Hutan dan Burung Kicau, Kesatuan yang tak Bisa Dipisahkan

21 Maret, 2025

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan terluas di dunia. Berdasarkan hasil pemantauan hutan Indonesia tahun 2022 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 96,0 juta hektare atau 51,2% dari total daratan. Dari jumlah itu, 92 % dari total luas berhutan atau 88,3 juta hektare berada di dalam kawasan hutan. Keberadaan hutan di Indonesia menyumbang banyak manfaat untuk manusia di bumi, seperti penyerap karbon dioksida dan pemasok oksigen.

Selain itu, hutan juga menjadi habitat beragam jenis hewan yang hidup, salah satunya burung kicau. Hutan dan burung kicau telah menjadi satu entitas dalam ekosistem yang saling menguntungkan. Namun, hubungan ini dibayangi ancaman karena kondisi yang harus dihadapi burung kicau kian meresahkan. Saat ini, burung kicau menjadi hewan peliharaan yang tak kalah populer dibandingkan kucing atau anjing. Masyarakat terpana dengan keindahan fisik dan suara burung. Namun, kemerduannya perlahan menjadikannya objek yang diperlombakan. Berbondong-bondong, penggemar burung kicau membawa burung jagoannya untuk mengikuti lomba kicau yang diadakan dalam waktu tertentu. Hadiahnya pun tak main-main, jutaan hingga ratusan juta rupiah untuk sang juara beserta tropi kemenangan.

Tingginya minat pada kontes burung kicau berdampak pada jumlah populasi burung kicau yang terus menurun. Perburuan hingga perdagangan ilegal makin masif terjadi. Penelitian pada 2005, oleh Paul R Jepson dan Richard Ladle mengungkapkan ada 2,8 juta burung peliharaan di kota-kota besar di Jawa dan Bali. Hampir setengahnya adalah hasil tangkapan dari alam. Selang 13 tahun kemudian, studi terbaru memperkirakan terdapat sedikitnya 60 juta burung dipelihara dalam sangkar oleh hampir 12 juta rumah tangga di Pulau Jawa saja.

Cucak rawa (Foto: Burung Indonesia/Willy R.)

Kondisi tersebut sungguh ironi, mengingat ada banyak burung kicau berstatus Kritis (Critically Endangered) di alam, seperti cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), jalak-suren jawa (Gracupica jalla), dan ekek-geling jawa (Cissa thalassina). Jika populasinya kian menurun, mereka akan punah. Hobi ini memang memberikan kebahagiaan, tapi, apakah sepadan dengan dampak yang akan kita rasakan di masa depan?

Padahal burung kicau merupakan bagian dari ekosistem yang tidak boleh hilang. Terlebih, burung kicau dan hutan memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Jika menghilangkan salah satunya, bukan hanya burung, melainkan dampaknya dapat dirasakan juga oleh manusia.

Dalam siklus kehidupan burung, hutan mempunyai peran penting. Sebelum dapat terbang, anak-anak burung perlu dijaga dahulu oleh induknya di dalam sarang. Sarang sebagai tempat berlindung, dibangun terbuat dari berbagai elemen di hutan, seperti ranting atau dedaunan yang jatuh. Sepanjang hidup mereka, terutama masa pertumbuhan, pohon menyediakan makanan bagi burung, ada buah, biji-bijian, nektar dari bunga, dan serangga. Burung juga sering bersembunyi di lubang dan celah-celah pohon, bahkan ada yang kawin dan bersarang di sana. Sebab, pohon menyediakan tempat yang aman dan tenang. Timbal balik yang diberikan dari burung terhadap hutan pun tak kalah penting.

Burung kicau berperan sebagai penyebar benih di ekosistem hutan dan membantu regenerasi serta keragaman spesies tanaman. Banyak burung yang memakan buah mengandung benih. Saat makan, mereka menelan benih bersama buahnya. Lalu, setelah makan, burung terbang melintasi berbagai jarak sambil membawa benih di dalamnya. Mobilitas inilah yang memungkinkan benih disebarkan ke area yang lebih luas daripada banyak mekanisme penyebaran alami lainnya.

Akhirnya, benih dikeluarkan oleh burung di lokasi berbeda dari tempat benih dikonsumsi. Penyebaran melalui kotoran burung ini memperkenalkan spesies tanaman ke area baru. Benih yang sekarang berada di lokasi baru dan sering dicampur dengan pupuk alami dari kotoran burung, dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Menurut penelitian Thomas W. Crowther yang berjudul “Frugivores Enhance Potential Carbon Recorvery in Fragmented Landscapes” (2024), salah satu jenis burung kicau, collared araçari berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan berbagai spesies pohon. Penyebaran benih yang mereka lakukan memungkinkan pengembangan hutan yang hidup dan beragam. Proses ini tak hanya bermanfaat bagi hutan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih sehat dengan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Di Indonesia, burung kicau yang berfungsi sebagai penebar benih adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Sebagai pemakan buah, mereka membantu dalam penyebaran biji-bijian. Sama dengan collared araçari, cara penyebaran benih yang dilakukan melalui kotoran yang dikeluarkan di tempat berbeda.

