Status Burung di Indonesia 2025
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari lebih dari 11.000 spesies burung yang telah diketahui secara global, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah spesies burung tertinggi, dengan lebih dari 1.800 spesies tercatat. Keunikan lainnya, Indonesia memiliki tingkat endemisitas burung yang sangat tinggi, dengan lebih dari 500 spesies yang hanya ditemukan di wilayah kepulauan Nusantara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Keanekaragaman spesies burung ini tersebar di ekosistem daratan dan perairan yang kompleks, mencerminkan kondisi geografis, geologi, dan ekologis yang sangat beragam.
Meskipun demikian, dokumentasi dan pemahaman yang komprehensif mengenai perubahan status burung di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Ancaman terhadap populasi burung terus berkembang, baik akibat perusakan habitat, perubahan penggunaan lahan, perburuan dan perdagangan ilegal, hingga dampak perubahan iklim (BirdLife International, 2025a). Oleh karena itu, Status Burung di Indonesia Tahun 2025 hadir sebagai sebuah publikasi yang bertujuan untuk mengisi kesenjangan informasi ini. Publikasi ini menyajikan gambaran terkini mengenai status keanekaragaman burung, tingkat keterancaman spesies, pola endemisitas, serta distribusi burung di Indonesia, berdasarkan sumber data ilmiah terbaru serta kontribusi dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan.
Dokumen ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi konservasi, serta masyarakat luas dalam memahami dinamika keanekaragaman burung di Indonesia. Informasi yang disajikan juga dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas konservasi, baik dalam skala nasional maupun lokal, serta mendukung upaya perlindungan spesies dan habitatnya secara lebih efektif. Dengan adanya pembaruan data dan analisis yang lebih mendalam setiap tahunnya, publikasi ini juga berperan dalam mengidentifikasi awal tren populasi burung, mengantisipasi ancaman yang muncul, serta memperkuat strategi konservasi berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui Status Burung di Indonesia Tahun 2025, Burung Indonesia berkomitmen untuk terus menyediakan informasi yang akurat dan relevan bagi semua pihak yang peduli terhadap pelestarian burung dan habitatnya. Publikasi ini menjadi bagian dari upaya kolektif dalam memastikan bahwa kekayaan keanekaragaman burung Indonesia tetap lestari dan terus berkontribusi pada keseimbangan ekosistem serta kehidupan manusia di masa mendatang.
Perubahan Keanekaragaman Burung Terkini
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, data yang dikumpulkan sepanjang tahun 2024 dari berbagai sumber menunjukkan bahwa keanekaragaman burung di Indonesia relatif stabil. Tidak ditemukan penambahan spesies baru, baik melalui observasi lapangan maupun publikasi ilmiah terkini. Penamaan dan pengelompokan ulang dalam taksonomi burung juga mengalami sedikit perubahan pada periode ini.
Pada tahun-tahun sebelumnya, revisi taksonomi—seperti pemisahan (splitting) atau penggabungan (lumping) spesies—sering kali menjadi penyumbang utama peningkatan jumlah spesies burung yang tercatat di Indonesia. Namun, pada tahun ini, hanya terjadi perubahan kecil berupa pengurangan satu spesies dalam daftar. Jumlah spesies burung yang tercatat secara resmi turun dari 1.836 menjadi 1.835.
Pengurangan ini disebabkan oleh dikeluarkannya kapinis kecil (Apus affinis) dari daftar spesies burung di Indonesia. Spesies ini kini dianggap tidak lagi memiliki sebaran alami di wilayah Indonesia, seiring dengan penyempurnaan dalam penentuan sebaran geografis dan taksonominya. Sebelumnya, Apus affinis sering dianggap sejenis (conspecific) dengan kapinis rumah (Apus nipalensis), namun hasil penelitian oleh Päckert et al., (2012) menunjukkan bahwa keduanya merupakan spesies berbeda berdasarkan perbedaan morfologi, perilaku, serta analisis genetik. Studi tersebut juga menempatkan Apus affinis dalam satu klan bersama spesies kapinis lainnya, seperti Apus caffer (White-rumped Swift), Apus batesi (Bates’s Swift), Apus horus (Horus Swift), dan Apus nipalensis (kapinis rumah). Saat ini, Apus affinis diketahui tersebar di Asia Selatan, Asia Timur, dan Afrika. Sementara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, spesies yang hadir adalah Apus nipalensis (BirdLife International, 2025b).
