The planet doesn’t argue. It doesn’t negotiate. It sends signals—rising seas, raging wildfires, heatwaves, melting glaciers.
Kutipan tersebut mengingatkan kita bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja. Dampak krisis iklim tidak hanya terlihat dari kenaikan muka air laut, kebakaran hutan, gelombang panas, dan mencairnya glasier yang terus terjadi di berbagai belahan dunia. Kita juga melihat bagaimana bencana yang melanda Sumatra baru-baru ini, seperti hujan deras, banjir bandang, dan tanah longsor, tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim.
Bumi sedang mengirimkan sinyal kepada kita. Oleh karena itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk mengingat kembali apa yang telah kita lakukan terhadap Bumi dan bagaimana Bumi merespons tindakan kita.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali diperingati pada 5 Juni 1974 dengan mengusung tema “Only One Earth” untuk menandai Konferensi Stockholm atau Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia yang berlangsung pada 5–16 Juni 1972 di Swedia. Konferensi tersebut merupakan forum tingkat dunia pertama yang secara khusus membahas krisis dan isu lingkungan global.
Setiap tahunnya, terdapat negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan ini. Tahun ini, Azerbaijan ditunjuk sebagai tuan rumah dengan tema “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” serta mengusung tagar #NowForClimate. Tema tersebut menyoroti urgensi penanganan krisis lingkungan yang dipicu oleh perubahan iklim.

Lanskap Pohuwato, Gorontalo (Foto: Burung Indonesia)
Meski peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia berlangsung di tingkat global, isu yang diangkat sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan, termasuk di ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, dampak perubahan iklim dapat dirasakan melalui meningkatnya suhu udara, berkurangnya ruang terbuka hijau, persoalan sampah, hingga banjir yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi. Karena itu, peringatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali bagaimana gaya hidup dan aktivitas sehari-hari turut memengaruhi kondisi lingkungan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan meskipun Indonesia bukan tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini? Ada banyak langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya menjaga lingkungan. Salah satunya adalah mengurangi timbunan sampah, terutama sampah plastik, dengan membawa botol minum isi ulang, menggunakan tas belanja sendiri, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Langkah sederhana lainnya adalah menghemat energi dengan mematikan lampu dan perangkat elektronik saat tidak digunakan serta menggunakan peralatan yang lebih hemat energi. Selain itu, kita juga dapat mengurangi jejak karbon dengan berjalan kaki atau bersepeda untuk perjalanan jarak dekat, memanfaatkan transportasi umum jika memungkinkan, dan mengurangi pemborosan makanan.

(Foto: Burung Indonesia/Barend van Gemerden).
Di era digital saat ini, media sosial juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik terhadap berbagai isu, termasuk krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Dengan membagikan informasi yang akurat, pengalaman pribadi dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, maupun ajakan untuk melakukan aksi sederhana demi Bumi, kita dapat menjangkau lebih banyak orang dan mendorong lahirnya kepedulian bersama. Jangan lupa menyertakan tagar #NowForClimate agar pesan yang kita sampaikan menjadi bagian dari kampanye global dalam menghadapi perubahan iklim.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa setiap pilihan yang kita ambil memiliki dampak terhadap masa depan Bumi. Dari mengurangi sampah plastik, menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, hingga menghemat energi, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar. Karena pada akhirnya, menjaga Bumi berarti menjaga rumah yang menjadi tempat hidup kita bersama.
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!
Naskah: Rudyanto
*Sumber: Situs web United Nations Environment Programme (UNEP), sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang lingkungan hidup, dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni.
