Karnaval Kemerdekaan merupakan agenda rutin yang diadakan di setiap kabupaten di Pulau Sumba. Seperti yang digelar di Kabupaten Sumba Timur pada 13 Agustus dengan rute lapangan Prailiu sampai kompleks DPRD di Waingapu. Kabupaten Sumba Barat juga turut mengadakan di tanggal 13-18 dengan peserta berbeda setiap harinya.
Berbeda dengan kabupaten lain, Kabupaten Sumba Tengah justru mengadakan karnaval setelah peringatan hari kemerdekaan. Karnaval digelar pada 19 Agustus. Peserta yang hadir sangat beragam, mulai dari SD, SMP, dan SMA, paguyuban daerah, hingga dinas-dinas ikut terlibat.

Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer
Karnaval di Sumba Tengah dimulai di titik kumpul Kantor Desa Wairasa. Kemudian iring-iringan akan dilakukan hingga Lapangan Makatul (Komplek Dinas Kabupaten Sumba Tengah). Para peserta dihimpun melalui proses pendaftaran pada hari sebelumnya. Panitia mengimbau untuk mulai berkumpul pada pukul 10.00 WITA. Tim Burung Indonesia Sumba mulai masuk barisan di urutan 52 dari 69 peserta, agak jauh terbelakang. Mereka terlihat ciamik dengan tiga kostum burung endemis sumba, yaitu nuri-bayan sumba, kakatua sumba, dan julang sumba. Nuri-bayan sumba yang berwarna merah dan kakatua sumba yang berwarna putih merepresentasikan warna bendera Indonesia.
Selagi menunggu giliran iring-iringan, ada banyak orang yang ingin berfoto dengan maskot tim Burung Indonesia Sumba. Mereka sangat antusias, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Saat giliran tim Burung Indonesia Sumba tiba untuk iring-iringan, mereka berjalan sambil menggunakan slogan “Indonesia Merdeka, Alam Sumba Terjaga.” Slogan itu diartikan bahwa masih ada harapan di setiap tahun kemerdekaan untuk Indonesia menjadi lebih baik.

Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer
Penonton tampak terpaku dan terkesima dengan penampilan iring-iringan tim Burung Indonesia Sumba. Mereka tidak hanya melihat indahnya kostum dari burung endemis Sumba, tetapi juga mendengar suara-suara khas dari burung-burung tersebut yang diperbesar dengan pengeras suara.
Kehadiran mereka cukup memberi warna pada pawai karnaval ini. Sebab, tidak ada peserta lain yang menampilkan kostum burung endemis Sumba. Namun, sejumlah peserta juga tampil memikat, seperti tampilan akrobat bayoret marching band. Ada juga arak-arakan ogoh-ogoh setinggi tiga meter dari paguyuban Bali. Iring-iringan dari setiap peserta akhirnya mencapai titik tujuan, yaitu Lapangan Makatul yang berada di Kompleks Perkantoran Dinas Kabupaten Sumba Tengah.

Foto: Burung Indonesia/Ditho Muhammad Thomas Huer
Setelah sampai, tim Burung Indonesia Sumba segera memberikan penampilan yang berisi edukasi terkait burung-burung di Sumba. Mereka menyanyikan lagu berbahasa daerah yang menceritakan kisah kakatua sumba dan burung-burung lain di Sumba. Penampilan berjalan dengan lancar dan penonton bersorak gembira setelah tampilan berakhir. Melalui kegiatan kecil ini, diharapkan penyadartahuan terkait burung endemis Sumba semakin meningkat di kalangan masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat akan lebih peduli dalam aksi pelestarian.
Naskah oleh: Ditho Muhammad Thomas Huer, Junior Ecologist Sumba