Dengan perubahan ini, daftar resmi burung di Indonesia mencakup 1.835 spesies, yang tersebar dalam 24 ordo (bangsa) dan 129 famili (suku). Spesies-spesies ini menghuni berbagai tipe ekosistem, mulai dari laut lepas hingga pegunungan tinggi di pulau-pulau Nusantara (Gambar 1). Sekitar 85% (1.559 spesies) merupakan burung residen yang dapat dijumpai sepanjang tahun di wilayah Indonesia. Sisanya, sebanyak 276 spesies (15%), merupakan burung migran yang mengunjungi Indonesia terutama pada musim dingin di wilayah asalnya. Sebagian besar dari mereka bermigrasi dalam jalur terbang East Asian–Australasian Flyway, salah satu jalur migrasi burung terpenting di dunia.

Gambar 1. Sebaran Keanekaragaman Burung berdasarkan wilayah avifauna di Indonesia. Nilai yang ditampilkan merepresentasikan total spesies dan spesies endemis Indonesia yang terdistribusi di masing-masing wilayah avifauna.
Status Burung Endemis Indonesia
Burung endemis Indonesia didefinisikan sebagai spesies burung yang hanya ditemukan secara alami di dalam batas wilayah administratif Indonesia dan tidak terdapat di tempat lain di dunia. Hingga akhir tahun 2024, tidak terdapat perubahan besar dalam komposisi keanekaragaman burung nasional, sehingga jumlah spesies burung endemis Indonesia tetap seperti tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 542 spesies burung endemis tersebar dari ujung barat hingga timur kepulauan Nusantara (Gambar 1). Namun, persebaran tersebut tidak merata. Lebih dari separuhnya terkonsentrasi di wilayah Wallacea, sebuah kawasan biogeografi unik yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, serta dikenal sebagai salah satu dari dua hotspot keanekaragaman hayati global yang berada di Indonesia (Myers et al., 2000).
Dari sekitar 24 ordo burung yang tercatat di Indonesia, sebanyak 14 ordo menyusun komposisi burung endemis Indonesia. Tiga ordo yang mendominasi jumlah spesies endemis adalah:
- Passeriformes (burung kicau): 326 spesies
- Columbiformes (burung dara, merpati, dan uncal): 42 spesies
- Psittaciformes (burung paruh bengkok, seperti nuri dan kakatua): 41 spesies
Ketiga kelompok ini menyumbang sekitar 75% dari total spesies endemis Indonesia. Sebagian besar dari spesies tersebut hidup di habitat hutan, baik hutan dataran rendah maupun hutan pegunungan, yang menegaskan pentingnya keberadaan hutan tropis Indonesia sebagai penyangga utama keberlangsungan spesies burung endemis. Hilangnya tutupan hutan alami dapat berdampak langsung terhadap keberadaan burung-burung tersebut yang memiliki sebaran geografis sangat terbatas.
Dalam lima tahun terakhir, terdapat penambahan 30 spesies baru dalam daftar burung endemis Indonesia. Sebagian besar merupakan hasil dari proses pemisahan taksonomi, di mana subspesies yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari spesies yang lebih luas diakui sebagai spesies tersendiri berdasarkan kajian mendalam terhadap karakter morfologi, suara, dan analisis genetik. Sebanyak 22 dari spesies baru tersebut berasal dari kelompok burung kicau, disusul empat spesies dari kelompok merpati-uncal, dua spesies dari kelompok paruh bengkok, dan dua spesies dari kelompok burung hantu (Strigiformes). Salah satu contoh kasus pemisahan taksonomi adalah burung kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), yang sebelumnya dianggap tersebar luas dari Asia Selatan hingga Indonesia. Kajian taksonomi terkini memisahkannya menjadi tiga spesies: Zosterops palpebrosus yang tersebar di Asia Selatan, Zosterops auriventer (kacamata hume) yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Asia Tenggara, serta Zosterops melanurus (kacamata pleci) yang terbatas di Pulau Jawa dan Bali—menjadikannya spesies endemis Indonesia.
