Kenapa Pembangunan Berkelanjutan Penting untuk Keanekaragaman Hayati?

21 Mei, 2025

Usia Bumi sudah semakin tua. Kepunahan satwa hingga badai kehancuran keanekaragaman hayati tidak bisa dihindarkan. Parahnya, semua bencana itu telah diprediksi oleh beberapa ilmuwan.  

Menurut temuan Giovanni Strona dan Corey Bradshaw (2022), penurunan keanekaragaman hayati diprediksi menurun drastis pada akhir abad ini. Pada tahun 2050, 6%-10,8% spesies vertebrata akan hilang. Angka tersebut kian meningkat pada 2100 sebesar 13%-27%. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa dekade mendatang akan menjadi periode krusial bagi masa depan keanekaragaman hayati global.

Populasi Manusia Terus Bertambah

Manusia ada di balik semua kemarahan alam yang sedang berlangsung. Tahun ke tahun, jumlah populasi manusia meningkat signifikan yang mempersempit ruang untuk keanekaragaman hayati. Berdasarkan studi “The Environmental Impacts of Overpopulation” oleh Alon Tal (2025), populasi manusia bertambah sebanyak satu miliar hanya dalam 12 tahun antara tahun 2011 dan 2023. Peningkatan tersebut lebih cepat dibandingkan 15 tahun sebelumnya (1960-1975), dari tiga miliar menjadi empat miliar. Tiap tahunnya, pertambahannya bisa mencapai sekitar 80 juta.

PBB memperkirakan bahwa populasi manusia akan terus meningkat, dari 8,2 miliar menjadi 10,2 miliar pada pertengahan 2080-an. Menurut WHO, tingkat kepunahan spesies saat ini 10 hingga 100 kali lebih tinggi dari tingkat alami. 

Deforestasi hingga Terancamnya Burung Kicau

Bertambahnya populasi manusia membuat permintaan kayu kian bertambah yang digunakan untuk konstruksi, militer, pertanian, hingga produk konsumen. Menurut temuan Christopher Wolf (2021), dalam praktiknya hanya sekitar 6,5% hutan di dunia yang dilindungi secara efektif. National Geographic melaporkan kurang dari sepertiga hutan yang utuh di Bumi. Tak bisa dicegah, deforestasi menjadi salah satu masalah serius secara global. Selama dua dekade terakhir, deforestasi terjadi di negara-negara dengan populasi manusia yang terus bertambah, seperti Indonesia (30,8 juta hektare). 

Deforestasi menghilangkan keanekaragaman hayati, termasuk burung. Ada banyak jenis burung yang tinggal di hutan, seperti burung kicau. Hutan dan burung kicau telah menjadi satu entitas dalam ekosistem yang saling menguntungkan. Namun, hubungan ini dibayangi ancaman karena kondisi yang harus dihadapi burung kicau kian meresahkan. Saat ini, burung kicau menjadi hewan peliharaan yang tak kalah populer dibandingkan kucing atau anjing. Masyarakat terpana dengan keindahan fisik dan suara burung. Namun, kemerduannya perlahan menjadikannya objek yang diperlombakan. 

Foto: Freepik

Tingginya minat pada kontes burung kicau berdampak pada jumlah populasi burung kicau yang terus menurun. Perburuan hingga perdagangan ilegal makin masif terjadi. Penelitian pada 2005, oleh Paul R Jepson dan Richard Ladle mengungkapkan ada 2,8 juta burung peliharaan di kota-kota besar di Jawa dan Bali. Hampir setengahnya adalah hasil tangkapan dari alam. Selang 13 tahun kemudian, studi terbaru memperkirakan terdapat sedikitnya 60 juta burung dipelihara dalam sangkar oleh hampir 12 juta rumah tangga di Pulau Jawa saja. Kondisi tersebut sungguh ironi, mengingat ada banyak burung kicau berstatus Kritis (Critically Endangered) di alam, seperti cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), jalak-suren jawa (Gracupica jalla), dan ekek-geling jawa (Cissa thalassina). Jika populasinya kian menurun, mereka akan punah. 

