Dari Layar ke Lapangan: Ketika Influencer Mengajak Publik Kembali ke Alam

10 Januari, 2026

Di tengah derasnya arus konten digital, pengalaman belajar sering berhenti pada layar. Padahal, bagi sebagian orang, pengalaman langsung di alam justru menjadi titik balik untuk memahami dan memaknai konservasi dengan cara yang berbeda. Itulah yang tercermin dalam kegiatan Sapa Alam bertajuk “Birding, Learning, Exploring” yang berlangsung pada 27–28 Desember 2025 di Desa Sugihmukti. Kegiatan ini diinisiasi oleh influencer YouTube Dunia Alam dan berkolaborasi dengan Burung Indonesia.

Sebagai kanal edukasi berbasis YouTube, akun Dunia Alam dikenal konsisten menyebarluaskan narasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia. Lewat video, cerita visual, dan pendekatan yang dekat dengan audiens muda, akun Dunia Alam selama ini berperan sebagai jembatan antara isu konservasi dan publik luas. Membuat topik yang sering dianggap “jauh” terasa relevan dan mudah dicerna.

Sejak 2024, akun Dunia Alam telah berkolaborasi dengan Burung Indonesia dalam memproduksi konten edukatif tentang burung dan konservasi. Namun, kolaborasi kali ini menandai pergeseran peran yang signifikan. Kerja sama tidak lagi berhenti pada tahap “mengangkat isu”, tetapi bergerak menuju aksi nyata dan pembelajaran langsung di alam. Inisiatif ini menandai perubahan perilaku pada diri influencer. Jika sebelumnya tim Dunia Alam bergerak di ruang digital, kini mereka memilih turun ke lapangan untuk belajar langsung dari alam dan mengajak publik ikut merasakan pengalaman yang sama. Perubahan itu berlangsung bertahap, mulai dari kolaborator konten, menjadi pembelajar aktif, hingga mencapai tahap mengajak dan memengaruhi orang lain.

Peserta Sapa Alam saat birdwatching (Foto: Dunia Alam).

Lewat kegiatan ini, penonton dan subscribers tidak lagi sekadar menjadi penonton. Mereka diajak memahami bahwa burung dapat dinikmati dan diapresiasi melalui pengamatan di alam, bukan dengan memeliharanya di dalam sangkar. Inilah bentuk perubahan yang selama ini diharapkan dalam edukasi konservasi, ketika seorang influencer tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi menjadi contoh dan penggerak.

Di lapangan, pengamatan burung dipadukan dengan diskusi kontekstual tentang peran burung dalam ekosistem, ancaman yang dihadapi, serta pentingnya keterlibatan publik dalam menjaga keanekaragaman hayati. Pendekatan ini membuat pesan konservasi terasa lebih dekat dan relevan, baik bagi peserta yang terlibat langsung, maupun bagi publik yang kemudian mengikuti ceritanya melalui kanal Dunia Alam.

Selain belajar mengenai burung, kegiatan penanaman pohon juga dilaksanakan sebagai bentuk aksi nyata dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan. Di bawah kondisi cuaca yang terik, para peserta secara langsung terlibat dalam proses penggalian lubang tanam dan penanaman bibit yang mencerminkan komitmen bersama terhadap keberlanjutan alam. 

“Penanaman pohon dilakukan tidak sekadar sebagai aktivitas simbolis, melainkan sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat fungsi ekologis lingkungan. Pohon yang ditanam diharapkan dapat berperan dalam menjaga kestabilan tanah, menyediakan naungan, serta menjadi habitat bagi berbagai organisme di masa mendatang,” kata Ferian. 

Peserta Sapa Alam saat menanam pohon bersama (Foto: Dunia Alam).

Bersama Burung Indonesia, Pasukan Jaga Leuweung (PJL), Bumdes dan LPHD Desa Sugihmukti, sebanyak 10 bibit jenis Manglieta glauca BIume ditanam. Melalui aksi ini, Ferian berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis jangka panjang, seperti menjaga kestabilan tanah, memperbaiki kualitas lingkungan, serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup.

“Aksi ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran berkelanjutan, baik bagi peserta maupun masyarakat, bahwa pelestarian alam adalah proses jangka panjang yang harus dijaga bersama, dimulai dari langkah-langkah sederhana,” ujarnya.

Ke depan, model kolaborasi seperti ini membuka peluang besar. Saat kreator konten berani melangkah keluar dari zona nyaman digital dan mengajak audiens belajar langsung dari alam, pesan konservasi memiliki daya jangkau dan dampak yang jauh lebih kuat. Bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menumbuhkan kesadaran dan mengubah cara pandang.

Karena pada akhirnya, menjaga burung bukan semata soal melindungi satwa liar tetapi membangun hubungan antara manusia dan alam. Dimulai dari melihat langsung, belajar bersama, dan peduli sepenuh hati.

Peserta Sapa Alam (Foto: Dunia Alam).

Naskah: Ivanna Febrissa