Di luar hasil revisi taksonomi, sejumlah spesies burung juga telah dideskripsikan sebagai spesies baru yang sebelumnya belum dikenal dalam dunia sains. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, terdapat 12 spesies baru yang dideskripsikan, menunjukkan betapa Indonesia masih menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sebanyak sembilan di antaranya berasal dari Wallacea. Beberapa contoh mencakup ceret taliabu (Locustella portenta), cikrak taliabu (Phylloscopus emilsalimi), cikrak peleng (Phylloscopus suaramerdu), dan myzomela taliabu (Myzomela wahe) yang dideskripsikan oleh Rheindt dkk. pada tahun 2020. Selain itu, dua spesies baru ditemukan di Kalimantan oleh Irham et al. pada tahun 2022, yakni kacamata meratus (Zosterops meratusensis) dan sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis). Dari Papua, dideskripsikan pula burung burung-buah satin (Melanocharis citreola) oleh Milá dkk. pada 2021.
Penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang belum sepenuhnya terdokumentasikan. Namun, bersamaan dengan tingginya nilai ilmiah dari penemuan tersebut, muncul pula kekhawatiran akan potensi hilangnya spesies sebelum diketahui keberadaannya secara luas. Banyak spesies endemis yang ditemukan atau dipisahkan secara taksonomi ternyata mendiami habitat yang sempit dan rentan terhadap gangguan. Dalam konteks ini, dokumentasi ilmiah terhadap spesies yang belum terdeskripsikan maupun belum dikenali secara taksonomi menjadi semakin penting. Jika tidak, spesies-spesies tersebut bisa saja mengalami penurunan populasi bahkan kepunahan di alam sebelum sempat mendapatkan perhatian konservasi yang memadai.
Status Keterancaman Burung

Gambar 2. Kategori keterancaman berdasarkan IUCN Red List / Daftar Merah IUCN.

Gambar 3. Dinamika jumlah perubahan kategori status keterancaman spesies burung di Indonesia.
Sementara itu, pada 16 spesies burung lainnya, penurunan status keterancaman sebagian besar disebabkan oleh ketersediaan data atau informasi baru, baik dari hasil survei lapangan maupun sumber lainnya. Sebagai contoh, poksai kuda (Garrulax rufifrons), yang sejak 2013 dikategorikan sebagai Kritis (CR), kini statusnya ditinjau ulang setelah survei ekstensif oleh Burung Indonesia menemukan bahwa spesies ini masih dapat dijumpai secara reguler di 14 lokasi yang tersebar di enam area hutan pegunungan di Jawa bagian barat (Marsden et al., 2023). Demikian pula, celepuk banggai dan walik banggai yang sejak 2014 masuk dalam kategori Rentan (VU), ditinjau ulang berdasarkan hasil kajian Burung Indonesia pada 2022 yang menunjukkan bahwa kedua spesies ini masih umum ditemukan di Pulau Peling. Mereka mendiami berbagai tipe habitat, termasuk hutan primer, hutan sekunder, hutan kota, dan sistem agroforestri di seluruh zona elevasi pulau tersebut (Jihad et al., 2023). Temuan ini menjadi dasar utama dalam penyesuaian status keterancaman kedua spesies tersebut.
Sebaliknya, 11 spesies mengalami peningkatan kategori keterancaman yang mencerminkan penurunan populasi di alam (Tabel 1). Salah satu contoh penting adalah mentok rimba (Asacornis scutulata), anggota suku Anatidae, yang kini dikategorikan dalam kondisi Kritis (Critically Endangered) karena penurunan populasi yang sangat cepat. Ancaman utama terhadap spesies ini antara lain konversi hutan rawa dataran rendah menjadi perkebunan, degradasi habitat akibat pengelolaan hutan yang tidak tepat, perburuan liar, dan pengambilan telur. Fragmentasi populasi semakin memperburuk kondisi konservasi spesies ini. Di Indonesia, mentok rimba telah punah secara lokal di sebagian besar wilayah sebarannya, dan kini hanya bertahan di beberapa kawasan di Lampung dan Riau, seperti Taman Nasional Way Kambas dan Semenanjung Kampar (Ahmed et al., 2023; BirdLife International, 2025b).
