Di tengah desakan deforestasi yang kian nyata, penggunaan teknologi untuk mengatasi kompleksitas isu kehutanan mulai digunakan dan memberikan dampak di Pulau Sumatra. Sejak 2017, sebuah kolaborasi antara raksasa teknologi Jepang, Fujitsu dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), pengelola Hutan Harapan telah terjalin. Kawasan hutan hujan dataran rendah terakhir di Sumatra yang membentang di Jambi dan Sumatera Selatan, merupakan rumah bagi satwa liar. Ada 307 spesies burung, harimau sumatra, dan gajah sumatra. Sayangnya, paru-paru Bumi ini menjadi sasaran empuk bagi pembalakan liar dan perambahan.
Bertahun-tahun, para ranger atau penjaga hutan PT REKI berjuang hanya mengandalkan citra satelit dan patroli secara tradisional. Mereka berjalanan kaki menyusuri belantara hutan. Proses terebut bisa memakan waktu berminggu-minggu. Mereka seperti berjuang dalam kegelapan, kerap kali hanya menemukan jejak kerusakan setelah semuanya terlambat.
“Dulu, kami seperti bekerja dalam gelap. Sulit sekali mendeteksi pembukaan lahan ilegal atau kebakaran secara cepat,” kenang salah satu ranger PT REKI.
Namun, itu semua berubah setelah hadirnya Fujitsu melalui iinisiatif dari BirdLife International Tokyo. Mereka tidak hanya datang dengan niat baik, tapi juga membawa “senjata” baru, yakni SMART Patrol (Cyber Tracker), drone, dan platform data real time.

Drone monitoring (Foto: Hutan Harapan)
“Sekarang, dengan drone dan SMART Mobile, kami bisa melihat pembukaan lahan ilegal dalam hitungan jam,” lanjut sang ranger, matanya berbinar penuh harapan. Perubahan itu bagaikan beralih dari remang menjadi terang, dari meraba-raba menjadi melihat dengan cepat.
Fujitsu tahu, teknologi tak ada artinya tanpa tangan-tangan terampil yang mengoperasikannya. Maka dari itulah, mereka tidak sekadar menyumbang alat canggih. Mereka juga menginvestasikan waktu dan tenaga untuk melatih tim lokal. Pada tahun 2020, beberapa ranger, yang dulunya mungkin hanya akrab dengan pisau rimba, kini mahir mengoperasikan drone untuk pemetaan. Setahun kemudian, mereka bahkan menguasai analisis data SMART Patrol untuk memprediksi titik rawan deforestasi, mengubah mereka dari sekadar penjaga hutan menjadi ahli strategi.
“Ini tentang keberlanjutan. Kami ingin tim REKI mandiri,” jelas perwakilan Fujitsu. Mereka menekankan pentingnya pembangunan kapasitas sumber daya manusia yang akan menjaga hutan ini untuk generasi mendatang.
Hasil yang Terukur: Bukti Nyata Sebuah Kolaborasi
Hasil dari kolaborasi ini sungguh mengagumkan, sebuah bukti nyata bahwa teknologi ketika digunakan dengan bijak. Laju deforestasi di area inti Hutan Harapan menurun hingga 40% (2019–2023). Lebih dari 600 insiden perambahan terdeteksi lebih dini berkat drone dan SMART Patrol. Setiap deteksi dini adalah potensi kerusakan yang berhasil dicegah. Selain itu, respon 50% lebih cepat terhadap kebakaran hutan. Dalam pertempuran melawan api, setiap detik sangat berharga, dan kecepatan respon ini berarti area yang terbakar bisa dikendalikan.
Cyber tracker (Foto: Hutan Harapan)
Perjalanan ini tidak luput dari tantangan. Fujitsu dan tim REKI belajar bahwa teknologi bukanlah solusi instan. Adopsi alat seperti drone sempat terkendala sinyal internet yang terbatas di tengah belantara hutan. Namun, mereka tidak menyerah. Fujitsu mengembangkan sistem luring untuk SMART Patrol, menunjukkan bahwa inovasi sejati sering kali lahir dari hambatan.
Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah bahwa kolaborasi adalah kunci. “Dukungan Fujitsu tidak hanya finansial, tapi juga transfer pengetahuan yang tak ternilai,” ungkap Manajer PT REKI. Meski begitu, ancaman tetap nyata. Teknologi memang sangat membantu, tapi tekanan perambahan dan tambang ilegal masih membayangi. Di sinilah peran patroli tradisional, dengan keberanian dan dedikasi mereka, tetap krusial. Teknologi adalah mata dan telinga, tapi tangan dan kaki tetaplah para ranger.
