Ilmuwan Ungkap Tiga Spesies Baru Burung Kicau dari Kepulauan Indonesia

23 Maret, 2025

Ilmuwan mengungkapkan spesies burung baru turunan myzomela banda (Myzomela boiei) yang berasal dari Kepulauan Banda, Tanimbar, dan Babar. Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan BirdLife International berjudul “A Taxonomic Revision of Banda Myzomela Myzomela boiei (S.Muller 1843), Including the Description of a New Species from Babar Island, Indonesia” (2025) diterbitkan dalam Bulletin of the British Ornithologists Club.

Myzomela banda memakan nektar dan invertebrata kecil. Untuk burung jantan memiliki ciri khas bulu hitam dan merah yang cerah.  Hingga saat ini, para ilmuwan meyakini bahwa myzomela banda terdiri dari dua subspesies, yakni M. b. boiei yang tersebar di Kepulauan Banda dan M. b. annabellae yang tersebar di Kepulauan Babar, Tanimbar, Yamdena serta Selaru. Artinya, meskipun kedua kelompok ini sedikit berbeda, mereka dianggap dapat saling terhubung dan melakukan aktivitas perkembangbiakan sehingga mewakili satu spesies.

Namun, studi terbaru menemukan kedua subspesies ini berbeda dari segi bulu, ukuran, dan kicauan. Menurut analisis dari rekaman suara, burung myzomela di Pulau Tanimbar, Babar, dan Pulau Banda yang dulunya dianggap sama, ternyata memiliki kicauan yang sangat berbeda. Kicauan-kicauan yang dianalisis kemungkinan besar berfungsi sebagai penanda bahwa myzomela di ketiga pulau tersebut berkembang secara terpisah dan membentuk populasi berbeda di masing-masing pulau.

Myzomela banda (Foto: James Eaton)

Oleh karena itu, para peneliti menyimpulkan ketiga populasi tersebut tidak mungkin berkembang biak satu sama lain dan harus diperlakukan sebagai tiga spesies. Karena populasi burung di Kepulauan Barbar tidak memiliki nama ilmiah, mereka menamainya sebagai Myzomela babarensis.

“Yang menarik dari penelitian ini adalah perbedaan yang jelas pada tiga populasi myzomela banda yang membuat kami mengusulkan pengakuan tiga spesies. Dalam publikasi ini, kami mengusulkan agar spesies-spesies tersebut diberi nama sesuai dengan nama pulau tempat mereka ditemukan, seperti Banda Islands Myzomela, Babar Myzomela, and Tanimbar Myzomela,” kata penulis utama dan Red List Officer di BirdLife International, Alex Berryman.

Biodiversity Research Officer Achmad Ridha Junaid mengatakan keanekaragaman burung di Indonesia yang kemungkinan masih banyak yang tersembunyi di dalam taksonimi yang kompleks. Penelitian ini membantu kita semakin memahami keanekaragaman burung yang sebenarnya Indonesia miliki

“Keduanya tadinya diklasifikasikan masih dalam spesies myzomela boiei, tapi rupanya dari analisis morfologi dan vokalisasi, populasi dari tiga pulau itu berbeda. Maka jadilah tiap pulau punya spesies myzomela masing-masing. Berarti, akan ada penambahan dua spesies baru myzomela,” ujar dia.

Ridha melanjutkan, untuk penambahan spesies baru tidak sembarangan, harus melalui proses dan penelitian panjang. Sebab, ada sejumlah aspek yang perlu diuji. Pertama, biometrik, yaitu pengukuran fisik seperti panjang tubuh, panjang sayap, dan berat badan. Kedua, perbedaan dalam warna dan pola bulu. Ketiga, suara, yaitu perbedaan dalam panggilan dan nyanyian burung.

“Keempat, divergensi fenotipik, yaitu menggunakan tingkat divergensi rata-rata antara spesies simpatrik atau parapatrik yang tidak diperdebatkan sebagai tolok ukur untuk menilai status taksonomi bentuk alopatrik,” ujarnya.

Lantas, bagaimana ketiga spesies ini berevolusi? Sejatinya, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekira17.000 pulau. Banyak di antaranya sudah terisolasi selama jutaan tahun. Ketika spesies burung mengolonisasi pulau-pulau baru, ukuran, bentuk, dan bulu mereka beradaptasi dengan habitat setempat. Selain itu, mereka juga mengembangkan kicauan-kicauan yang khas. Seiring berjalannya waktu, jumlah populasi burung koloni baru itu meningkat, dan berkembang secara berbeda dengan populasi dari wilayah yang berbeda. Makanya para ilmuwan menganggap mereka sebagai spesies yang terpisah.

Kendati ketiga spesies myzomela ini dapat beradaptasi di habitat yang relatif terdegradasi, namun ukuran populasi dan wilayah jelajah yang kecil serta laju alih guna lahan yang tinggi dapat menyebabkan spesies ini masuk dalam jurang kepunahan.