Sejak jagat maya dihebohkan dengan video singkat yang memaparkan seekor kura-kura sulit bernapas karena terhambat sedotan, polusi plastik (plastic pollution) menjadi topik hangat hingga saat ini. Menurut UNEP, lebih dari 460 juta ton plastik yang diproduksi setiap tahun. Parahnya, diperkirakan 11 juta ton limbah plastik masuk ke ekosistem perairan secara global setiap tahun. Di saat yang sama, mikroplastik menumpuk di tanah akibat limbah domestik dan tempat pembuangan air.
Kondisi ini menjadi masalah serius bagi makhluk-makhluk yang hidup di Bumi. Kendati sangat berguna, plastik menjadi masalah serius–terlebih jika dibuang secara tidak benar. Limbah plastik dapat mencemari lingkungan yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi ekosistem. Tak sadar, kondisi ini berdampak fatal bagi kesehatan manusia. Jika dicermati, polusi plastik dapat memengaruhi keamanan pangan dan air, membebani aktivitas ekonomi, dan berkontribusi pada perubahan iklim.
Sebagian besar polusi plastik di dunia dihasilkan dari produk sekali pakai, seperti botol, tutup botol, rokok, kantong belanja, cangkir, dan sedotan. Sumber polusi plastik utama berasal dari daratan, termasuk aliran air hujan perkotaan, sampah yang dibuang sembarangan, aktivitas industri, konstruksi, dan pertanian. Selain berasal dari darat, di area laut, polusi plastik berasal dari sampah kapal hingga peralatan penangkapan ikan yang dibuang. Akibat radiasi matahari, angin, arus, dan faktor alam lainnya, plastik terurai menjadi partikel mikroplastik (kurang dari 5 mm) dan nanoplastik (kurang dari 100 nm).
Partikel mikroplastik juga berasal dari produk seperti tekstil sintetis dan ban melalui abrasi. Nanoplastik mampu menembus dinding sel dan masuk ke dalam organisme hidup. Banyak negara tidak memiliki kapasitas dan fasilitas yang memadai untuk mengelola produk plastik dan limbah dengan benar. Dampak ini dirasakan di negara berkembang, masyarakat adat, komunitas lokal, perempuan, dan anak-anak. Sialnya, kondisi ini diperparah oleh perdagangan global produk plastik dan limbah ke lokasi-lokasi saat infrastruktur tidak memadai untuk pengelolaan yang aman dan ramah lingkungan.

Ilustrasi Polusi Plastik (Foto: Envato)
Selain manusia, salah satu makhluk hidup yang sangat berdampak terhadap polusi plastik adalah burung. Dalam keseimbangan ekosistem, burung mempunyai banyak peran penting. Sayangnya, peningkatan polusi plastik mengancam keberadaan mereka. Berdasarkan studi yang dipimpin oleh Alix de Jersey dari University of Tasmania’s School of Medicine (2025), Plastik dapat menyebabkan penyakit serupa alzheimer pada burung. Penelitian tersebut dilakukan terhadap burung-burung migran, anakan Penggunting-laut Kaki-merah (Ardenna carneipes) yang bermigrasi di Pulau Lord Howe, Australia dan Jepang.
Banyak dari mereka secara tidak sengaja diberi makan sampah plastik oleh induknya. Lambat laun, kadar plastik menumpuk di perut mereka. Berdasarkan tes darah yang dilakukan tim peneliti, menunjukkan, polusi plastik telah menyebabkan masalah kesehatan serius pada anak burung.
“Dalam tes darah, kami menemukan pola protein yang sangat mirip dengan yang ditemukan pada orang yang menderita alzheimer atau parkinson. Temuan ini hampir setara dengan seorang anak kecil yang menderita alzheimer,” kata pemimpin studi Alix de Jersey.

