Berkebun Berpagar Hutan: Belajar Hidup Suku Sangir dari Opa Eping

22 Juni, 2025

Di ujung utara Sulawesi, suku Sanger sejak lama menjalani hidup yang selaras dengan alam. Mereka bertani di kebun, tapi bukan sembarang kebun—kebun mereka berpagar hutan. Kebun yang dikelola dengan bijak, dikelilingi hutan yang tetap lestari. Hutan bukan musuh yang harus ditebang, melainkan penjaga dan penopang hidup.

Dalam sistem ini, kebun dikelola secara berpindah atau menetap, selalu dalam batas kewajaran. Mereka menanam tanaman pangan seperti ubi, keladi, pisang, dan padi ladang. Untuk air, mereka menggantungkan hidup pada mata air yang dijaga dan tidak dicemari. Bahan bakar diambil dari ranting-ranting kering, bukan dari menebang pohon besar.

Hutan di sekeliling kebun tidak hanya penyedia hasil hutan non-kayu, tetapi juga menjadi wilayah sakral yang dihormati. Di sanalah tempat satwa berlindung, air dipelihara, dan leluhur dipercaya bersemayam. Suku Sanger tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Prinsipnya sederhana, yaitu ambil seperlunya, rawat selamanya.

Kini, ketika krisis iklim dan kerusakan lingkungan menjadi ancaman global, mungkin kita perlu belajar kembali dari cara hidup mereka. Berkebun berpagar hutan bukan sekadar praktik bertani melainkan sebuah filosofi hidup.

Di tengah hutan Gunung Sahendaruman, Sangihe, seorang kakek berusia 71 tahun, Opa Eping, menjalani hidup yang nyaris sepenuhnya mandiri. Dulu, ada sekitar enam rumah di dalam hutan. Sayangnya, lambat laun, mereka perlahan pindah ke pemukiman dan hanya menyisakan Opa Eping. Seumur hidup Opa Eping tinggal di dalam hutan. 

Opa Eping sedang memainkan gitar (Foto: Burung Indonesia)

Sesekali, dia turun ke pemukiman. Opa Eping tak pernah kekurangan pangan atau kebutuhan sehari-hari. Dia berkebun, beternak, dan hidup berdampingan dengan hutan. Dia sangat mencerminkan hidup utuh penuh keseimbangan. Opa Eping adalah perwujudan filosofi suku Sanger lama “berkebun berpagar hutan.” Baginya, hutan bukan tempat liar yang harus ditaklukkan, melainkan rumah yang dirawat dan dihormati. 

“‘Tawe karunusang kawe kang seng surelahe’ (tidak pernah lapar, semua kebutuhan sudah ada di sekitar), makan tinggal bakar ubi dan rebus,” katanya sambil tersenyum. 

Di kebun kecilnya, Opa Eping menanam keladi, singkong, pisang, sayur, cabai, pala, dan masih banyak lagi. Dia juga memelihara ayam kampung dan babi yang hanya dijual jika ada pendaki atau warga kampung yang datang mencari. Semua tanaman di kebunnya tumbuh subur tanpa pupuk kimia, hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun, seperti menabur abu sisa pembakaran kayu sebagai pupuk alami.

Sementara itu, ternaknya tumbuh besar dan sehat hanya memanfaatkan sumber alam di sekitarnya, seperti daun-daunan, sisa sayur, atau sagu. Segala kebutuhan dasarnya dia ambil secukupnya dari sekitar, tanpa merusak. 

“Orang Sanger tidak pernah mencari (makan) setelah lapar karena sudah tahu apa yang harus dimakan hari ini dan esok,” ucapnya.

Selain kebun dan ternak, air juga tidak pernah menjadi masalah. Opa mengandalkan tiga mata air yang mengalir tenang di sekitar tempat tinggalnya. Di setiap mata air, dia menanam pandan. 

“Orang tua (roh-roh) dulu suka yang wangi. Jadi ditanam pandan supaya bidadari mau jaga air itu,” ujarnya. 

