Hari ini bertempat di Auditorium I CGV FX Sudirman, diselenggarakan pemutaran film dokumenter JEJAK WALLACEA yang diproduksi oleh Arise! Indonesia dan Burung Indonesia atas dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melalui Program Kemitraan Wallacea II.
Film JEJAK WALLACEA menceritakan berbagai upaya masyarakat pesisir di Wallacea menyelamatkan ekosistem pesisir dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti menangkap ikan dengan bom dan racun, menangkap penyu dilindungi, dll. Masyarakat pesisir tidak mengenal teori keberlanjutan yang rumit. Dengan menggunakan kearifan lokal dan penerapan hukum adat, mereka berharap bisa menjaga laut agar terus memberikan penghidupan. Namun praktik pengrusakan lingkungan dan pelanggaran hukum masih terus terjadi. Dampaknya kita rasakan, perlahan namun pasti.
SAM August Himmawan, selaku produser dan sutradara film JEJAK WALLACEA menyampaikan, “Film ini dikerjakan hanya oleh 5 orang personil dan beberapa kru lapangan, merekam upaya masyarakat pesisir di empat provinsi di Indonesia Timur, dengan waktu shooting selama 22 hari. Lokasinya cukup menantang, untuk mendapatkan dokumentasi yang diperlukan tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di beberapa area konservasi, dan naik bukit terjal ke desa adat.”

Diskusi setelah pemutaran film (Foto: Arise! Indonesia)
Wahyu Teguh Prawira, Marine Specialist di Burung Indonesia sekaligus Team Leader pada Program Kemitraan Wallacea II menyampaikan, “Program Kemitraan Wallacea II adalah kelanjutan dari Program Kemitraan Wallacea I, yang merupakan program hibah bagi organisasi masyarakat sipil di Wallacea. Program ini berfokus pada pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di tujuh koridor laut prioritas di Wallacea, yaitu Togean-Banggai, Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Solor Alor, dan Bentang Laut Buru.”
Wallacea memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa yang menjadi pondasi bagi keberlanjutan kehidupan dan pembangunan. Terdapat berbagai ekosistem laut seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut penting dan endemis. Namun, meski kaya akan keanekaragaman hayati, wilayah ini menghadapi berbagai ancaman, terutama pada sektor perikanan skala kecil yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Ancaman didominasi oleh praktik penangkapan ikan yang merusak, bahkan berbahaya bagi jiwa seperti bom. Selain itu, aktivitas penangkapan ikan masih dilakukan di zona inti kawasan konservasi laut, baik yang berstatus perlindungan formal maupun berbasis komunitas. Ancaman terhadap keberlangsungan hidup satwa pesisir-laut dan habitatnya juga masih terjadi.

(Foto: Arise! Indonesia)
Melalui Program Kemitraan Wallacea II, Burung Indonesia dan mitra-mitranya serta didukung oleh pemerintah daerah setempat berupaya memperkuat masyarakat untuk menjaga pesisir dan laut sebagai lumbung pangan mereka demi keberlangsungan kehidupan saat ini dan generasi mendatang. Burung Indonesia mengajak masyarakat mengingat kembali pengetahuan lokal dan sistem kelolanya untuk mengelola dan melindungi area pesisir dan laut, termasuk melindungi satwa pesisir-laut dan habitatnya. Burung Indonesia percaya bahwa inisiatif konservasi pesisir hendaknya dibangun oleh berbasis komunitas sendiri, dengan implementasinya juga dipimpin oleh masyarakat.
Program ini telah berkontribusi dalam menurunkan ancaman bagi species laut yang dilindungi dan terancam punah dan meningkatkan tata kelola di 14 Key Biodiversity Area. Selain kontribusi pada aspek konservasi, program ini juga turut mewujudkan sumber-sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir dengan memanfaatkan sumberdaya alam di sekitar tempat tinggal mereka.
Masyarakat pesisir di Wallacea sudah bergerak menjaga, melindungi, dan mengelola area pesisirnya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan inisiatif konservasi berbasis masyarakat diadopsi berbagai pihak sehingga semakin meluas; terhubung dengan kebijakan dan program pemerintah pusat maupun daerah, diperkuat oleh berbagai pihak melalui kolaborasi dan kerjasama, serta berkelanjutan melampaui usia pendanaan.
Kedepannya, program ini diharapkan dapat menginspirasi dan memobilisasi dukungan para pemangku kepentingan, baik dari sektor pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, maupun sektor swasta, untuk semakin erat berkolaborasi dalam menjaga keragaman hayati laut, karena laut adalah sumber kehidupan dan masa depan kita.

(Foto: Arise! Indonesia)