Tabel 1. Daftar spesies burung yang mengalami perubahan kategori keterancaman berdasarkan Daftar Merah IUCN 2024.
| No. | Nama Lokal | Nama Ilmiah | RL 2023 | RL 2024 |
| Downlisted (Genuine reason) | ||||
| 1 | Ibis cucuk-besi | Threskiornis melanocephalus | NT | LC |
| 2 | Pecuk-ular asia | Anhinga melanogaster | NT | LC |
| Downlisted (Non-genuine reason) | ||||
| 3 | Walik banggai | Ramphiculus subgularis | VU | NT |
| 4 | Trinil ekor-kelabu | Tringa brevipes | NT | LC |
| 5 | Gemak sumba | Turnix everetti | VU | LC |
| 6 | Serak taliabu | Tyto nigrobrunnea | VU | NT |
| 7 | Celepuk banggai | Otus mendeni | VU | NT |
| 8 | Elang flores | Nisaetus floris | CR | EN |
| 9 | Pelatuk punggung-emas | Chrysocolaptes strictus | VU | NT |
| 10 | Perkici buru | Charmosyna toxopei | CR | DD |
| 11 | Sempur-hujan jawa | Eurylaimus javanicus | NT | LC |
| 12 | Gagak flores | Corvus florensis | EN | NT |
| 13 | Gagak halmahera | Corvus validus | NT | LC |
| 14 | Opior timor | Heleia muelleri | NT | LC |
| 15 | Ciung-air kangean | Mixornis prillwitzi | VU | LC |
| 16 | Poksai kuda | Garrulax rufifrons | CR | EN |
| 17 | Ciung-batu sayap-coklat | Myophonus castaneus | NT | LC |
| 18 | Sikatan timor | Ficedula timorensis | NT | LC |
| Uplisted (Genuine reason) | ||||
| 19 | Mentok rimba | Asarcornis scutulata | EN | CR |
| 20 | Cerek besar* | Pluvialis squatarola | LC | VU |
| 21 | Trinil pembalik batu* | Arenaria interpres | LC | NT |
| 22 | Kedidi paruh-lebar* | Calidris falcinellus | LC | VU |
| 23 | Kedidi golgol* | Calidris ferruginea | NT | VU |
| 24 | Dunlin* | Calidris alpina | LC | NT |
| 25 | Kedidi dada-jingga* | Calidris subruficollis | NT | VU |
| 26 | Trinil-lumpur paruh-panjang* | Limnodromus scolopaceus | LC | NT |
| 27 | Trinil kaki-kuning* | Tringa flavipes | LC | VU |
| 28 | Kakatua maluku | Cacatua moluccensis | VU | EN |
| Uplisted (Non-genuine reason) | ||||
| 29 | Elang-alap bahu-coklat | Erythrotriorchis buergersi | DD | NT |
| 30 | Pelanduk kalimantan** | Malacocincla perspicillata | DD | NT |
Selain mentok rimba, delapan spesies burung pantai juga mengalami peningkatan kategori keterancaman. Spesies-spesies tersebut adalah burung migran yang bergantung pada jaringan lahan basah sepanjang jalur terbang East Asian–Australasian Flyway. Peningkatan status mereka sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat penting akibat reklamasi pesisir, konversi lahan skala besar, dan gangguan manusia selama fase migrasi dan overwintering. Perubahan iklim juga menambah tekanan terhadap habitat-habitat kunci ini. Penurunan populasi burung pantai didokumentasikan secara konsisten melalui pemantauan jangka panjang, dan data ini menjadi dasar ilmiah dalam peningkatan status keterancaman mereka (BirdLife International, 2025b).
Tren peningkatan status keterancaman spesies menjadi sinyal penting atas kondisi ekosistem yang terus berubah. Sebagai bentuk agregasi informasi ini, dikembangkanlah Red List Index (RLI), yaitu indeks yang mengukur perubahan risiko kepunahan spesies dari waktu ke waktu. Nilai satu (1) mencerminkan seluruh spesies berada dalam kategori risiko rendah, sedangkan nol (0) berarti semua telah punah. Grafik RLI spesies burung di Indonesia menunjukkan tren penurunan sejak awal pemantauan, meskipun sejak 2016 laju penurunannya sedikit melambat (Gambar 4). Namun, tren tersebut tetap memperlihatkan bahwa tekanan terhadap populasi burung masih berlangsung dan belum tertangani secara menyeluruh.

