Sarang burung bangau storm (Ciconia storm) atau Storm’s Stork ditemukan setelah lebih dari satu dekade, tepatnya pada 30 Juli 2024 di area hutan rawa Hutan Harapan, Jambi. Sarang yang berbentuk oval terlihat menyelinap di antara ranting-ranting pohon. Saat ditemukan, seekor anak bangau storm tengah bertengger di pinggir sarang. Melenggok ke kanan dan ke kiri sehingga keberadaannya masih dapat terekam kamera.
“Sarang itu ditemukan oleh tim Hutan Harapan dan mahasiswa yang membersihkan jalur untuk dijalani tim pemantauan esok harinya. Letaknya di pohon tinggi yang terdeteksi karena di bawahnya ada kotoran khas burung,” kata ornitolog Bas van Balen beberapa waktu lalu.
Tadinya, sarang tersebut diduga milik burung elang. Namun, setelah diamati, ternyata itu adalah sarang bangau storm. Temuan sarang bangau storm terjadi selama survei Hutan Harapan dilakukan pada 16 Juli-9 Agustus 2024. Para pemantau yang ikut terdiri dari ornitolog asal Belanda Bas van Balen, tim Hutan Harapan, mahasiswa dan sukarelawan.
“Saat saya ke sana, ada seekor anak burung bangau yang sudah besar dan berdiri di atas sarangnya. Lalu pada 9 Agustus, tim Hutan Harapan pergi ke tempat sarang lagi, tetapi tidak menemukan anak bangau. Mereka menemukan harimau sumatra yang tersembunyi,” ujarnya.

Bangau storm (Foto: Fadlurrahman/Hutan Harapan)
Temuan sarang itu menjadi temuan ilmiah terbaru sarang bangau storm di Sumatra sejak temuan ilmiah pertamanya pada 1989 di Sumatra. Secara historis, bangau storm tersebar di kawasan Asia Tenggara. Mereka hanya dapat ditemukan di Thailand, Myanmar, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Di Indonesia, bangau storm tersebar di Sumatra dan Kalimantan. Tubuhnya berwarna hitam legam mendiami hutan dataran rendah dan hutan rawa gambut. Hutan tempat bangau storm bersarang dipenuhi ribuan pohon besar, tempat mereka menyembunyikan sarang dari dunia luar. Hingga saat ini, masih belum diketahui pasti habitat yang memberikan kehidupan optimal bagi bangau storm.
Untuk mencari mangsa, bangau storm melangkah perlahan di tepian sungai berlumpur. Matanya tajam mengikuti pergerakan permukaan air—seekor katak mungil menjadi sarapan sempurna bagi anak-anaknya yang menunggu di sarang tinggi. Paruhnya yang melengkung memudahkannya menyambar katak. Selain katak, mereka juga makan ikan kecil, larva serangga air, dan cacing tanah. Sekitar 2-3 km, sang induk pergi membawa hasil tangkapannya dan memuntahkannya ke bagian bawah sarang agar dapat dimakan dengan mudah oleh anak mereka.
Bangau storm merupakan burung setia karena hanya memiliki satu pasangan (monogami). Selain setia, burung jantan dan betina saling merawat anak-anak mereka di sarang. Biasanya, burung betina bertelur antara dua hingga empat butir per periode.
Sayangnya, populasi bangau storm terus menurun, termasuk di Indonesia. Saat ini, bangau storm berstatus Endangered atau Genting. Menurut DataZone BirdLife International, populasi bangau storm secara global 300-1.750 ekor.
Di tengah populasi yang sedikit, bangau storm tidak terlepas dari ancaman yang dibuat manusia. Berdasarkan DataZone BirdLife International, selama 1992-2023, spesies ini diduga mengalami penurunan populasi sebesar 40-60%. Salah satu penyebab utamanya adalah pembukaan hutan dataran rendah secara luas menjadi perkebunan kelapa sawit (Berdie 2008). Tindakan ini telah menyebabkan kerugian besar pada hutan rawa gambut yang menjadi habitat bangau storm (Miettinen et al. 2011). Meskipun spesies ini telah diamati di habitat yang terdegradasi, tidak ada bukti bahwa mereka dapat bertahan di perkebunan dan perkembangbiakannya hanya diamati di hutan primer (Martin et al. 2022). Selain itu, kebakaran hutan juga menjadi ancaman, terutama pada periode El Niño (Harrison et al. 2016). Tidak ada bukti pula bahwa penurunan populasi bangau storm akibat perburuan, kecuali untuk kebutuhan bertahan hidup yang hampir pasti terjadi.

Bangau storm (Foto: Fadlurrahman/Hutan Harapan)
Dampak besar dari deforestasi hutan adalah penurunan keragaman mangsa fauna air tawar setelah penebangan hutan. Hilangnya air tawar nantinya akan mengurangi ketersediaan makanan bagi bangau storm saat mereka mencari makan. Pembangunan jalan melalui hutan juga menciptakan masalah baru, seperti erosi tanah. Pada akhirnya, itu akan mengurangi keanekaragaman mangsa air tawar.
Saat ini, daerah bersarang yang diketahui di Indonesia adalah Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Sedangkan untuk populasi di Thailand, belum lama ini diketahui hanya dari dua catatan, sepasang yang bersarang pada 1986 dan dua burung di Suaka Margasatwa Klong Saeng pada April 2004.
Karena gempuran ancaman terhadap populasinya, pemerintah Indonesia menetapkan bangau storm sebagai spesies yang dilindungi pemerintah melalui Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Upaya konservasi perlu dilakukan untuk melestarikan bangau storm. Oleh karena itu, adanya Hutan Harapan sebagai hutan tropis dataran rendah menjadi tempat perlindungan bagi spesies yang terancam punah.
Dengan adanya upaya restorasi ekosistem yang terus berlanjut, diharapkan dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi hutan, satwa liar, dan manusia. Melindungi hutan berarti melindungi bangau storm dan semua flora-fauna di sana. Mari kita jaga agar burung karismatik ini tetap dapat menjelajah hutan-hutan Indonesia.