Baginya, mata air bukan sekadar sumber air minum, melainkan tempat sakral yang harus dirawat. Dengan rajin, dia membersihkannya dari rumput dan dedaunan untuk memastikan air tetap jernih dan mengalir.

“Kalau mata air rusak, manusia juga ikut rusak,” kata Opa pelan tapi tegas.

Dia memahami bahwa air berasal dari akar pohon yang mengikat dengan tanah. Oleh karena itu, pohon-pohon besar di sekitar mata air tidak boleh ditebang. Bahkan rotan pun yang ikut menjaga kelembapan tanah, hanya dipanen saat tua—untuk dijadikan keranjang bukan dibuang percuma.

Opa Eping bukan sosok biasa. Dia adalah paman dari Annius Dadoali, penemu kembali burung manu’ niu atau seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi) yang sempat dinyatakan punah selama lebih dari satu abad. Menurut IUCN 2024, burung tersebut kini berstatus Kritis atau Critically Endangered

Rumah dan kebun Opa di dalam hutan kerap menjadi tempat persinggahan para pendaki, wisatawan, atau peneliti yang ingin melihat burung seriwang sangihe secara langsung. Darah konservasi dan kecintaan pada alam tampaknya memang mengalir dalam keluarganya. Namun, beberapa tahun terakhir, bayang-bayang ancaman datang dari luar. Rencana penambangan emas yang berdampak pada hutan. 

Rumah Opa Eping (Foto: Burung Indonesia)

“‘Tawe bungkalangeng seng merusak, napariung bongkareng marusa teruse.’ (Sedangkan tidak buka saja sudah banyak kerusakan, apalagi setelah dibuka), sebentar mau terangkat (terseret banjir) gereja di bawah,” kata Opa tegas. 

Jika ada yang ingin memberli lahannya, dia langsung menolak. Biarpun ditawar dengan harga yang melambung, Opa tidak tergiur. 

“Tidak mau kasih. Biar mahal, di sini ada tanaman banyak. Kalau mau cari emas, masih harus menggali dan tergantung mujur. Kalau mau cari pala tinggal naik, risikonya hanya jatuh,” ucapnya. 

Bagi Opa Eping, hutan bukan ladang spekulasi, melainkan tempat hidup yang sudah pasti memberi. Dalam dirinya tercermin filosofi suku Sanger lama “berkebun berpagar hutan.” Sebuah cara hidup yang memelihara alam, bukan menghabiskannya.

Melindungi hutan memiliki banyak manfaat yang dirasakan Opa. Selain bisa memenuhi kebutuhannya, melindungi hutan juga merupakan melindungi masyarakat di pemukiman dari bencana alam. Longsor dan banjir bandang mengingatkan betapa pentingnya menjaga alam. Di tahun 2001, delapan orang anggota keluarganya meninggal terseret banjir. Bagi Opa, hutan adalah benteng alami yang harus dijaga.

Beberapa kali sanak saudara hingga pemerintah desa mengajaknya untuk turun dari gunung dan tinggal bersama masyarakat lainnya di pemukiman. Namun, Opa merasa tidak nyaman dan bingung mau melakukan apa jika tinggal di sana. Baginya, hutan adalah tempat yang paling cocok untuk hidup sesuai dengan kearifan lokalnya yang sudah terjalin sejak lama.

Opa Eping bersama para pendaki (Foto: Burung Indonesia)

Apa yang dijalani Opa Eping bukan sekadar bertahan hidup, tapi sebuah bentuk ketahanan dan kedaulatan pangan yang utuh. Dia adalah perwujudan dari konsep hidup suku Sanger yang tak memisahkan manusia dengan alam. Bagi mereka, menjaga hutan berarti menjaga hidup. Di tengah masalah global yang terus mencari solusi atas krisis ekologis dan pangan, Opa Eping menunjukkan bahwa jawabannya ada di dalam hutan, bersama kearifan leluhur. Di masa krisis iklim dan ketergantungan ekonomi global, kisah Opa Eping menjadi sebuah pengingat bagi kita. Ternyata ada cara hidup yang tidak merusak dan sederhana. 

Naskah oleh Angga Yoga