Kembang Mekar yang Terus Bermekaran dengan Aksi Konservasi

21 Juli, 2025

Kekayaan yang ada di bentang alam Mbeliling, Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi tempat perlindungan bagi tumbuh-tumbuhan dan spesies-spesies burung endemis. Bagi masyarakat lokal, mereka memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satunya adalah kelompok Kembang Mekar di Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling, sebuah desa yang terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Mayoritas anggotanya adalah para perempuan tani. Mereka adalah ibu rumah tangga yang memiliki peran bertani dalam keluarganya.

Kembang Mekar dibentuk sejak tahun 2007. Tadinya, tujuan pembentukan kelompok guna menyelenggarakan kegiatan simpan-pinjam atau Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Adanya UBSP, mereka dapat lebih mudah mendapat pinjaman ketika menghadapi kondisi mendesak, seperti kesehatan, pendidikan, dan tuntutan adat. Berkat semangat kebersamaan anggota dan keikhlasan pengurus dalam menata organisasi, kelompok ini terus berkembang. Kembang Mekar terus bermekaran, anggotanya kian bertambah. Saat ini, sudah berjumlah 35 orang. 

Kembang Mekar juga dilirik oleh para bapak. Para bapak telah bergabung menjadi anggota kelompok yang berjumlah lima orang, berbaur dengan para mama. Tahun 2008 merupakan momen penting bagi Kembang Mekar ketika Burung Indonesia dan mitranya menawarkan pendampingan. Mereka mulai diperkenalkan dengan ide-ide konservasi dan difasilitasi dengan berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas. 

Kelompok Kembang Mekar (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)

Atas dasar ini, mereka dipercaya menjadi kelompok pengembangan konservasi dengan mandat utama sebagai pelopor kegiatan konservasi di desa. Menyandang sebagai kelompok pengembangan konservasi, Kembang Mekar semakin tertantang. Mereka melaksanakan kegiatan monitoring layanan alam secara rutin dan melakukan aksi tindak lanjut terhadap berbagai temuan monitoring. Namun, bagi mereka, hal ini belum terasa cukup. Mereka ingin berbuat lebih nyata di tingkat tapak yang dapat memberi manfaat secara ekologi maupun pengembangan ekonomi keluarga mereka.

Bersama dengan dukungan yang diberikan oleh Trillion Trees, Kembang Mekar bertekad untuk mengembangkan wanatani pada tahun 2023. Kembang Mekar sebagai kumpulan para perempuan tani ingin menunjukkan dirinya sebagai pelopor konservasi di desa. Dengan dibantu oleh fasilitator desa dari Burung Indonesia, mereka mempersiapkan perencanaan pembibitan tanaman maupun perencanaan kebun masing-masing.

Berdasarkan analisis kebutuhan, Kembang Mekar memutuskan untuk menyiapkan sebanyak 2.005 bibit tanaman komoditas perdagangan maupun buahan-buahan, yaitu pala, durian, kopi, salak, dan jeruk. Pemilihan jenis ini sudah mempertimbangkan prospek pasar terutama seiring dengan perkembangan kegiatan wisata di Labuan Bajo.

Bentang alam Mbeliling (Foto: Muhammad Meisa)

“Tanaman ini mungkin tidak akan kami nikmati hasilnya tetapi anak-anak kami pada saatnya akan menikmati. Anak-anak kami akan terlibat lebih nyata dan merasakan manfaat pariwisata nantinya. Mereka bisa menjual buah-buahan,” ucap Mama Skolastika Erimina. Mama yang menjabat sebagai ketua kelompok ini menambahkan wanatani juga menjadi wujud nyata dari komitmen mereka terhadap konservasi.

Sejak Maret 2025, anggota kelompok mulai menikmati hasil jerih payah mereka. Mereka berhasil menyiapkan bibit tanaman sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan kebun mereka masing-masing. Menurut data dari fasilitator desa Burung Indonesia, Maximus Abun, bibit yang berhasil disiapkan dan layak tanam berjumlah 1.848, terdiri dari lima jenis bibit. 

“Semua bibit yang layak tanam ini sudah didistribusikan kepada semua anggota sesuai perencanaan kebun masing-masing,” kata Maximus. 

Burung Indonesia juga  telah melakukan pemantauan ke kebun masing-masing. Dengan menggunakan aplikasi FORMAPP, kegiatan penanaman setiap kebun teregistrasi dalam sistem yang dapat dipantau secara daring. Dari hasil monitoring pertama, survival rate dari kegiatan penanaman ini mencapai 93%.

Hasil kerja ini tentu masih sangat kecil dan belum terasa besar dampaknya. Namun, inilah langkah kecil dan kontribusi dari perempuan tani di Kembang Mekar melalui kegiatan wanatani untuk kepentingan konservasi keragaman hayati maupun keberlanjutan layanan alam. Semoga akan terus berkembang mekar di masa yang akan datang.