Bukan hanya hutan, area lahan basah (wetlands) juga berdampak dari kenaikan populasi manusia di dunia. Degradasi lahan basah telah menyebabkan penurunan luas lahan basah global sebesar 35% sejak tahun 1970, meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui air dan mengurangi ketersediaan air bagi lebih dari dua miliar orang. Area lahan basah yang terdiri dari ekosistem gambut, rawa, sungai, danau, dan bakau menjadi habitat burung. Bukan hanya habitat permanen, melainkan tempat persinggahan bagi burung migran yang sedang meruaya. Sayangnya, habitat alami perlahan telah berubah karena konversi lahan dan kegiatan industri. Hal itu diperparah dengan penangkapan burung untuk dikonsumsi atau dipelihara. Akibatnya, beberapa populasi spesies burung yang hidup di lahan basah menurun. Salah satu yang disorot adalah mentok rimba (Asarcornis scutulata). 

Menurut data IUCN, mentok rimba dikategorikan dalam kondisi Kritis (Critically Endangered). Di Indonesia, mentok rimba telah punah secara lokal di sebagian besar wilayah sebarannya, dan kini hanya bertahan di beberapa kawasan. Menurut temuan Ahmaed (2023), mentok rimba dapat dijumpai di Lampung dan Riau, seperti Taman Nasional Way Kambas dan Semenanjung Kampar.

Mentok rimba (Foto: Burung Indonesia/Jacob Wijpkema)

Kepunahan Spesies tak Luput dari Perubahan Iklim 

Kepunahan spesies tidak terlepas dari perubahan iklim yang menyebabkan perubahan suhu dan pola curah hujan. Kedua hal ini dapat mengubah habitat dan interaksi spesies. 

Berdasarkan studi yang diterbitkan di Science oleh Mark C. Urban (2024), mengungkapkan, diperkirakan pada 2100, sebanyak 1800 spesies akan berisiko punah. Pada ekosistem pegunungan, pulau, dan air tawar memiliki spesies yang paling berisiko. Kemungkinan karena lingkungan terisolasi ini dikelilingi oleh habitat yang tidak ramah bagi spesies mereka sehingga sulit atau tidak mungkin bagi mereka untuk bermigrasi dan mencari iklim yang lebih baik. 

Perubahan iklim jangka panjang memengaruhi kelangsungan hidup dan kesehatan ekosistem, yang memicu pergeseran distribusi tumbuhan, patogen, hewan, bahkan permukiman manusia. Dalam menghadapi tantangan ini, perlu dilakukan pendekatan berbasis ekosistem untuk mitigasi dan adaptasi terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia.

Ekosistem seperti hutan dan rawa-rawa berfungsi sebagai penyerap karbon alami, menyerap karbon dioksida dan mengatur suhu global. Kehancuran ekosistem ini mempercepat perubahan iklim. Pada akhirnya akan menyebabkan gelombang panas, banjir, dan kondisi kesehatan buruk, seperti malnutrisi hingga penyebaran penyakit yang ditularkan oleh satwa perantara (vektor) seperti malaria dan demam berdarah.

Keanekaragaman hayati merupakan dasar dari semua kehidupan di Bumi. Manusia bergantung untuk mencari makanan, obat-obatan, energi, udara dan air bersih, perlindungan dari bencana alam, hingga rekreasi. Oleh karena itu, ditetapkan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG). Konsep ini terdiri dari 17 tujuan yang mencakup tantangan lingkungan sosial, dan ekonomi untuk kemajuan berkelanjutan tahun 2030.

Selaras dengan itu pada COP15 CBD 2022, disepakati pula Kumming Montreal Global Biodiversity Framework (KMBGF) yang bertujuan mempertahankan, meningkatkan, atau memulihkan integritas, konektivitas, dan ketahanan semua ekosistem.

Keberhasilan implementasi KMGBF dan SDGs memerlukan upaya seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat. Kita membutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal, dunia usaha, perempuan, dan pemuda. Selamat Hari Keanekaragaman Hayati 2025!