Festival Kehati 2025: Anak Muda di Garda Depan Konservasi Alam Indonesia

13 Agustus, 2025

Dalam rangka Merayakan Keragaman Burung di Indonesia (MKBI), Burung Indonesia menggelar Festival Keanekaragaman Hayati 2025. Acara tersebut berkolaborasi dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan BIOLASKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berlangsung selama tiga hari pada 7-9 Agustus 2025. Berbagai kegiatan digelar, seperti lomba video pendek, lomba poster, dan lomba karya tulis ilmiah. Para pemenang setiap lomba mendapat kesempatan mengikuti field trip bersama Burung Indonesia di Desa Purwosari, Yogyakarta.

Tak hanya itu, MKBI 2025 juga menghadirkan acara “Seminar Nasional: Aksi Pelajar dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia.” Seminar itu menjadi ajang bagi anak muda untuk saling berkenalan dan berdiskusi langsung tentang keragaman hayati Indonesia. Para peserta yang hadir berasal dari kalangan pelajar SMA hingga mahasiswa.

“Kami berharap lewat acara ini, anak-anak muda dapat memanfaatkan apa yang ada untuk tetap melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia,” ujar Java Programme Manager Burung Indonesia, Andriansyah.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, turut hadir sebagai keynote speaker. Ia menyambut antusias inisiatif Burung Indonesia yang menyasar generasi muda agar berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati.

Seminar Nasional Festival Kehati (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Dosen Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Eka Sulistiyawati, dan Sustainable Landscape Officer Burung Indonesia, Pantiati menjadi narasumber seminar. Sesuai tema, mereka menyoroti peran pelajar dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Eka, generasi muda adalah motor konservasi. Alasannya adalah populasi mereka mencapai 64,16 juta jiwa atau sekitar 23,18% dari total penduduk Indonesia pada 2023, puncak kapasitas fisik dan metabolisme terjadi pada usia 15–30 tahun, dan bonus demografi pada 2030–2040 akan menghasilkan sekitar 190–200 juta penduduk berusia muda yang menjadi tulang punggung konservasi.

“Menurut survei 2024, 98% responden pemuda merasa mereka memiliki dampak signifikan dalam perlindungan keanekaragaman hayati,” jelas Eka.

Oleh karena itu, para pemuda perlu memiliki modal agar aksi konservasi berkelanjutan. Mereka membutuhkan stamina fisik dan semangat yang kuat, aktif di komunitas dan organisasi, melakukan kampanye digital, serta menggagas inovasi dan solusi berbasis teknologi untuk pelestarian alam.

Peran besar anak muda tak terlepas dari upaya Burung Indonesia untuk melestarikan seluruh jenis burung dan habitatnya. Dalam sesi pemaparannya, Pantiati memperkenalkan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung terdepan di Indonesia yang bekerja dengan dukungan masyarakat.

Ia menjelaskan, sebagai anak muda, ada banyak cara untuk berkontribusi dalam konservasi alam. Misalnya, melakukan praktikum dan pendataan burung di sekitar kampus. Kegiatan itu dapat menjadi bekal yang berlanjut hingga ke dunia kerja.

Diskusi Seminar Nasional Festival Kehati 2025 (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Pada hari kedua dan ketiga, para pemenang juara 1 dan 2 dari setiap lomba mengikuti field trip yang didukung Burung Indonesia. Pada hari pertama, mereka belajar tentang proses pembuatan teh dan kopi dari biji dan daun, serta mengenali berbagai tanaman rempah yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Pada kegiatan itu, para pendamping yang menemani adalah warga asli Desa Purwosari, seperti kelompok ibu-ibu PKK. Sejak Januari 2025 lalu, mereka sudah membangun jalur edukasi. Bersama mahasiswa, mereka meningkatkan kapasitas dengan saling bertukar dan melengkapi informasi. Oleh karena itu, saat diminta menjadi pendamping para peserta field trip, mereka sangat bersemangat. Akhirnya, wisata edukasi berhasil dilakukan dan mendapatkan energi dari para peserta yang antusias bertanya dan berdiskusi. 

“Rasanya senang menemani para peserta. Walaupun mereka masih muda, mereka sangat antusias bertanya mengenai tumbuhan rempah,” kata salah seorang pendamping yang dikenal sebagai Bu Mur. 

Bagi Aad, salah seorang peserta yang juga juara 2 lomba video pendek mengatakan sangat senang mendapat pengalaman bagaimana ia dapat belajar lebih dalam soal tumbuhan rempah-rempah.

“Harapan saya ke depan dapat lebih banyak tahu tanaman yang lebih bagus untuk pengobatan atau untuk masakan. Kegiatan ini membuat saya lebih tertarik untuk mempelajari tumbuh-tumbuhan di sekitar saya yang belum diketahui jenis dan manfaatnya apa saja,” ucapnya.

Para peserta field trip (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)

Pada hari kedua, kegiatan berlanjut melakukan pengamatan burung, kupu-kupu, capung, herpetofauna, dan anggrek. Selain mengamati dan berdiskusi, mereka juga menjumpai titik mata air dan menanam pohon ficus sebagai aksi konservasi.

“Mereka bersemangat, banyak nanya. Setelah melakukan pengamatan, bersama tim BIOLASKA, mereka kami ajak buat main sama kambing dan ada edukasi kambing juga di salah satu rumah warga yang kebetulan ternak kambing,” kata Isnaini Fitriana selaku Ketua Panitia Festival Kehati 2025.

Bagi para peserta, kegian ini sangat mengedukasi mereka untuk mengetahui lebih dalam terkait kenakeragaman hayati. Terlebih, sebagai generasi muda, mereka yang akan membawa keberlangsungan alam di masa mendatang. Hal ini menyadari betapa pentingnya mereka dalam membawa Bumi di masa depan. 

Peserta lain, Fathariko menyadari di saat media sosial semakin masif digunakan, ia harus memanfaatkannya dengan cara yang positif. Setelah mengikuti rangkaian acara, ia berencana akan konten tentang isu keanekaragaman hayati di Indonesia. Baginya, membuat konten secara daring dapat menjangkau masyarakat lebih luas. 

“Kita bisa memberi tahu spesies mana saja yang terancam agar menghindari kepunahan. Pesan saya adalah selalu memberitahu dan mempromosikan Indonesia karena masih banyak spesies terancam. Kalau bisa jumlah mereka bertambah,” ucapnya.

Festival Kehati 2025 bukan sekadar acara, tetapi denyut harapan. Seluruh rangkaian kegiatan mulai dari seminar hingga field trip menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya teori, melainkan gerakan nyata untuk merasakan dan melestarikan alam.

Para peserta field trip (Foto: Burung Indonesia/Meiliza Laveda)