Gambar 4. Red List Index (RLI) spesies burung di Indonesia (Sumber: BirdLife International, 2025a)
¹Overwintering merujuk pada lokasi di mana burung menghabiskan musim dingin, biasanya di wilayah tropis atau subtropis, setelah bermigrasi dari area berkembang biak mereka di lintang yang lebih tinggi.
Penutup
Melalui analisis seperti RLI, publikasi ini menyoroti pentingnya pemantauan jangka panjang dan respons dini terhadap ancaman yang berkembang. Informasi yang disajikan diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, menentukan prioritas konservasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor untuk melindungi burung dan habitatnya.
Sebagai pelengkap, tersedia tautan unduhan daftar spesies burung di Indonesia yang dapat menjadi referensi penting bagi peneliti, pengambil kebijakan, praktisi konservasi, dan masyarakat luas. Diharapkan, dokumen ini dapat memperkuat upaya bersama dalam menjaga kelestarian burung Indonesia bagi generasi mendatang.
Daftar Spesies Burung di Indonesia
Anda dapat mengunduh daftar lengkap spesies burung di Indonesia melalui qr code atau tautan berikut ini: https://forms.gle/pooVsAxgLGem677XA

Saran kutipan:
Junaid, A. R. (2025). Status Burung di Indonesia 2025. Burung Indonesia. Diakses dari https://merpati.asia/informasi-burung/status-burung-di-indonesia-2025/ pada [dd-mm-yyyy].
Referensi
Akbar, P. G., Nugroho, T. W., Suranto, M., Fauzan, M. R., Ferdiansyah, D., Trisiyanto, J. S., & Yong, D. L. (2021). No longer an enigma: rediscovery of Black-browed Babbler Malacocincla perspicillata in Kalimantan, Indonesia. Journal of Asian Ornithology, 37 (November), 1–5. https://www.
BirdLife International. (2025a). Country factsheet: Indonesia. https://datazone.merpati.asia/country/factsheet/indonesia
BirdLife International. (2025b). IUCN Red List for birds. https://datazone.merpati.asia
Irham, M., Haryoko, T., Shakya, S. B., Mitchell, S. L., Burner, R. C., Bocos, C., Eaton, J. A., Rheindt, F. E., Suparno, S., Sheldon, F. H., & Prawiradilaga, D. M. (2022). Description of two new bird species from the Meratus Mountains of southeast Borneo, Indonesia. Journal of Ornithology. https://doi.org/10.1007/s10336-021-01937-2
IUCN. (2019). Guidelines for Using the IUCN Red List Categories and Criteria (Version 14). IUCN Standards and Petitions Committee. http://www.iucnredlist.org/documents/RedListGuidelines.pdf
IUCN. (2025). The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2025-1. https://www.iucnredlist.org
Jihad, Saputra, D., Aruna, W., & Reza, M. (2023). Comprehensive Biodiversity Survey of Peling Island. Burung Indonesia. (report available upon request).
Marsden, S. J., Junaid, A. R., Kaprawi, F., Muladi, F., Aprianto, G. C., van Balen, S. (Bas), Saryanthi, R., Collar, N. J., & Devenish, C. (2023). Distribution and abundance of threatened and heavily traded birds in the mountains of western Java. Bird Conservation International, 33, e63. https://doi.org/10.1017/S095927092300014X
Milá, B., Bruxaux, J., Friis, G., Sam, K., Ashari, H., & Thébaud, C. (2021). A new, undescribed species of Melanocharis berrypecker from western New Guinea and the evolutionary history of the family Melanocharitidae. Ibis, 163 (4), 1310–1329. https://doi.org/10.1111/ibi.12981
Myers, N., Mittermeier, R. A., Mittermeier, C. G., Fonseca, G. A. B. da, & Kent, J. (2000). Biodiversity hotspots for conservation priorities. Nature, 403 (February), 853–858.
Päckert, M., Martens, J., Wink, M., Feigl, A., & Tietze, D. T. (2012). Molecular phylogeny of Old World swifts (Aves: Apodiformes, Apodidae, Apus and Tachymarptis) based on mitochondrial and nuclear markers. Molecular Phylogenetics and Evolution, 63 (3), 606–616. https://doi.org/10.1016/j.ympev.2012.02.002
