena tumpukan sampah anorganik dapat menyebabkan kerusakan pada hutan bakau, yang merupakan habitat burung.

Hal itu juga diutarakan oleh Biodiversity Research Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid. Sampah dapat memberikan dampak kepada burung dengan cara menyerang habitatnya. Sampah pada suatu habitat dapat berpengaruh pada penurunan kelimpahan burung. Dalam jangka panjang, akumulasi sampah dapat berpengaruh pada perubahan komunitas burung hingga penurunan populasi spesies burung tertentu yang sensitif terhadap keberadaan sampah.

Di saat yang bersamaan, burung yang mencari makan di area dengan banyak sampah memiliki risiko. Sampah bisa saja secara tidak sengaja tertelan. Dalam beberapa kasus, burung dapat menelan potongan sampah anorganik karena memiliki bentuk, warna, dan aroma yang menyerupai makanannya. Menurut Savoca dkk (2016), sampah anorganik dapat menyumbat saluran pencernaan, merusak beragam organ internal, menyebabkan gangguan perkembangbiakan, kontaminasi logam berat, hingga dapat berujung pada kematian.

Raamsdonk pada penelitiannya tahun 2020 menyebutkan, dalam jangka panjang, sampah plastik yang terakumulasi dapat terpecah menjadi mikroplastik yang berukuran <5 mm. Dengan ukuran kecil ini, mikroplastik dapat dengan mudah masuk ke dalam jaring makanan dan terakumulasi di dalam tubuh organisme predator, termasuk burung. Akumulai mikroplastik tersebut terbukti ada di saluran pencernaan spesies pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) berdasarkan temuan Susanti (2022) di Pulau Rambut. 

Ridha menyebut burung pecuk-padi hitam merupakan spesies burung laut menjadikan ikan sebagai komposisi pakan dominannya. Burung ini mendapatkan mangsanya dengan berburu secara aktif mengejar dan menyelam di laut. Besar kemungkinan partikel mikroplastik masuk ke dalam tubuh burung pecuk-padi hitam dari makanannya atau secara tidak sengaja masuk saat menyelam. Efek dari akumulasi mikroplastik ke dalam saluran pencernaan tidak terjadi secara cepat, tapi dapat terjadi pada jangka waktu yang panjang yang menyebabkan gangguan pada pertumbuhan organisme dan kelainan reproduksi. 

Gundukan sampah di ujung utara Jakarta (Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz)

Kondisi ini diduga kuat dapat juga terjadi pada pecuk-padi hitam, dan dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan adalah penurunan populasi burung ini di wilayah Pulau Rambut. Spesies lain yang memiliki tipe pakan dan perilaku pencarian pakan yang serupa besar kemungkinan juga mengalami hal yang serupa walaupun masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Selain risiko tertelan, sampah anorganik seperti jaring bekas nelayan dan tali plastik juga dapat memerangkap burung. Burung yang terjerat berisiko mengalami cedera, kehilangan energi saat berusaha melepaskan diri, tidak dapat berburu sehingga mengalami dehidrasi dan kelaparan, bahkan dapat berujung pada kematian. Penelitian Ryan (2018) mencatat ratusan spesies burung laut, burung air tawar, hingga burung darat telah terdokumentasikan mengalami jeratan oleh perlengkapan perikanan dan material sintetis lainnya.

Dampak sampah tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga tidak langsung melalui kerusakan habitat. Penelitian Winarni, dkk (2022) di pesisir Jakarta Utara menunjukkan bahwa lebih dari 85% sampah yang ditemukan di habitat mangrove didominasi oleh plastik, bahkan di salah satu lokasi mencapai 90%. Studi van Bijsterveldt dkk. (2021) menjelaskan bahwa tumpukan plastik yang menutupi tumbuhan bakau dalam jangka panjang dapat menyumbat pneumatofor (akar napas), menghambat pertumbuhan, menyebabkan kehilangan daun, hingga memicu kematian pohon. Dalam skala luas, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hutan bakau dan berdampak pada perubahan komunitas burung.

Gundukan-gundukan sampah yang tergenang di pesisir laut di Jakarta, mungkin menjadi sumber makanan bagi burung air dan burung migran hingga hari ini di tengah menyusutnya lahan basah yang “layak.” Burung-burung itu datang bukan karena tempat itu ideal, melainkan karena mereka mampu beradaptasi. Ketika lahan basah yang seharusnya menjadi rumah semakin terdesak, bahkan tumpukan sampah pun menjadi pilihan. Di situlah ironi bahwa dari sisa yang kita buang, tercipta ruang hidup darurat bagi makhluk lain.

Hari Sampah Nasional semestinya bukan hanya tentang mengurangi timbunan limbah, tetapi juga tentang memulihkan ruang hidup yang semestinya. Agar suatu hari nanti, burung air tak lagi perlu mengais di antara plastik untuk bertahan hidup melainkan kembali ke lahan basah yang benar-benar layak disebut rumah.

Sumber:

https://link.springer.com/article/10.1007/s00244-017-0492-8

https://shunwaste.com/article/does-feeding-gulls-cause-pollution?utm_source=chatgpt.com

Ayujawi, S. A., Winarni, N. L., & Pradana, D. H. (2021). “Bird correlations with waste in Muara Gembong” – studi tentang hubungan antara keberadaan sampah dan kelimpahan burung di Muara Gembong.

 

Winarni, N. L., dkk. (2022). “Problems in Paradise: Mangrove bird communities impacted by litter in Jakarta Bay” – penelitian mengenai dampak sampah terhadap komunitas burung mangrove di Teluk Jakarta.

 

Ryan, P. G. (2018). “Entanglement of birds in plastics and other synthetic materials” – penelitian tentang jeratan plastik pada berbagai spesies burung.

 

Savoca, M. S., dkk. (2016). “Marine plastic debris emits a keystone infochemical for olfactory foraging seabirds” – studi yang menjelaskan mengapa burung laut tertarik dan dapat salah mengenali plastik sebagai makanan.

 

Raamsdonk, L. W. D. van, dkk. (2020). Kajian mengenai akumulasi mikroplastik dalam rantai makanan dan dampaknya terhadap organisme predator.

 

Susanti, N. K. Y., dkk. (2022). “Microplastics in Digestive System of Little-black Cormorant in Pulau Rambut Sanctuary” – penelitian tentang temuan mikroplastik pada pecuk-padi hitam di Pulau Rambut.

 

van Bijsterveldt, C. E. J., dkk. (2021). “Does plastic waste kill mangroves?” – eksperimen lapangan mengenai dampak makroplastik terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup mangrove.