Cucak kutilang (Foto: Burung Indonesia/Muhammad Meisa)

Manfaat lain yang diberikan burung pada hutan adalah penyerbukan. Tidak hanya kupu-kupu, burung juga dapat membantu penyerbukan yang dikenal dengan istilah ornithophily. Di sini, burung berperan membawa serbuk sari ke kepala putik bunga untuk proses penyerbukan. Salah satu penyerbuk burung yang umum adalah burung-madu yang juga termasuk kelompok burung kicau. Saat mencoba mencapai nektar yang berada di dasar kelopak bunga, serbuk sari menempel pada kepala, leher, punggung, dan sayap mereka, lalu dipindahkan ke bunga lain. Butiran serbuk sari seringkalisering kali menempel dalam gumpalan, meningkatkan efisiensi penyerbukan. Bunga yang telah dibuahi akan menghasilkan buah dan biji. Selain itu, mereka juga mampu terbang sambil melayang di udara atau cukup ringan untuk bertengger di struktur bunga saat makan dan membawa serbuk sari yang menempel pada bulu mereka. Dengan begitu, burung dapat melakukan penyerbukan dua kali lebih banyak daripada serangga.

Di daerah tropis dan zona beriklim sedang di belahan selatan, burung setidaknya sama pentingnya sebagai penyerbuk, mungkin lebih penting. Tumbuhan ornitofili biasanya memiliki bunga yang menarik. Mereka berwarna merah, kuning, oranye, atau biru dan dipenuhi nektar sehingga menarik perhatian burung. Warna cerah pada bunga juga memiliki korelasi langsung dengan kemampuan penglihatan burung. Burung memilikimemliki penglihatan yang baik dan peka terhadap warna cerah, terutama merah yang membuat mereka lebih unggul daripada lebah yang tidak bisa melihat warna merah.

Pengetahuan tentang ornithophily juga disampaikan dalam jurnal yang disusun oleh J Prihatini pada tahun 2023 tentang Masyarakat pedesaan di Daerah Aliran Sungai Cisokan Hulu yang masih memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang berbagai jenis burung lokal. Salah satu temuannya menyebutkan bahwa semua jenis burung dari Famili Nectariniidae, seperti sogok ontong atau burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis), dan kalaces atau pijantung gunung (Arachnothera affinis) dianggap bermanfaat secara ekologis karena dapat membantu penyerbukan berbagai spesies tumbuhan.

Burung-madu sriganti (Foto: Burung Indonesia/Riza Marlon)

Meski dapat membantu penyerbukan, burung-burung itu juga terancam. Sebut saja burung-madu sriganti. Dalam survei yang dilakukan di Pasar Sukahaji Bandung pada 2016 (Chng et al.), ditemukan sejumlah besar burung madu yang telah dijual. Maraknya praktik jual beli burung-madu sriganti merupakan dampak dari naiknya popularitas burung ini di kalangan komunitas pemelihara dan peserta lomba burung kicau. Kecantikan bulu serta suara kicauan atau gacoran yang merdu, membuat burung ini semakin diminati. Bahkan, beberapa penggemar burung kicau menganggap bahwa burung-madu sriganti memiliki kemampuan kicauan yang dapat mengalahkan jenis burung kicau lainnya seperti kenari dan cucak ijo.

Penurunan populasi burung kicau menjadi persoalan serius. Tidak hanya bagi burung itu sendiri, tetapi manusia juga akan merasakan dampaknya. Regenerasi hutan melambat, hilangnya produksi makanan, dan efek domino pada ekologi merupakan segelintir dari dampak yang akan terjadi.

Oleh karena itu, Burung Indonesia melakukan upaya-upaya untuk melindungi dan melestarikan burung serta habitatnya. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Gunung Slamet. Hutan di Gunung Slamet menjadi habitat bagi ratusan burung. Burung Indonesia hadir melakukan konservasi berbasis masyarakat untuk mengembangkan pelestarian burung kicau di sana. Selain mendampingi dan memberikan wawasan ke masyarakat desa tentang ancaman dan bahaya penangkapan burung kicau, Burung Indonesia juga mendorong lahirnya kesepakatan lokal terkait pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di beberapa desa di Gunung Slamet. Upaya konkret ini tidak hanya melibatkan masyarakat desa, tetapi juga pemerintah setempat agar bersama bisa menjaga dan melindungi burung kicau dari perburuan liar.