Area Urban dan Pengaruhnya terhadap Migrasi Burung

10 Mei, 2025

Setiap tahun, burung meruaya melintasi berbagai penjuru di dunia untuk bertahan hidup. Saat belahan Bumi utara sudah memasuki musim dingin, burung mulai mengembara menuju belahan Bumi selatan. Begitu pula sebaliknya untuk mencari persediaan makanan dan bereproduksi. Pengembaraan ini dikenal sebagai migrasi burung atau migratory bird

Indonesia yang terletak di Asia Tenggara dan garis khatulistiwa, merupakan wilayah penting bagi burung migran. Ada tiga jenis burung migran yang dapat ditemukan di Indonesia, yaitu burung air, burung darat, dan burung pemangsa. Beberapa spesies burung migran seperti jalak cina (Agropsar sturninus), kowak melayu (Gorsachius melanolophus), cikrak kutub (Phylloscopus borealis), sikatan bubik (Muscicapa dauurica), dan layang-layang api (Hirundo rustica) pernah dijumpai di kawasan perkotaan di Indonesia. Mereka dapat terbang jarak jauh hingga belasan ribu kilometer.

Kowak melayu (Foto: Burung Indonesia/Jacob Wijpkema)

Perjalanan panjang nan jauh mereka tidak terlepas dari beberapa rintangan, seperti tempat mereka singgah. Di tengah hiruk perkotaan dan bisingnya suara kendaraan, ribuan burung migran sedang melintasi langit. Banyaknya gedung tinggi, padatnya area pemukiman, hingga minimnya area terbuka hijau menjadi ancaman bagi burung migran.

Menurut studi yang diterbitkan Global Ecology and Biogeography (2024), sebagian besar spesies burung di dunia, empat dari lima, tidak dapat berkembang sepenuhnya di lingkungan yang didominasi oleh manusia. Urbanisasi memiliki dampak negatif pada keragaman burung secara keseluruhan di kota. Schneiberg et al. (2020) menemukan jumlah spesies burung di suatu area berkurang di daerah perkotaan.

Tabrakan dengan kaca di kawasan perkotaan merupakan salah satu ancaman bagi burung migran. Data dari NABU mengungkapkan, ada 100 juta burung yang mati per tahun di Jerman akibat tabrakan dengan kaca di kawasan perkotaan. Sementara di Amerika Serikat, lebih dari satu miliar burung mati setiap tahun karena tabrakan dengan bangunan. Saat terbang, burung sangat rentan terhadap tabrakan dengan struktur yang transparan atau reflektif. 

Berdasarkan studi dari Michigan State University (2021), gedung bertingkat di perkotaan, terutama yang berdinding kaca bening, kerap memantulkan bayangan langit atau pepohonan di sekitarnya. Ilusi ini membuat burung migran tertipu hingga menabrak bangunan.

Pada malam hari, masalah ini kian parah, ketika banyak burung migran terbang dengan mengandalkan bintang sebagai panduan arah. Sayangnya, cahaya buatan dari kota menciptakan polusi cahaya yang mengacaukan navigasi burung migran sehingga mereka tersesat atau berputar-putar kelelahan tanpa arah.

Selain dinding gedung bertingkat, polusi suara juga berpengaruh terhadap perjalanan burung yang bermigrasi. Sebab, polusi suara dapat menyamarkan atau mengganggu suara burung untuk menarik perhatian lawan jenis, menetapkan wilayah, atau memperingatkan bahaya. Hal ini juga dapat memengaruhi jadwal dan tingkat keberhasilan reproduksi burung. Temuan studi yang diterbitkan National Library of Medicine (2019), menyebutkan, di Munich, Jerman, anak burung zebra finch yang lahir di daerah dengan kebisingan lalu lintas konstan memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan anak burung yang lahir dari induk di lokasi yang lebih tenang. 

Layang-layang api (Foto: Burung Indonesia)

Menurut PBB, 55% populasi manusia global tinggal di daerah perkotaan. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 68% pada 2050. Perluasan area perkotaan secara cepat dapat mengurangi habitat alami yang mengurangi tempat burung migran untuk beristirahat, makan, dan berkembang biak. Tanpa ruang hijau, kota hanya jadi koridor kosong bagi burung migran yang kelelahan. Kota bisa menjadi “perangkap” migrasi burung, tempat mereka singgah tapi tidak bisa kembali ke tempat asalnya atau bahkan tidak selamat. 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merancang dan mengelola lingkungan perkotaan yang ramah bagi burung dan manusia. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi ancaman bagi burung migran di perkotaan, seperti:

1.Edukasi publik

Berkolaborasi dengan organisasi masyarakat dan stake holder terkait untuk mengedukasi publik tentang burung migran. Pengetahuan dan kolaborasi ini dapat menciptakan dan memulihkan habitat mereka. 

2.Perencanaan kota berkelanjutan 

Perencanaan kota berkelanjutan yang terhubung dengan penciptaan ruang hijau terbuka penting diperhatikan karena keduanya berpengaruh terhadap persediaan habitat alami bagi burung yang bermigrasi untuk mereka bersarang, makan, dan mencari tempat berlindung. 

3.Perbanyak tanaman 

Kembalikan alam di kota dengan tanaman asli. Sebab, tanaman buatan akan mengganggu ekosistem dan sumber daya yang dibutuhkan burung untuk bertahan hidup. Jika ada lahan kosong di tempat kamu tinggal, kamu bisa menanam beberapa tanaman. Tindakan sederhana ini dapat memberikan tempat bagi burung migran untuk berlindung sekaligus mendukung penyerbuk seperti kupu-kupu dan lebah. 

4.Jadikan jendela kamu aman bagi burung

Sudah banyak burung mati karena tabrakan dengan kaca setiap tahun. Oleh karena itu, kamu bisa mengganti material kaca dengan kaca film, gorden, atau kaca berpola (patterned glass) untuk mencegah burung mengira pantulannya sebagai langit terbuka. Bangunan yang sudah ada dapat dilengkapi dengan material-material tersebut dan bangunan baru dapat direncanakan agar lebih ramah bagi burung. 

5.Matikan lampu jika tidak diperlukan

Cahaya buatan dapat mengganggu pola migrasi burung dan bisa mematikan. Kamu bisa gunakan lampu yang terlindungi (shielded lamp), lampu yang mengarah ke bawah (downward-facing lights), dan matikan lampu jika tidak diperlukan pada malam hari. Selain membantu burung migran, kamu juga menghemat listrik. 

Lima langkah kecil di atas merupakan upaya kecil untuk membantu burung migran di tengah wilayah perkotaan yang terus meluas tiap tahunnya. Selamat Hari Migrasi Burung Sedunia! Yuk, bantu burung bermigrasi di perkotaan!