Penggunting-laut Kaki-merah (Foto: Duncan/Wikipedia)
Selain alzheimer, studi lain juga mengungkapkan pengaruh plastik terhadap kesehatan paru-paru burung. Menurut studi oleh asisten profesor biologi Shane DuBay dari University of Texas at Arlington (2025), partikel plastik mikroskopis sangat berbahaya bagi manusia dan burung.
Dalam studi ini, burung dipilih sebagai objek penelitian karena burung berperan sebagai indikator penting di lingkungan. DuBay dan timnya meneliti 56 burung liar dari 51 spesies yang berbeda. Semua sempel diambil dari Bandara Tianfu, di barat China. Mereka mengumpulkan sampel paru-paru dari setiap burung dan melakukan analisis kimia.
Mereka menggunakan teknologi laser untuk mendeteksi dan menghitung mikroplastik di paru-paru burung. Alat tersebut juga dapat mengidentifikasi nanoplastik yang masuk ke aliran darah melalui paru-paru. Studi menemukan adanya tingkat mikroplastik tinggi di paru-paru burung dengan rata-rata 221 partikel per spesies dan 416 partikel per gram jaringan paru-paru.
Jenis plastik yang paling umum teridentifikasi adalah polietilena terklorinasi yang digunakan untuk mengisolasi pipa dan kabel, serta karet butadiena, bahan sintetis dalam ban. Tingkatan partikel plastik dalam jaringan paru-paru dapat menjadi masalah serius. Plastik tersebut dapat berujung pada penyakit jantung, kanker, hingga gangguan kesuburan.
“Penelitian kami menyoroti kebutuhan mendesak untuk menangani polusi plastik di lingkungan kita, karena plastik berdampak luas pada kesehatan ekosistem, serta kesehatan manusia,” kata DuBay.

Ilustrasi menanam pohon (Foto: Freepik)
Dua studi tadi menyadarkan betapa parahnya kondisi lingkungan kita. Namun, di balik ketakutan dan ancaman, masih ada secuil harapan untuk memperbaiki lingkungan yang sudah kita nodai. Salah satu upaya kecil adalah tidak memakai kantung belanja plastik atau penyediaan sedotan plastik.
Jika dilihat secara global, untuk mengatasi tiga krisis besar yang sedang berlangsung di Bumi (Triple Planetary Crisis) adalah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GDF), Perjanjian Paris, dan Tujuan Pembagunan Berkelanjutan (SDGs). Ketiganya memerlukan pendekatan bersama dan tindakan kolektif secara global. Menurut IUCN, ada beberapa langkah untuk mengatasi polusi plastik secara global, terdiri dari:
- Pengurangan ambisius dalam produksi plastik, penghapusan subsidi yang merugikan, eliminasi produk dan bahan kimia yang meresahkan, serta kesepakatan untuk mengadopsi rencana nasional yang kuat, persyaratan pelaporan, dan mekanisme kepatuhan.
- Tujuan, target, dan tindakan yang dapat diukur dan berkelanjutan secara ekologi.
- Proses yang inklusif, adil, dan responsif terhadap gender, serta kerangka kerja berbasis sains yang efektif dan positif bagi alam, termasuk perjanjian global.
- Konvergensi antara komitmen yang dibuat oleh negara-negara di berbagai perjanjian internasional dan regional, termasuk GBF, kesepakatan di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut mengenai Konservasi dan Penggunaan Berkelanjutan Keanekaragaman Hayati Laut di Wilayah di Luar Yurisdiksi Nasional (BBNJ), Konvensi Ramsar tentang Lahan Basah, dan lainnya.
- Peningkatan desain produk yang dibuat dengan pendekatan siklus hidup penuh untuk ekonomi sirkular yang lebih baik, serta dukungan untuk Sistem Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility Systems) yang ramah lingkungan.
- Peningkatan legislasi nasional dan kapasitas untuk menangani polusi plastik, pelaporan, dan kepatuhan.
- Pendanaan mekanisme pembiayaan yang kuat untuk pembangunan kapasitas, bantuan dan transfer teknologi, pendidikan, serta untuk mengembangkan dan berbagi pengetahuan tradisional dan adat.
Pada Hari Lingkungan Sedunia 5 Mei 2025 dengan tema “Beat Plastic Pollution”, mari kurangi sampah plastik. Tidak ada salahnya perubahan dimulai dari perbuatan kecil untuk Bumi dan generasi mendatang.
